Ekspor kopi dan arang tempurung oleh dua Koperasi Desa Merah Putih menjadi langkah awal pembukaan akses pasar luar negeri bagi komoditas dari kawasan perdesaan.
JAKARTA – Komoditas dari desa mulai mendapat akses ke pasar internasional setelah dua Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes) melakukan ekspor perdana ke Mesir dan Tiongkok. Koperasi Desa (Kopdes) Sidomulyo di Jember, Jawa Timur, mengirim 20 ton kopi ke Mesir senilai USD90 ribu atau sekitar Rp1,61 miliar, sedangkan Kopdes Awunio di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, mengekspor 50 ton arang tempurung ke Tiongkok senilai Rp734,5 juta.
Langkah tersebut menunjukkan potensi ekonomi desa tidak hanya berhenti pada pasar domestik. Komoditas yang dikelola pelaku usaha perdesaan mulai diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar luar negeri melalui pendampingan pemerintah.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan program Desa Bisa Ekspor tidak hanya ditujukan bagi Kopdes. Pelaku usaha lain yang menjalankan aktivitas ekonomi di desa, termasuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), koperasi, serta Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), juga dapat memperoleh dorongan untuk memasuki pasar ekspor, sebagaimana diberitakan Metro TV, Selasa, (22/09/2026).
Budi menjelaskan Kementerian Perdagangan (Kemendag) membantu pelaku usaha desa mencari pembeli dari luar negeri melalui business matching dengan perwakilan perdagangan Indonesia di berbagai negara.
“Bagaimana mereka (pelaku usaha) walaupun dari desa, tapi dia tau caranya ekspor, caranya mendapatkan buyer. Karena sebenarnya ekspor itu kuncinya buyer. Tapi bagaimana mendapat buyer itu tidak mudah, makanya kita terutama untuk desa dan UMKM ini kita fasilitasi melalui business matching dengan perwakilan kita di luar negeri,” ucap Budi di sela acara peresmian National Export Gateway di Jakarta, Selasa, 22 September 2026.
Menurut Budi, kemampuan memperoleh pembeli menjadi salah satu kunci agar produk dari desa dapat masuk dan bertahan di pasar internasional. Karena itu, pendampingan tidak hanya diarahkan pada kemampuan produksi, tetapi juga mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli dari negara tujuan.
Selain dua Kopdes tersebut, sejumlah koperasi petani juga telah melakukan ekspor. Koperasi di Jembrana, Bali, mengekspor kakao fermentasi senilai Rp2,4 miliar ke Prancis. Koperasi Produsen Gunung Luhur Berkah di Bandung mengekspor kopi ke Tiongkok dan Maroko senilai Rp4 miliar, sedangkan Koperasi Produsen Lereng Kelir di Magelang mengekspor 17 ton green bean kopi ke Dubai.
Kemendag telah mengidentifikasi sekitar 2.600 desa yang memiliki potensi ekspor. Jumlah tersebut menjadi sasaran pengembangan program Desa Bisa Ekspor melalui pendampingan dan pembukaan akses pasar internasional.
Pengembangan ekspor berbasis desa diharapkan dapat memperluas perputaran ekonomi di tingkat lokal. Dengan semakin banyak produk desa yang terserap pasar luar negeri, koperasi, UMKM, BUMDes, dan pelaku usaha berbasis komoditas lokal memiliki peluang memperluas kegiatan ekonomi sekaligus meningkatkan nilai produk yang dihasilkan masyarakat. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara