Kerajinan Dayak Tembus Pasar, Pelatihan Elviana Berdayakan 1.000 Orang

Melalui pelatihan lebih dari 1.000 peserta dan pemasaran dalam Festival Hudoq Pekayang, Elviana Ping mendorong kerajinan tradisional menjadi warisan budaya sekaligus sumber penghasilan masyarakat.

MAHAKAM ULU – Kerajinan tradisional berbahan manik-manik dan anyaman rotan mulai menunjukkan potensi sebagai sumber penghasilan masyarakat sekaligus sarana pelestarian budaya lokal. Melalui kegiatan pelatihan dan pemasaran dalam festival budaya, Elviana Ping berupaya memperluas keterampilan masyarakat agar warisan leluhur tetap hidup dan memiliki nilai ekonomi.

Upaya tersebut telah dijalankannya sejak 2016. Berawal dari permintaan sejumlah masyarakat Kalimantan Utara (Kaltara) untuk memberikan pelatihan kepada kaum perempuan, Elviana kemudian mengembangkan kegiatan pemberdayaan melalui pengajaran pembuatan berbagai kerajinan tradisional.

Peserta pelatihannya berasal dari beragam kalangan, mulai dari kelompok perempuan, pelajar, mahasiswa, hingga instansi pemerintah. Dari kegiatan tersebut, Elviana kemudian membentuk komunitas perempuan kreatif bernama Letut Udep di Pampang, Samarinda.

Komunitas itu menjadi wadah bagi masyarakat yang ingin mempelajari keterampilan membuat kerajinan sekaligus memahami filosofi motif dan proses pembuatannya.

Elviana menjelaskan, setiap jenis kerajinan membutuhkan waktu dan tahapan pengerjaan berbeda. Pembuatan aksesori sederhana seperti gelang dan kalung dapat dipelajari dalam sehari, sedangkan pakaian adat memerlukan proses lebih panjang.

“Kalau hanya membuat gelang dan kalung, cukup sehari pelatihannya. Tapi kalau membuat baju adat, butuh waktu berminggu-minggu. Harus mulai dari memilih bahan, membuat motif, menjahit, hingga memasang aksesori,” tutur Elviana sambil menghias bluko.

Hingga kini, lebih dari 1.000 orang telah mengikuti pelatihan yang diselenggarakannya. Sejumlah peserta bahkan mampu mengembangkan keterampilan tersebut secara mandiri. Dua orang di Kaltara telah menjalankan kegiatan kerajinan setelah mengikuti pelatihannya, sementara 10 orang di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) masih aktif memproduksi berbagai kerajinan.

Pengembangan keterampilan tersebut juga menyasar generasi muda. Pada awal Oktober 2026, Elviana bersama komunitasnya memberikan pelatihan kepada 300 mahasiswa di Lamin Pampang. Kegiatan itu menjadi salah satu upaya memperkenalkan kerajinan tradisional agar tidak terputus dari generasi penerus.

Potensi ekonomi dari keterampilan tersebut terlihat dalam Festival Hudoq Pekayang yang berlangsung pada 20–22 Oktober 2026 di Kampung Long Pahangai II, Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu).

Festival yang diikuti pengunjung dari 13 kampung di Kecamatan Long Pahangai, berbagai daerah lainnya, hingga Malaysia itu tidak hanya menyajikan pertunjukan budaya. Kegiatan tersebut juga menyediakan ruang pemasaran bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memperkenalkan sekaligus menjual produk unggulan masyarakat.

Berbagai produk kerajinan dipasarkan dengan harga yang bervariasi. Gelang manik-manik dijual sekitar Rp20.000, sedangkan dompet anyaman rotan ditawarkan dengan harga Rp150.000 hingga Rp180.000. Adapun bluko, topi tari adat yang membutuhkan waktu berhari-hari untuk dibuat, dapat mencapai harga Rp900.000 per buah.

Bagi Elviana, keikutsertaan dalam festival tersebut memberikan kesempatan untuk memperoleh penghasilan sekaligus memperluas jangkauan pemasaran kerajinan tradisional.

“Saya bersyukur, tiap hari ada saja yang beli. Lumayan, dapat seribu [sejuta] lebih setiap harinya,” kata Elviana.

Dampak kegiatan tersebut tidak hanya dirasakan para perajin. Kehadiran lebih dari 3.000 pengunjung selama festival turut membuka peluang bagi pedagang makanan tradisional, pemilik warung, dan toko kelontong untuk meningkatkan aktivitas usaha mereka.

Camat Long Pahangai, Thomas Ding, menilai festival budaya memiliki manfaat lebih luas daripada sekadar mempertahankan tradisi. Kegiatan tersebut juga menjadi sarana memperkenalkan potensi produk lokal kepada pengunjung dari berbagai daerah.

“Festival ini bukan hanya untuk pelestarian budaya, tapi juga momen istimewa mengenalkan beragam produk khas daerah,” ujarnya.

Dukungan terhadap pengembangan ekonomi berbasis budaya juga disampaikan Bupati Mahakam Ulu (Mahulu), Angela Idang Belawan. Menurutnya, kegiatan budaya dapat menjadi salah satu penggerak perekonomian masyarakat apabila dikembangkan bersama sektor pariwisata dan usaha lokal.

“Pengembangan festival budaya diharapkan tidak hanya menjaga keberlangsungan warisan leluhur, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi warga melalui meningkatnya kunjungan wisatawan dan aktivitas usaha masyarakat,” ujar Angela.

Ia berharap kegiatan budaya tidak hanya terpusat pada penyelenggaraan festival tahunan, tetapi dapat dikembangkan menjadi bagian dari aktivitas wisata sepanjang tahun. Dengan demikian, wisatawan memiliki kesempatan lebih luas untuk mengenal kehidupan masyarakat di sepanjang Sungai Mahakam, mempelajari tradisi, serta membeli produk kerajinan lokal.

Keterlibatan generasi muda juga menjadi perhatian dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya. Angela mengingatkan pentingnya memahami sejarah dan asal-usul tradisi agar kecintaan terhadap kebudayaan daerah tumbuh dari kesadaran generasi penerus.

“Pelajari asal-usul budaya kita. Saya yakin ketika anak-anak muda sudah mempelajari sejarahnya, mereka akan mencintai dan melestarikan budaya leluhur ini,” pesannya.

Pengalaman Elviana menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Melalui pelatihan, pengembangan komunitas, dan pemasaran dalam kegiatan pariwisata, kerajinan tradisional berpeluang menjadi sumber penghasilan sekaligus mempertahankan identitas budaya lokal. Ke depan, kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, perajin, dan generasi muda diharapkan mampu memperluas pasar produk lokal serta menjaga keberlangsungan keterampilan tradisional. []

Redaksi 01

About redaksi01

Check Also

157 Desa Kreatif Trenggalek Didorong Jadi Motor Ekonomi Baru

PDF 📄TRENGGALEK – Sebanyak 157 desa kreatif di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur (Jatim), didorong menjadi …

Baru 85 KDMP Beroperasi, Bojonegoro Perkuat Kompetensi Pengurus Koperasi

PDF 📄Bojonegoro telah membangun 396 gedung KDMP dari 430 desa dan kelurahan, tetapi baru 85 …

TNI Perkuat Pembangunan Desa Lewat Gerakan Gotong Royong

PDF 📄Melalui komunikasi sosial bersama tokoh masyarakat, Babinsa Koramil 0321-01/Bangko mendorong keterlibatan warga dalam rencana …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *