Dari Tembakau hingga Kuda Kepang, Warisan Bagelen Tetap Terjaga

Kebiasaan masyarakat perintis dan kesenian seperti wayang kulit serta Kuda Kepang Kijang Kencana menjadi bagian dari warisan budaya Desa Bagelen yang terus dipelihara lintas generasi.

PESAWARAN – Jejak kehidupan masyarakat perintis Desa Bagelen, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, masih terlihat melalui kebiasaan dan kesenian yang diwariskan lintas generasi. Selain ruwatan desa, warisan tersebut tercermin dari kebiasaan masyarakat pada masa awal transmigrasi hingga keberadaan kelompok Kuda Kepang Kijang Kencana.

Sesepuh desa sekaligus mantan Sekretaris Desa Bagelen era 1990-an, Mbah Jono, mengatakan kehidupan warga sejak awal pembukaan wilayah permukiman pada 1905 tidak terlepas dari kebiasaan yang dibawa para perintis dari Pulau Jawa.

Salah satu kebiasaan tersebut adalah menanam tembakau di pekarangan rumah. Hasilnya kemudian diolah sendiri menjadi rokok lintingan dengan campuran kelembak dan menyan.

“Dulu hampir seluruh pekarangan rumah ditanami tembakau. Hasilnya diracik sendiri dengan campuran kelembak dan menyan, lalu disimpan dalam tempat khusus bernama selepen,” ujar Jono, sebagaimana diberitakan Tribunlampung, Senin (21/9/2026).

Kebiasaan masyarakat pada masa itu juga mencakup tradisi nginang yang dilakukan kaum perempuan dengan mengunyah daun sirih, kapur, dan pinang. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari interaksi sosial masyarakat, termasuk di kalangan pekerja perkebunan pada masa kolonial Hindia Belanda.

Warisan budaya lainnya berkembang melalui kesenian yang hingga kini masih menjadi bagian dari kegiatan masyarakat. Ruwatan desa yang digelar setiap tahun bertepatan dengan ulang tahun desa menjadi salah satu ruang pertemuan warga sekaligus tempat mempertahankan kesenian tradisional.

“Ruwatan biasanya menjadi bagian dari kegiatan masyarakat ketika ulang tahun desa. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi warga untuk berkumpul dan memanjatkan doa bersama demi keselamatan wilayah,” kata Mbah Jono.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, warga dapat menyaksikan pertunjukan wayang kulit dan Kuda Kepang. Kesenian Kuda Kepang di Bagelen juga memiliki sejarah yang berkaitan dengan generasi awal masyarakat transmigran.

Kelompok kesenian yang kini dikenal sebagai Kijang Kencana tersebut sebelumnya bernama Merpati Putih. Kelompok itu didirikan Mbah Wir atau Riman, salah seorang warga transmigran generasi awal, sebelum kemudian diteruskan oleh generasi berikutnya.

“Nama awalnya dulu Merpati Putih. Dalam perkembangannya, kelompok ini dipegang oleh generasi berikutnya hingga berganti nama menjadi Kijang Kencana,” tutur Jono.

Keberadaan kesenian tersebut menunjukkan bahwa warisan budaya di Bagelen tidak hanya bertahan melalui ritual tahunan, tetapi juga melalui kelompok seni dan kebiasaan masyarakat yang terus dikenalkan kepada generasi berikutnya.

Ruwatan sendiri tetap menjadi bagian dari kehidupan sosial warga. Kegiatan tersebut diawali dengan doa bersama sebagai bentuk rasa syukur dan permohonan keselamatan, kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan kesenian yang melibatkan masyarakat.

Konsistensi masyarakat mempertahankan kebiasaan dan kesenian tersebut membuat sejarah kehidupan warga Bagelen sejak pembukaan permukiman pada 1905 tetap memiliki jejak dalam kehidupan sosial desa. Warisan itu diharapkan terus dipelihara tanpa menghilangkan nilai kebersamaan yang telah terbentuk selama beberapa generasi. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Menjelajah Bugisan, Dari Candi Plaosan hingga Sawah

PDF 📄KLATEN – Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, menawarkan pengalaman wisata yang …

Desa Jurumapin Rawat Kesenian Sakeco Lewat Festival Budaya

PDF 📄SUMBAWA – Festival Ai Mangkung di Desa Jurumapin, Kecamatan Buer, Kabupaten Sumbawa, menjadi ruang …

Dedikasi Dewi Selama 15 Tahun Dampingi Nasabah Mikro BRI

PDF 📄LAMPUNG SELATAN – Pendampingan langsung kepada pelaku usaha mikro menjadi bagian dari upaya Dewi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *