Ratusan Warga Saksikan Gebug Ende di Festival Budaya Seraya

Seraya Culture Fest ke-5 menghadirkan Gebug Ende sebagai tradisi leluhur yang terus diwariskan kepada generasi muda sekaligus memperkenalkan budaya dan produk lokal kepada pengunjung.

KARANGASEM – Keterlibatan anak-anak dalam pementasan Gebug Ende menjadi salah satu penanda upaya masyarakat Desa Adat Seraya menjaga keberlanjutan tradisi leluhur. Pelestarian budaya tersebut kembali ditampilkan melalui penyelenggaraan Seraya Culture Fest (SCF) ke-5 di Lapangan Ki Kopang, Desa Seraya, Kabupaten Karangasem, Bali, Kamis (05/11/2026).

Ratusan warga memadati lokasi pembukaan festival untuk menyaksikan pertunjukan Gebug Ende. Antusiasme penonton tidak hanya datang dari masyarakat setempat, tetapi juga pengunjung dari luar desa hingga wisatawan asing.

Kehadiran peserta anak-anak dalam pementasan turut memperlihatkan bahwa tradisi tersebut mulai diperkenalkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Keterlibatan lintas usia dinilai penting agar Gebug Ende tidak hanya menjadi tontonan, tetapi tetap dikenal sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Seraya.

Dalam pertunjukan, dua peserta dengan postur tubuh relatif seimbang saling berhadapan dan menggunakan penyalin atau rotan. Pementasan berlangsung hingga salah satu peserta menyerah. Tradisi ini memiliki makna lebih luas bagi masyarakat setempat karena secara turun-temurun juga dijalankan sebagai sarana memohon hujan ketika musim kemarau.

Bendesa Adat Seraya I Made Salin mengingatkan masyarakat, terutama generasi muda, agar terus menjaga tradisi tersebut di tengah perubahan zaman. Ia menyebut Gebug Ende Seraya telah memperoleh pengakuan dari dua kementerian.

“Tradisi Gebug Ende Seraya telah mendapatkan pengakuan dari dua kementerian, yakni Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Hukum dan HAM,” kata Salin.

Menurut dia, pengakuan tersebut menjadi salah satu alasan bagi masyarakat Desa Adat Seraya untuk semakin memperkuat tanggung jawab bersama dalam melestarikan warisan budaya. Sebagaimana diberitakan Detikbali, Kamis (05/11/2026), Salin juga menyampaikan apresiasi kepada panitia yang telah bekerja sama menyelenggarakan festival hingga memasuki tahun kelima.

“Semoga tradisi Gebug Ende Seraya tetap eksis dan terus dilestarikan sebagai warisan budaya leluhur yang kita miliki bersama,” harap Salin.

SCF ke-5 berlangsung selama tiga hari, mulai 5 hingga 7 November 2026. Selain pertunjukan Gebug Ende, agenda festival mencakup hiburan musik dan pameran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Rangkaian kegiatan tersebut diharapkan memperluas ruang pengenalan budaya Seraya sekaligus memberi kesempatan bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan produk mereka kepada pengunjung. []

Redaksi 01

About redaksi01

Check Also

Kedua kutipan langsung dipertahankan tanpa perubahan.

PDF 📄Bupati Garut mengingatkan 421 kepala desa agar mengelola anggaran lebih dari Rp154 miliar secara …

Pemdes Taro Libatkan Banyak Unsur untuk Bersihkan Jalan Pascahujan

PDF 📄Pemdes Taro mengagendakan gotong royong lintas unsur untuk membersihkan material sisa hujan di jalur …

Gerai KDMP Berpeluang Jadi Klinik Pendukung Puskesmas

PDF 📄Ombudsman RI menilai pengembangan gerai KDMP menjadi klinik pratama berpotensi memperluas akses layanan kesehatan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *