PESAWARAN – Potensi pertanian Lampung mulai diarahkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga menjadi sumber energi dan bahan baku industri melalui pembangunan Bioethanol Development Center di Desa Kota Agung, Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran. Fasilitas tersebut ditargetkan memulai produksi skala percontohan pada Desember 2026.
Pembangunan pusat pengembangan bioetanol itu menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem yang menghubungkan sektor pertanian, riset, teknologi, industri, dan energi. Pengembangannya melibatkan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), PT Pertamina New & Renewable Energy, Toyota Group, Universitas Lampung, pemerintah daerah, serta sejumlah mitra.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan kekuatan Lampung sebagai daerah agraris perlu dikembangkan melalui pengolahan hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah. Menurutnya, langkah tersebut dapat membuka ruang baru bagi sektor pertanian sekaligus memperkuat ketahanan energi.
“Pertanian bukan lagi hanya menghasilkan pangan, tetapi juga energi. Bukan hanya menjual hasil panen, tetapi juga menciptakan industri. Dan bukan hanya menggerakkan ekonomi Lampung, tetapi ikut memperkuat ketahanan energi nasional,” ujar Mirza sebagaimana diberitakan RMOL Lampung, Senin, (14/09/2026).
Pusat bioetanol tersebut memanfaatkan potensi berbagai komoditas pertanian Lampung. Sekitar 27 persen struktur ekonomi daerah ditopang sektor pertanian, sementara produksi ubi kayu mencapai sekitar 7,5 juta ton dan menempatkan Lampung di peringkat pertama nasional.
Selain ubi kayu, Lampung memiliki produksi padi sekitar 3,5 juta ton gabah kering giling, jagung sekitar 1,7 juta ton, serta tebu dengan produksi sekitar 724 ribu ton gula kristal putih. Potensi itu membuka peluang penggunaan berbagai bahan baku atau multi-feedstock dalam pengembangan bioetanol.
“Apa yang kita mulai di Lampung hari ini adalah bagian dari langkah besar Indonesia menuju kemandirian energi,” katanya.
Pengembangan sorgum juga menjadi bagian dari ekosistem tersebut. Rangkaian kegiatan dirancang mulai dari pengembangan benih, budidaya, mekanisasi pertanian, pengolahan biomassa, produksi bioetanol hingga produk turunannya.
“Komoditas pertanian tidak boleh berhenti sebagai bahan mentah. Ia harus menjadi sumber nilai tambah. Ia harus menjadi sumber investasi. Ia harus menjadi sumber lapangan pekerjaan,” tegasnya.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu mengatakan pengembangan bioetanol di Lampung bertumpu pada empat pilar, yakni ketahanan energi, hilirisasi, transisi dan bauran energi, serta ketahanan ekonomi nasional.
Menurut Todotua, bioetanol diarahkan menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap bensin yang konsumsi nasionalnya mencapai 36 juta kiloliter per tahun. Pemilihan Lampung juga berkaitan dengan potensi riset biomassa yang telah berkembang di daerah tersebut.
“Waktu saya lihat plan di Jepang kapasitas 60.000, saya ketemu dengan orang-orang risetnya, mereka tahu Lampung. ‘Enzim yang kita pakai di sini, kita risetnya di Lampung. Sorgum yang kita tanam di sini, bibitnya dari Lampung dan kita riset di Lampung, kita bawa.’ Saya bilang tinggi betul. Di Jepang bisa buat begini, masa negara saya nggak bisa buat?,” ungkap Todotua.
Pemerintah juga menjadikan pengembangan bioetanol di Brasil sebagai salah satu referensi. Negara tersebut disebut mampu memproduksi sekitar 38 juta kiloliter bioetanol per tahun dari singkong, jagung, dan sorgum. Produk samping pengolahannya dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak, gas biometana, hingga pupuk organik.
Untuk tahap awal, Bioethanol Development Center Tegineneng dibangun dengan kapasitas percontohan 60 kiloliter. Fasilitas itu didukung lahan percontohan atau demplot seluas 10 hektare untuk menguji keekonomian bioetanol generasi pertama berbasis singkong dan sorgum serta generasi kedua yang menggunakan limbah biomassa hortikultura dan ampas tebu.
“Development Center ini kita bangun untuk kita mengukur dari sisi komersialisasinya, berapa harga kompetitif cost-nya yang bisa kita dapat. Karena yang namanya energi transisi, tantangan paling besarnya itu berbicara mengenai harga, cost. Target tahun depan kita dorong masuk skala komersial 60.000 kiloliter,” tegas Todotua.
Skema pengembangan juga diarahkan melibatkan kelompok tani dan koperasi sebagai pemasok bahan baku. Model tersebut diharapkan menciptakan hubungan antara petani sebagai penyedia bahan baku dan fasilitas pengolahan sebagai pembeli hasil produksi.
“Harapannya kita juga bisa menyerap singkong dari masyarakat. Ada nilai tambah, tidak hanya untuk keripik atau tepung. Konsep koperasi pun bisa kita jalankan menjadi hub untuk mengumpulkan material feedstock-nya, pabrik ini offtaker-nya. Jadi ekosistemnya sangat luar biasa dan sangat nyambung,” tutur Todotua.
Dalam peluncuran tersebut dilakukan penandatanganan kesepakatan pengembangan agribisnis ketahanan energi dan pangan antara PT Pertamina New and Renewable Energy dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung. Selain itu, dilakukan penandatanganan nota kesepahaman mengenai pengkajian potensi teknis dan komersial produksi serta pemanfaatan bioetanol berkelanjutan di Indonesia.
Pembangunan pusat bioetanol ditandai dengan penuangan semen perdana dan penanaman bibit sorgum di lahan percontohan seluas 10 hektare. Proyek tersebut diharapkan menjadi pijakan untuk menguji kelayakan teknologi dan keekonomian sebelum dikembangkan menuju skala komersial.
“Dari tanah Lampung, kita siap memimpin Indonesia menuju kedaulatan pangan, kemandirian energi, dan kemakmuran rakyat berkelanjutan,” pungkas Mirza. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara