KUNMING – Pengembangan kopi dari tingkat budi daya hingga pemasaran menjadi perhatian lebih dari 20 pejabat desa asal Indonesia saat mengunjungi Perkebunan Kopi Puteng di Desa Chengganhe, Puwen, Kota Jinghong, Provinsi Yunnan, Tiongkok, Sabtu (12/9/2026). Kunjungan tersebut membuka peluang kerja sama untuk membawa biji kopi Indonesia ke pasar Tiongkok dan mengolahnya lebih lanjut di Yunnan.
Para pejabat desa mempelajari sejumlah tahapan pengelolaan kopi, mulai dari teknik budi daya, pengolahan biji, penyangraian, pengemasan, hingga pemasaran. Mereka juga melihat langsung penerapan teknologi pengolahan serta sistem pengelolaan air di perkebunan tersebut.
Adamal Tampubolon, Kepala Desa (Kades) Hutagodang, Provinsi Sumatera Utara, menjadi salah satu peserta yang menaruh perhatian pada pengolahan kopi. Ia melihat proses pengembangan kopi di Yunnan sebagai pembelajaran yang dapat diterapkan untuk membantu masyarakat desanya.
“Desa kami terdampak parah oleh banjir di Sumatera tahun lalu, dan rumah-rumah kami mengalami kerusakan berat. Saat ini, kami sedang membangun kembali,” ujar Adamal Tampubolon sebagaimana diberitakan Antara, Selasa, (15/09/2026).
Menurut Adamal, meskipun bencana berdampak pada kehidupan masyarakat, perkebunan kopi di wilayah perbukitan tetap mampu bertahan. Karena itu, ia ingin mempelajari cara komunitas petani di Yunnan meningkatkan nilai tambah hasil perkebunan melalui pengolahan dan pemasaran.
Di Perkebunan Kopi Puteng, peserta dapat melihat rangkaian produksi dari buah kopi hingga menjadi berbagai produk siap konsumsi. Buah kopi diproses dan disangrai sebelum diolah menjadi espreso, kopi instan berperisa, hingga minuman beralkohol dengan cita rasa kopi.
Fasilitas tersebut juga menerapkan prosedur produksi yang terstandardisasi. Sistem daur ulang air tertutup digunakan untuk mengolah kembali air limbah sehingga proses produksi tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga memperhatikan efisiensi penggunaan sumber daya.
Malik, salah satu peserta dari Indonesia, menilai persoalan pengembangan kopi di desa bukan hanya terletak pada kualitas hasil panen. Kemasan, merek, dan pemasaran juga menentukan kemampuan produk untuk memperoleh harga yang lebih tinggi.
“Indonesia memiliki banyak jenis kopi yang berbeda, masing-masing dengan karakteristiknya sendiri. Kopi luwak, misalnya, merupakan produk yang khas, dan kopi yang diproduksi di desa-desa dapat memiliki kualitas yang sangat baik. Namun, kemasannya tidak cukup menarik, sehingga sulit menjualnya dengan harga yang baik,” kata Malik. Dia berharap kunjungan itu akan membantu mereka mempelajari cara Yunnan mengembangkan kemasan, merek, dan pemasaran kopi, sehingga kopi berkualitas tinggi dapat dijual dengan harga yang lebih baik.
Peluang kerja sama kemudian mulai terbentuk dalam kunjungan tersebut. Manajer umum Puteng Trading Co., Ltd., Daodelong, yang sebelumnya pernah mempelajari industri kopi Indonesia, menyampaikan ketertarikannya terhadap kualitas biji kopi serta ketekunan petani Indonesia.
Daodelong dan Tampubolon mencapai kesepakatan awal untuk membawa biji kopi Indonesia ke pasar Tiongkok agar dapat diproses lebih lanjut di Yunnan.
“Ke depannya, akan ada produk kopi yang memadukan cita rasa Indonesia dan China,” ujar Daodelong.
Yunnan sendiri dikenal sebagai provinsi penghasil kopi terbesar di Tiongkok. Pengembangan industri selama bertahun-tahun telah membentuk rantai usaha yang mencakup pembibitan, budi daya, pengolahan, hingga penjualan. Pengembangan tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan produksi kopi istimewa atau specialty coffee serta produk kopi olahan.
Puwen yang berada di bagian utara Kota Jinghong memiliki kondisi iklim yang mendukung budi daya kopi arabika. Dalam beberapa tahun terakhir, wilayah tersebut mengembangkan sektor kopi secara terpadu dengan menghubungkan perkebunan, pengolahan, pemasaran, pariwisata, dan budaya kopi.
Data setempat mencatat perkebunan kopi di Puwen mencapai 34.790 mu atau sekitar 2.319 hektare. Kawasan tersebut menghasilkan sekitar 26.500 ton buah kopi segar setiap tahun dengan nilai produksi sekitar 480 juta yuan.
Bagi para pejabat desa Indonesia, kunjungan tersebut tidak berhenti pada pengamatan teknik budi daya. Pengalaman Yunnan memperlihatkan bahwa peningkatan nilai ekonomi kopi dapat dilakukan dengan menghubungkan hasil perkebunan dengan industri pengolahan, pengemasan, merek, serta pasar.
Kerja sama awal antara pelaku industri Yunnan dan perwakilan desa Indonesia diharapkan menjadi langkah lanjutan untuk memperkuat nilai tambah kopi dari desa. Pertukaran pengalaman tersebut juga membuka peluang agar komoditas kopi Indonesia tidak hanya dijual sebagai biji mentah, tetapi dapat berkembang menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara