MOJOKERTO – Pengolahan ubi jalar dan ubi kayu menjadi tepung berbasis teknologi hijau mulai dikembangkan di Desa Selotapak, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur (Jatim). Inovasi tersebut tidak hanya menghasilkan tepung ubi jalar, tepung cassava, dan tepung mocaf, tetapi juga membuka peluang terbentuknya rantai usaha dari petani hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pengembangan dilakukan melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) skema Pemberdayaan Mitra-Usaha Produk Unggulan Daerah (PM-UPUD) yang berlangsung pada 2024-2026. Tim dari Universitas Surabaya dan Universitas Muhammadiyah Surabaya menggandeng UKM Aneka Camilan Ria di Desa Selotapak yang dikelola Nanik Riasih.
Inovasi ini dikembangkan di tengah penurunan luas lahan dan produksi komoditas ubi di Mojokerto. Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Mojokerto 2025-2029, luas lahan ubi kayu menyusut dari 479 hektare pada 2022 menjadi 322 hektare pada 2024. Pada periode yang sama, luas lahan ubi jalar turun dari 2.578 hektare menjadi 1.507 hektare.
Penurunan juga terlihat pada hasil panen. Produksi ubi kayu berkurang dari 13.183 ton pada 2022 menjadi 8.217 ton pada 2024, sedangkan produksi ubi jalar turun dari 89.256 ton menjadi 54.271 ton.
Kondisi tersebut mendorong pengembangan industri hilir agar hasil pertanian tidak berhenti sebagai komoditas mentah. Sebagaimana diberitakan Surya, Sabtu, (12/09/2026), tim pengabdian menilai pengolahan menjadi tepung dapat meningkatkan nilai ekonomi ubi lokal.
“Penguatan industri hilir seperti pengolahan tepung dari ubi jalar dan ubi kayu menjadi langkah strategis untuk mendongkrak nilai tambah komoditas ini,” demikian salah satu poin yang disampaikan tim dalam kajiannya.
Di Desa Selotapak, konsep tersebut diterapkan melalui pembangunan rumah produksi berukuran 5 meter x 8 meter. Fasilitas itu dilengkapi mesin perajang, mesin penepung, mesin pengayak, mesin pengemas, serta mesin spinner untuk memeras bahan.
Kebutuhan energi peralatan tersebut ditopang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) on-grid berkapasitas 2.200 watt. Rumah produksi juga dilengkapi rumah pengering atau UV greenhouse dryer berukuran 3 meter x 6 meter.
Teknologi pengering tersebut memanfaatkan panas matahari melalui struktur greenhouse yang dilapisi plastik ultraviolet (UV). Metode ini membantu proses pengeringan irisan ubi menjadi lebih cepat dan stabil sekaligus mengurangi paparan debu, serangga, dan polusi udara.
Dari fasilitas tersebut, UKM Aneka Camilan Ria dapat menghasilkan tiga jenis tepung, yakni tepung ubi jalar, tepung cassava, dan tepung mocaf. Tepung ubi jalar diproduksi melalui tahapan pengirisan, pengeringan, penggilingan, hingga pengayakan.
Pengolahan itu memungkinkan warna alami ubi jalar tetap dipertahankan. Ubi jalar ungu, kuning, maupun putih dapat diolah menjadi tepung tanpa tambahan pewarna sintetis.
Sementara itu, tepung cassava dibuat dengan memanfaatkan bagian daging ubi kayu secara utuh. Produk tersebut berbeda dengan tapioka yang diperoleh melalui proses ekstraksi sari pati singkong.
Produk lainnya adalah mocaf atau modified cassava flour. Tepung tersebut dibuat melalui fermentasi dengan bakteri asam laktat yang mengubah karakter alami singkong.
“Mocaf diproses melalui fermentasi mikroba menggunakan bakteri asam laktat,” jelas tim dalam kajiannya.
Hasil pengolahan membuat mocaf memiliki warna lebih putih dan tekstur lebih halus. Daya kembang adonan juga disebut mendekati karakter tepung terigu. Ketiga jenis tepung tersebut berasal dari umbi-umbian dan tidak menggunakan gandum sehingga menjadi alternatif produk bebas gluten.
Pemanfaatan hasil produksi kemudian diperluas ke berbagai pangan olahan. Tepung mocaf digunakan untuk membuat cookies dan nastar, sedangkan tepung ubi jalar ungu dimanfaatkan sebagai bahan brownies.
Pelaku UKM keripik di Trawas juga menggunakan tepung cassava dan mocaf untuk membuat Cassava Roll, produk sejenis semprong atau egg roll. Pemanfaatan tersebut memperlihatkan bahwa tepung lokal dapat menjadi bahan baku bagi produk pangan lain.
Pengembangan produk turunan sekaligus membuka peluang terbentuknya ekosistem usaha yang menghubungkan petani sebagai pemasok bahan baku, produsen tepung, dan pelaku UMKM sebagai pengolah produk akhir.
“Keberadaan rumah produksi tepung yang berkelanjutan berhasil membentuk ekosistem ekonomi terpadu dari hulu ke hilir,” tulis tim dalam kajiannya.
Program tersebut didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Inovasi pengolahan ubi juga ditempatkan sebagai salah satu alternatif untuk memperkuat pemanfaatan pangan lokal. Tim mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) terkait impor tepung gandum yang menunjukkan peningkatan dalam tiga tahun terakhir. Pada 2025, nilai impor yang ditampilkan dalam kajian mendekati 40 juta dolar AS dengan volume sekitar 111 ribu ton.
“Inovasi mocaf dan tepung ubi berbasis green technology di Trawas adalah bukti nyata bahwa solusi atas tantangan makro tersebut bisa dimulai dari tingkat desa,” tulis tim dalam kajiannya.
Pengolahan berbasis energi surya dan teknologi pengeringan diharapkan dapat menjadi model yang diterapkan di wilayah lain dengan komoditas ubi. Dari tingkat desa, hasil pertanian tersebut berpeluang dikembangkan menjadi bahan baku dan produk pangan siap jual sehingga memberikan nilai tambah lebih besar bagi rantai usaha lokal. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara