SEMARANG – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) menargetkan pembentukan 1.000 desa wisata dan kampung wisata baru di 35 kabupaten/kota sepanjang 2026 guna memperkuat ekonomi desa berbasis pariwisata. Kabupaten Banyumas menjadi salah satu daerah dengan target terbesar, yakni pembentukan 40 desa wisata baru.
Program tersebut disiapkan melalui sinergi antara Pemprov Jateng dan pemerintah daerah dengan fokus pengembangan potensi desa secara terpadu. Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jateng Hanung Triyono mengatakan, pembentukan desa wisata diarahkan untuk menciptakan pusat ekonomi baru sekaligus membuka lapangan pekerjaan di pedesaan.
“Iya, target paling banyak di tiga kabupaten tersebut,” kata Hanung Triyono terkait Kabupaten Semarang, Magelang, dan Klaten yang masing-masing mendapat target 50 desa wisata, sebagaimana diberitakan Tribun Banyumas, Jumat (15/05/2026).
Selain tiga daerah tersebut, Banyumas mendapat alokasi 40 desa wisata, sementara sejumlah kabupaten lain seperti Cilacap, Jepara, Demak, Kudus, dan Purbalingga ditargetkan membentuk 30 desa wisata baru. Untuk wilayah perkotaan, pengembangan dilakukan dalam bentuk kampung wisata dengan target antara lima hingga delapan kampung wisata di masing-masing kota.
Hanung menjelaskan, pengembangan desa wisata dilakukan melalui pendampingan dan pembinaan bersama Dinas Pariwisata kabupaten/kota. Pemerintah juga menyusun program kolaborasi agar desa mampu mengelola potensi wisata secara berkelanjutan.
“Kami melakukan pendampingan dan pembinaan kepada calon desa wisata atau kampung wisata tersebut,” ujarnya.
Menurut Hanung, masyarakat perlu memahami perbedaan antara wisata desa dan desa wisata. Wisata desa hanya berfokus pada aktivitas wisata di wilayah desa, sedangkan desa wisata mengintegrasikan seluruh potensi desa menjadi paket wisata yang melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama.
“Desa itu wajib memiliki paket wisata yang terintegrasi dengan mengemas keunikan sumber daya desa dan fasilitas pendukung seperti homestay serta kuliner lokal sehingga wisatawan merasakan pengalaman yang unik dan autentik,” paparnya.
Ia menambahkan, program 1.000 desa wisata diharapkan memperkuat posisi Jateng sebagai destinasi wisata unggulan yang berkelanjutan dengan keterlibatan aktif masyarakat desa.
“Kami juga ingin, Jawa Tengah memiliki positioning kuat sebagai daerah unggulan destinasi wisata yang maju dan berkelanjutan dengan mendorong keterlibatan peran aktif masyarakat desa,” tuturnya.
Meski demikian, Pemprov Jateng masih menghadapi tantangan terkait efisiensi anggaran pemerintah pusat. Pembahasan kebutuhan anggaran pengembangan desa wisata saat ini masih dalam tahap pengusulan bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD).
“Terkait anggaran, saat ini kami masih dalam tahap pengusulan yang nantinya akan dibahas lebih lanjut dengan TAPD,” katanya.
Hanung optimistis target tersebut tetap dapat direalisasikan melalui kolaborasi pentahelix bersama akademisi, praktisi, pemerintah daerah, komunitas, dan pelaku usaha pariwisata. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara