RANTAU – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tapin, Kalimantan Selatan (Kalsel), menargetkan pengurangan volume sampah desa hingga 50 persen melalui pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat. Program tersebut dijalankan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tapin dengan melibatkan warga Desa Ayunan Papan, karang taruna, serta pengelola bank sampah guna mengurangi timbunan sampah rumah tangga yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).
Program pengurangan sampah itu diwujudkan melalui lokakarya pengelolaan sampah terpadu yang digelar di kawasan Integrated Farm System Desa Ayunan Papan, Kabupaten Tapin, Rabu (15/5/2026). Kegiatan tersebut difokuskan pada edukasi pemilahan sampah rumah tangga, pengolahan sampah organik, hingga pemanfaatan maggot sebagai solusi pengurangan limbah organik.
Jabatan Fungsional (JF) Pengendali Dampak Lingkungan Bagian Pengurangan Sampah DLH Tapin, Hadi Rahman, mengatakan pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga menjadi langkah penting untuk menekan penumpukan sampah di TPA.
“Melalui workshop ini kami memberikan edukasi terkait pengelolaan sampah terpadu, mulai dari pemilahan sampah rumah tangga hingga pemanfaatan maggot (larva) untuk mengurangi volume sampah organik,” ujar Hadi Rahman di Rantau, Jumat (15/5/2026), sebagaimana diberitakan Antara, Jumat (15/05/2026).
Menurut Hadi, pola pengelolaan sampah berbasis masyarakat dinilai lebih efektif karena warga terlibat langsung dalam proses pemilahan dan pemanfaatan limbah rumah tangga. Sampah organik yang sebelumnya dibuang kini dapat dimanfaatkan sebagai pakan maggot, sedangkan sampah lain diolah menjadi produk bernilai ekonomis.
“Kami berharap sampah bisa berkurang hingga 50 persen karena sudah dipilah dan dimanfaatkan langsung oleh masyarakat di desa,” katanya.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dukungan terhadap program Aku Hatinya PKK 2026 dengan Desa Ayunan Papan mewakili Kabupaten Tapin pada tingkat Provinsi Kalsel.
Sementara itu, Sekretaris Desa (Sekdes) Ayunan Papan, Fathul Hidayat, menilai edukasi pengelolaan sampah memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesadaran masyarakat menjaga kebersihan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warga desa.
“Ini sangat bermanfaat untuk menjaga kebersihan lingkungan. Sampah yang sebelumnya dianggap tidak berguna ternyata bisa dimanfaatkan menjadi pupuk maupun kerajinan,” ujarnya.
Fathul berharap pelatihan pengelolaan sampah dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat semakin mandiri dalam mengelola limbah rumah tangga dan mampu meningkatkan nilai ekonomi desa melalui pengolahan sampah terpadu. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara