Pemerintah Sabah mendorong pengrajin gong tradisional di Desa Sumangkap mengembangkan desain modern tanpa meninggalkan identitas budaya untuk memperluas peluang ekonomi masyarakat pedesaan.
MALAYSIA – Desa Sumangkap di Matunggong, Negara Bagian Sabah, Malaysia, didorong menjadi pusat industri kerajinan gong tradisional yang mampu menjangkau pasar internasional. Pemerintah setempat meminta para pengrajin mengembangkan inovasi produk dan desain modern agar warisan budaya masyarakat desa dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih besar.
Dorongan tersebut disampaikan Ketua Menteri Sabah Hajiji Noor dalam sambutan pembukaan Festival Gong Tingkat Negara Bagian Sabah 2026 di Balai Terbuka Kota Baru Matunggong, Sabtu (24/10/2026).
Dalam sambutannya, Hajiji menegaskan bahwa keterampilan membuat gong yang diwariskan secara turun-temurun merupakan potensi ekonomi kreatif yang harus dikembangkan tanpa menghilangkan keunikan budaya masyarakat setempat.
“Karena itu, kita harus memastikan Desa Sumangkap tetap menjadi pusat industri pembuatan gong. Saya menyerukan kepada para pembuat gong dan semua pihak yang terlibat dalam industri alat musik tradisional agar terus berinovasi,” ujar Hajiji.
Ia juga mendorong para pengrajin menyesuaikan desain produk dengan perkembangan selera konsumen sehingga kerajinan tradisional dapat menjangkau pasar yang lebih luas.
“Pertahankan keunikan warisan ini sambil mengeksplorasi desain modern yang sesuai dengan selera masa kini dan berpotensi menjangkau pasar internasional,” katanya.
Sambutan Hajiji dalam kegiatan tersebut dibacakan oleh Menteri Pembangunan Perempuan, Kesehatan, dan Kesejahteraan Rakyat Sabah sekaligus anggota Dewan Undangan Negeri Matunggong, Julita Majungki.
Menurut Hajiji, Desa Sumangkap telah dikenal sebagai kawasan penghasil gong tradisional. Keterampilan para pengrajin setempat menjadi bukti bahwa warisan budaya dapat terus bertahan apabila mendapat perhatian dan dukungan berkelanjutan.
Pengembangan industri gong dinilai tidak cukup hanya mengandalkan keterampilan pengrajin yang telah lama berkecimpung dalam usaha tersebut. Keterlibatan generasi muda juga diperlukan untuk menjaga kesinambungan produksi dan pewarisan pengetahuan.
Pemerintah Sabah menilai regenerasi pengrajin merupakan bagian penting dalam mempertahankan industri alat musik tradisional sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat desa.
Selain pengembangan produk, pariwisata budaya dipandang memiliki potensi untuk memperluas sumber pendapatan masyarakat, terutama di kawasan pedesaan.
Keberagaman seni dan budaya etnis di Sabah menjadi daya tarik wisata yang dapat dikembangkan melalui kegiatan kebudayaan, promosi kerajinan, serta keterlibatan masyarakat lokal.
Hajiji menyampaikan bahwa pemerintah negara bagian berkomitmen menjadikan kebudayaan sebagai salah satu penggerak industri pariwisata sesuai agenda ekonomi dalam Rencana Pembangunan Sabah Maju Jaya (SMJ).
Festival Gong Sabah 2026 menjadi salah satu sarana memperkenalkan keterampilan pengrajin dan kekayaan budaya masyarakat Matunggong kepada pengunjung dari dalam maupun luar negeri.
Menurut Hajiji, festival tersebut tidak hanya diselenggarakan sebagai pertunjukan kesenian, tetapi juga menjadi wadah pelestarian tradisi dan penguatan hubungan sosial masyarakat yang berasal dari berbagai kelompok etnis dan agama.
Selama beberapa generasi, gong digunakan dalam berbagai upacara adat dan perayaan panen masyarakat Sabah. Alat musik tersebut memiliki peran penting dalam kehidupan budaya sekaligus menjadi simbol kebersamaan.
“Selama beberapa generasi, bunyi gong telah mengiringi upacara adat dan perayaan panen, sekaligus mempersatukan masyarakat dari berbagai latar belakang,” ujar Hajiji.
Festival tahun ini mengusung tema Echoes of the Gong, the Spirit of Culture atau “Gema Gong, Semangat Budaya”.
Tema tersebut menekankan pentingnya menjaga identitas budaya, menghargai keberagaman, dan mewariskan keterampilan tradisional kepada generasi mendatang.
Hajiji berharap dukungan pemerintah, masyarakat, dan pelaku industri kerajinan dapat memastikan Desa Sumangkap tetap berkembang sebagai pusat produksi gong tradisional.
“Mari kita bekerja sama memastikan bunyi gong Matunggong terus bergema sebagai simbol warisan, kebanggaan, dan kesinambungan budaya kita,” katanya.
Melalui inovasi desain, pelibatan generasi muda, dan pengembangan pariwisata budaya, kerajinan gong Desa Sumangkap diharapkan dapat terus bertahan sebagai warisan tradisional sekaligus menjadi sumber peluang ekonomi bagi masyarakat pedesaan di Sabah. []
Redaksi
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara