Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman meminta Disnakertrans segera berkoordinasi dengan investor proyek gasifikasi batu bara dan kawasan ekonomi Maloy agar tenaga kerja lokal dapat memanfaatkan peluang kerja dari investasi senilai sekitar Rp71 triliun.
ADVERTORIAL – Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman menginstruksikan Kepala Dinas (Kadis) Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) segera berkoordinasi dengan perusahaan yang berencana menanamkan investasi di Kutim. Langkah tersebut bertujuan mempersiapkan tenaga kerja lokal agar dapat memanfaatkan peluang kerja dari dua proyek investasi dengan nilai gabungan sekitar Rp71 triliun.
Instruksi itu disampaikan Ardiansyah pada malam puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kutim di Gedung Serba Guna Bukit Pelangi, Sabtu (24/10/2026).
Menurut Ardiansyah, dua investasi besar tersebut meliputi pembangunan fasilitas gasifikasi batu bara menjadi metanol senilai sekitar Rp41 triliun dan rencana investasi sebesar Rp30 triliun di kawasan ekonomi Maloy.
Ia menjelaskan, pembangunan fasilitas gasifikasi batu bara telah diawali dengan peletakan batu pertama beberapa bulan sebelumnya. Metanol yang dihasilkan direncanakan menjadi bagian dari pengembangan energi yang berkaitan dengan bahan bakar berbasis minyak sawit B50.
“Dan itu tidak sedikit investasinya, sekitar 41 triliun,” kata Ardiansyah.
Selain proyek gasifikasi, Ardiansyah mengungkapkan adanya rencana investasi di kawasan ekonomi Maloy. Berdasarkan informasi yang diterimanya, penandatanganan terkait investasi senilai Rp30 triliun tersebut telah dilakukan di tingkat provinsi pada 21 Oktober 2026.
Kedua proyek itu diperkirakan mulai memasuki tahap produksi pada 2029 atau 2030. Jika terlaksana sesuai rencana, investasi tersebut berpotensi memperkuat kontribusi Kutim terhadap perekonomian nasional.
“Dua-duanya ini akan segera berproduksi, informasinya sekitar 2029 atau 2030. Itu artinya di tahun tersebut Kutai Timur memberikan kontribusi kepada negara dengan investasi yang besar,” ujarnya.
Meski nilai investasinya mencapai puluhan triliun rupiah, Ardiansyah menekankan bahwa keberhasilan pembangunan industri tidak cukup hanya diukur dari besarnya modal yang masuk. Menurutnya, investasi harus memberikan manfaat langsung terhadap perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.
“Bagaimana investasi itu memberikan dampak positif terhadap perkembangan ekonomi kerakyatan, terhadap kesejahteraan masyarakat Kabupaten Kutai Timur,” tegasnya.
Karena itu, Ardiansyah meminta Disnakertrans tidak menunggu hingga perusahaan mulai beroperasi untuk membangun komunikasi dengan pihak investor.
“Jangan kita hanya melihat ada perusahaan, tapi kita hanya berdiam diri. Lakukan dengan segera komunikasi,” ucapnya.
Koordinasi tersebut dinilai penting untuk mengetahui kebutuhan tenaga kerja perusahaan serta langkah yang perlu dipersiapkan pemerintah daerah agar masyarakat Kutim memiliki kesempatan untuk bekerja pada proyek-proyek tersebut.
Selain membuka peluang penyerapan tenaga kerja, kehadiran investasi besar juga diharapkan menciptakan dampak ekonomi berantai melalui meningkatnya kegiatan usaha dan aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar kawasan industri.
Ardiansyah berharap Disnakertrans bersama pihak terkait dapat bergerak lebih cepat dalam mempersiapkan kebutuhan tenaga kerja sehingga investasi yang direncanakan mulai berproduksi pada 2029 atau 2030 benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat Kutim. []
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara