BANJAR – Pemanfaatan aset desa menjadi kegiatan pertanian produktif mulai dikembangkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mitra Raharja Sejahtera di Desa Raharja, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar, melalui budidaya anggur dalam rumah kaca. Program yang dimulai pada November 2025 itu memanfaatkan lahan bekas budidaya melon dan diarahkan untuk membuka peluang usaha pertanian sekaligus memperluas pemasaran hasil panen.
Direktur BUMDes Mitra Raharja Sejahtera, Yudi Gunawan, menjelaskan bahwa budidaya yang berlokasi di Dusun Randegan tersebut menggunakan lahan rumah kaca berukuran 17 x 9 meter. Di area itu, pengelola menanam 24 pohon anggur yang terdiri atas tiga varietas, yakni anggur hijau, ungu, dan merah.
Pengembangan usaha tersebut tidak hanya berfokus pada produksi buah, tetapi juga menerapkan pemupukan organik. Menurut Yudi, seluruh tanaman dirawat tanpa pupuk kimia sintetis dengan memanfaatkan pupuk organik dan racikan konsentrat tanaman organik yang disebut PCO.
“Kami berkomitmen menjaga kualitas dan keamanan pangan. Tanaman anggur ini sepenuhnya dirawat secara organik tanpa bahan kimia sintetis,” ujar Yudi kepada Times Indonesia, Minggu (25/10/2026).
Untuk menunjang perawatan tanaman, BUMDes juga bekerja sama dengan tenaga ahli yang berpengalaman dalam budidaya anggur lokal. Pendampingan tersebut mencakup teknik pemeliharaan dan pemangkasan cabang agar tanaman berkembang sesuai kebutuhan teknis budidaya.
Dari sisi produksi, setiap pohon diperkirakan mampu menghasilkan hingga enam kilogram anggur dalam satu periode panen. Dengan jumlah 24 pohon, potensi produksi diproyeksikan mencapai 144 kilogram atau sekitar 1,44 kuintal apabila seluruh tanaman mencapai hasil tersebut.
Sebelumnya, pengelola memperkirakan produksi dapat melampaui 1,2 kuintal. Angka tersebut merupakan proyeksi, bukan hasil panen aktual yang telah dikonfirmasi.
Yudi menjelaskan, tanaman anggur dapat dipelihara untuk menghasilkan buah dalam siklus berulang tanpa harus ditanam kembali dari awal setelah setiap panen, selama batang utama dan perawatannya dijaga dengan baik.
“Keunggulan tanaman anggur adalah tidak memerlukan penanaman ulang dari awal setelah panen. Selama batang utamanya dirawat dengan baik, setelah dipangkas kembali (pruning), produksi buah pada siklus berikutnya justru bisa lebih bagus dan melimpah,” jelasnya.
Dari sisi pemasaran, harga anggur kualitas rumah kaca disebut berkisar Rp80.000 hingga Rp90.000 per kilogram, bergantung pada varietas. Pengelola telah menyiapkan jalur pemasaran melalui pasar lokal, toko buah regional, serta jejaring distribusi yang menjangkau Kota Bandung.
Jaringan pemasaran tersebut menjadi salah satu aspek penting untuk mendukung keberlanjutan usaha, terutama ketika produksi meningkat. Namun, potensi pendapatan tetap bergantung pada hasil panen aktual, kualitas buah, biaya operasional, dan realisasi penjualan.
Pengembangan budidaya anggur ini juga diharapkan menjadi dasar bagi pengembangan wisata edukasi pertanian atau agrowisata di Kota Banjar. Jika dikelola secara berkelanjutan, pemanfaatan aset desa tersebut berpeluang memperluas kegiatan usaha BUMDes sekaligus memperkuat peran ekonomi desa melalui pertanian produktif. []
Redaksi02
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara