Masyarakat Zomi di Negara Bagian Chin mempertahankan Festival Khuado Pawi sebagai perayaan berakhirnya musim pertanian sekaligus sarana mewariskan budaya dan memperkuat persatuan masyarakat.
MYANMAR – Tradisi masyarakat Zomi yang diperkirakan telah berlangsung lebih dari 600 tahun masih dipertahankan di kawasan Pegunungan Chin, Myanmar. Melalui Festival Khuado Pawi, masyarakat setempat merayakan berakhirnya musim pertanian sekaligus menyambut tahun baru dengan doa untuk keberhasilan panen, kedamaian, dan persatuan.
Perayaan tradisional tersebut kembali diselenggarakan di Hakha, ibu kota Negara Bagian Chin, Sabtu (24/10/2026), dengan menghadirkan pertunjukan budaya, tarian tradisional, doa bersama, dan berbagai makanan khas masyarakat Zomi.
Festival Khuado Pawi memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat agraris yang sejak dahulu menggantungkan penghidupan pada siklus pertanian di wilayah perbukitan Myanmar.
Bagi masyarakat Zomi, berakhirnya musim bercocok tanam bukan hanya menjadi penanda selesainya kegiatan pertanian tahunan, melainkan juga momentum untuk mensyukuri hasil kerja masyarakat sepanjang tahun.
Perayaan tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk memanjatkan doa agar musim pertanian berikutnya berlangsung dengan cuaca yang baik, hasil panen melimpah, serta kehidupan masyarakat yang damai.
Berdasarkan catatan sejarah yang dikutip Myanmar International TV, Festival Khuado Pawi diperkirakan telah dikenal sejak sekitar abad ke-14, ketika komunitas Zomi mulai menetap di kawasan Pegunungan Chin.
Dengan demikian, tradisi tersebut diperkirakan telah diwariskan selama lebih dari enam abad dan tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat setempat.
Dalam perayaan tahun 2026, Ketua Menteri Negara Bagian Chin Vung Suan Thang hadir bersama sejumlah pejabat pemerintah negara bagian.
Rangkaian kegiatan diawali dengan nyanyian pembukaan dan doa, kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan tarian tradisional serta penampilan kesenian masyarakat Zomi.
Para pejabat pemerintah turut menyampaikan sambutan mengenai pentingnya menjaga keberlanjutan festival sebagai bagian dari warisan budaya daerah.
Dalam sambutannya, Vung Suan Thang menegaskan bahwa Khuado Pawi merupakan salah satu perayaan tradisional terpenting bagi masyarakat Zomi.
Festival tersebut mencerminkan penghargaan terhadap pencapaian masyarakat selama satu tahun sekaligus harapan untuk kehidupan yang lebih baik pada tahun berikutnya.
Ia juga mengajak masyarakat mempertahankan praktik budaya yang diwariskan para leluhur sambil tetap menerima gagasan dan perkembangan kehidupan modern.
Menurutnya, pelestarian tradisi perlu berjalan seiring dengan perubahan zaman agar nilai-nilai budaya tetap dipahami dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Setelah rangkaian acara resmi, Vung Suan Thang bersama para tamu mengikuti tarian tradisional dan menikmati hidangan khas yang disajikan dalam perayaan.
Kegiatan tersebut memperlihatkan bagaimana festival tidak hanya menjadi ruang pertunjukan budaya, tetapi juga sarana mempererat hubungan sosial antarmasyarakat.
Bagi komunitas Zomi, Khuado Pawi menjadi pengingat bahwa tradisi pertanian, doa, kesenian, dan kebersamaan merupakan bagian dari warisan budaya yang saling berkaitan.
Keberlanjutan festival hingga saat ini menunjukkan bahwa masyarakat setempat masih mempertahankan tradisi agraris yang telah diwariskan selama berabad-abad di tengah perkembangan kehidupan modern.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara