Disdikbud Kutim mengembangkan riset dan buku sejarah daerah sebagai literasi pendamping untuk memperkaya pembelajaran mulok Bahasa Kutai di jenjang SD dan SMP.
ADVERTORIAL – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tengah mengembangkan riset dan buku sejarah daerah untuk memperkaya materi pembelajaran muatan lokal (mulok) di jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Buku tersebut diproyeksikan menjadi literasi pendamping bagi kurikulum Bahasa Kutai yang telah diterapkan di sekolah selama dua tahun terakhir.
Pengembangan materi sejarah daerah menjadi langkah lanjutan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutim setelah kurikulum dan buku mulok Bahasa Kutai disusun, dicetak, serta didistribusikan ke sekolah-sekolah. Kehadiran materi pendamping diharapkan membuat pembelajaran tidak hanya berfokus pada kemampuan berbahasa, tetapi juga memperluas pemahaman peserta didik terhadap sejarah dan kebudayaan daerah.
Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Disdikbud Kutim, Ilham, mengatakan buku sejarah yang tengah dikembangkan akan melengkapi bahan pembelajaran yang telah tersedia.
“Jadi buku ini nanti akan memperkaya literasi daripada buku muatan lokal. Buku muatan lokal kan sudah tersedia, nanti ini akan menjadi semacam pendamping untuk memperkaya literasi di muatan lokalnya,” pungkas Ilham.
Menurut Ilham, fondasi pembelajaran mulok di sekolah sebenarnya telah tersedia. Disdikbud Kutim telah memiliki kurikulum dan buku Bahasa Kutai untuk jenjang SD maupun SMP yang kemudian didistribusikan ke satuan pendidikan.
“Memang muatan lokal Kutai Timur itu buku kurikulumnya sudah terbentuk, sudah jadi kurikulum, sudah jadi bukunya. Jadi buku muatan lokal SD, muatan lokal SMP itu sudah terbentuk, sudah kita cetak, dan sudah disebarkan ke sekolah. Makanya Pemerintah Kabupaten Kutai Timur itu salah satu pemerintah kabupaten yang sudah diterima oleh Pak Bupati sebagai pemerintah daerah yang berhasil memelihara dan melestarikan bahasa daerah,” ujar Ilham ke awak media di Gedung Serba Guna Sangatta, Selasa (22/09/2026).
Pemkab Kutim saat ini memilih Bahasa Kutai sebagai fokus utama mulok di sekolah. Program tersebut telah dilaksanakan secara intensif melalui Disdikbud Kutim dalam dua tahun terakhir sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungan bahasa daerah melalui pendidikan formal.
“Di sekolah-sekolah ini kita memilih muatan lokal itu bahasa daerah, yaitu bahasa daerah Kutai. Kalau terkait dengan muatan lokal itu, sudah dua tahun terakhir ini sangat masif kita laksanakan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan,” jelasnya
Dengan pengembangan buku sejarah sebagai materi pendamping, pembelajaran mulok diharapkan memiliki cakupan yang lebih luas, mulai dari bahasa hingga pengetahuan mengenai perjalanan sejarah dan kebudayaan lokal. Langkah tersebut sekaligus diarahkan untuk memperkuat keterhubungan generasi muda Kutim dengan identitas daerah melalui lingkungan pendidikan. []
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara