Kebo Bule Diarak, Tradisi Dam Bagong Jadi Simbol Syukur Petani

TRENGGALEK – Tradisi larung sesaji kepala kerbau di Dam Bagong kembali menghidupkan semangat gotong royong warga dan petani di Kabupaten Trenggalek. Ritual budaya yang digelar di Kelurahan Ngantru, Kecamatan Trenggalek, Kamis hingga Jumat, 7-8 Mei 2026, tidak hanya menjadi daya tarik budaya, tetapi juga memperkuat keterlibatan masyarakat desa dalam menjaga tradisi turun-temurun yang berkaitan dengan pertanian dan irigasi.

Prosesi adat diawali dengan kirab Kebo Bule dari Pendopo Manggala Praja Nugraha menuju kawasan Dam Bagong pada Kamis sore sekitar pukul 15.00 WIB. Setelah itu, dilakukan prosesi jamasan atau pemandian kerbau menggunakan air bunga setaman sebagai bagian dari ritual adat masyarakat setempat.

Pada malam harinya, warga disuguhi pagelaran wayang kulit yang dilanjutkan dengan penyembelihan kerbau untuk keperluan larung sesaji kepala kerbau di Dam Bagong. Tradisi tersebut, sebagaimana diberitakan Cakrawala, Kamis (07/05/2026), kembali melibatkan petani sebagai unsur utama dalam pelaksanaan kegiatan budaya tahunan itu. Manusia memang unik, bisa ribut soal politik nasional tiap hari, tapi tetap kompak patungan demi kepala kerbau yang dilarung supaya sawah tetap subur. Dan anehnya, itu justru terasa lebih masuk akal.

Panitia Prosesi Adat Dam Bagong, Tanto Asmiardi, mengatakan keterlibatan petani sengaja diperkuat kembali dalam pelaksanaan tradisi tahun ini.

“Kalau dulu memang iuran berasal dari petani yang sawahnya dialiri Dam Bagong. Tahun ini kita kembalikan lagi seperti itu, karena larung sesaji kepala kerbau ini haknya petani,” ujarnya.

Tanto yang juga menjabat Kepala Seksi Ketenteraman dan Ketertiban (Kasi Trantib) Kelurahan Ngantru menjelaskan agenda puncak digelar pada Jumat pagi dengan kirab sederhana menuju area makam sebelum kepala kerbau dilarung.

“Rute kirab dari RT 15 menuju makam, dari selatan sebelum Jembatan SMP 6 ke arah utara sampai ke makam. Setelah dari makam, kepala kerbau langsung dilarung seperti biasa,” jelasnya.

Menurutnya, antusiasme masyarakat tahun ini meningkat dengan keterlibatan warga dari sejumlah desa seperti Pogalan, Ngulan Wetan, hingga Ngetal yang ikut memberikan kontribusi swadaya demi menjaga kelestarian budaya lokal.

“Alhamdulillah ini dari desa desa sudah ada antusias mulai dari pogalan, ngulan wetan sampai ngetal, kemarin sudah berkontribusi dengan iuran semampunya,” tuturnya.

Tradisi larung sesaji Dam Bagong sendiri telah berlangsung secara turun-temurun sebagai bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil pertanian sekaligus doa agar aliran irigasi tetap membawa keberkahan bagi para petani di wilayah Trenggalek.

“Jadi ini memang kesadaran kita bangun agar budaya ini bisa tetap berlanjut sesuai dengan harapan petani,” harapnya. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

TMMD dan Warga Krangean Kompak Bersihkan Lingkungan Masjid

PDF 📄PURBALINGGA – Warga Desa Krangean, Kecamatan Kertanegara, Kabupaten Purbalingga, bersama Satuan Tugas TNI Manunggal …

Desa Pilanggede Jadi Pusat Gerakan Gotong Royong Jatim

PDF 📄BOJONEGORO – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) menggelar …

Pemkab Bandung Barat Turunkan Alat Berat untuk Bersihkan Saguling

PDF 📄BANDUNG BARAT – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat bergerak cepat membersihkan tumpukan sampah yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *