MEMPAWAH – Program Gema Membangun Desa yang digelar Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat (Pemprov Kalbar) di Desa Sambora, Kecamatan Toho, Kabupaten Mempawah, menyoroti arah baru pembangunan desa yang tidak lagi hanya bergantung pada anggaran pemerintah, melainkan mendorong kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal seperti pertanian, ekonomi kreatif, hingga ekowisata.
Kegiatan yang berlangsung di Kantor Desa Sambora pada Kamis–Jumat, 7–8 Mei 2026 itu menjadi ruang integrasi layanan publik sekaligus pemetaan potensi desa yang dinilai masih belum tergarap optimal.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah (Sekda) Provinsi Kalbar, Heronimus Hero, menyampaikan bahwa desa saat ini dituntut lebih adaptif dalam membaca peluang ekonomi di tengah keterbatasan fiskal daerah. Program Gema Membangun Desa, sebagaimana diberitakan Sonora, Kamis (07/05/2026), menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat peran desa sebagai pusat pertumbuhan baru.
“Gema Membangun Desa ini selain mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, juga mengingatkan kembali bahwa semua potensi ekonomi itu ada di desa. Tinggal bagaimana kejelian pemerintah desa bersama kecamatan dan kabupaten dalam melihat serta mengembangkan potensi yang ada agar mampu menggerakkan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Dalam pemetaan awal, Desa Sambora disebut memiliki kombinasi potensi yang beragam, mulai dari sektor pertanian, usaha kreatif masyarakat, hingga peluang pengembangan wisata berbasis alam dan olahraga petualangan yang dinilai dapat menjadi penggerak ekonomi baru di tingkat lokal.
“Di Sambora ini kita lihat pertanian ada, ekonomi kreatif ada, termasuk potensi wisata dan olahraga petualangan. Ini menjadi sesuatu yang bisa dikembangkan ke depan untuk meningkatkan nilai ekonomi masyarakat desa,” katanya.
Heronimus menegaskan bahwa penyesuaian kebijakan anggaran di tingkat pemerintah daerah tidak boleh menghambat inovasi desa, justru harus menjadi pemicu untuk menggali sumber daya yang selama ini belum dimaksimalkan.
“Sekarang anggaran pemerintah desa, kabupaten, hingga provinsi mengalami pengurangan. Karena itu kita harus mencari potensi yang ada untuk ditumbuhkembangkan nilai ekonominya,” jelasnya.
Selain itu, Pemprov Kalbar juga menyiapkan skema dukungan lintas sektor untuk pengembangan wisata desa, terutama yang berbasis ekowisata agar tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.
“Nanti dinas terkait akan mengawal pengembangannya, baik dari sektor lingkungan hidup, kehutanan, maupun pariwisata agar objek wisata yang dibangun tetap ramah lingkungan dan memiliki fasilitas pendukung yang memadai,” tuturnya.
Pemprov Kalbar turut membuka peluang kolaborasi dengan pihak swasta melalui skema pembiayaan kreatif atau creative financing untuk mempercepat pembangunan infrastruktur wisata desa.
“Kita bisa mendapat dukungan melalui creative financing. Kalau ada perusahaan di sekitar wilayah tersebut, mereka juga bisa ikut membantu berkolaborasi membangun objek wisata yang ada,” pungkasnya. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara