Disdikbud Kutim Libatkan Lintas Sektor Susun Tiga Buku Sejarah

Sekitar 50 peserta dari DPRD, perangkat daerah, akademisi, organisasi keagamaan, lembaga adat, guru, hingga insan pers dilibatkan untuk memperkaya data dan perspektif dalam penyusunan tiga buku sejarah Kutim.

ADVERTORIAL – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) melibatkan sekitar 50 peserta dari berbagai unsur untuk memberikan data, perspektif, dan masukan dalam penyusunan tiga buku sejarah daerah. Langkah itu dilakukan agar dokumentasi sejarah, budaya, agama, dan masyarakat adat Kutim tersusun secara komprehensif serta dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.

Pelibatan lintas sektor tersebut dilakukan melalui Seminar Laporan Pendahuluan Kajian Penulisan Buku Sejarah di Ruang Damar, Gedung Serbaguna Bukit Pelangi, Sangatta, Selasa (22/09/2026). Peserta berasal dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kutim, perangkat daerah, organisasi keagamaan, lembaga adat, guru sejarah dan seni budaya, akademisi, hingga insan pers.

Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan dan Kebudayaan Kutim Mulyono mengatakan keterlibatan berbagai komponen diperlukan agar materi yang dihasilkan tidak hanya melihat sejarah dari satu perspektif, melainkan mampu merepresentasikan kekayaan perjalanan masyarakat dan kebudayaan daerah.

“Mari kita yang hadir dari semua komponen bisa bersama-sama memberikan sumbangan pemikiran dan masukan, sehingga output yang akan kita buat nantinya betul-betul komprehensif, menyeluruh, dan memang mewakili dari apa yang seharusnya tersampaikan,” tambah Mulyono, Selasa (22/09/2026).

Seminar yang dibuka Mulyono mewakili Wakil Bupati (Wabup) Kutim tersebut menjadi tahap awal penyusunan tiga karya sejarah dengan melibatkan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Mulawarman (Unmul).

Proses kajian dan penulisan dilaksanakan melalui mekanisme Swakelola Tipe II. Disdikbud Kutim menargetkan karya yang dihasilkan memiliki standar akademis sekaligus mampu menjadi sumber pengetahuan mengenai perjalanan sejarah dan keragaman masyarakat daerah.

Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Disdikbud Kutim Ilham menjelaskan keberagaman latar belakang peserta diperlukan untuk memperkaya sumber informasi sekaligus memberikan koreksi dan masukan terhadap materi yang akan disusun tim penulis.

“Keberagaman tersebut diharapkan dapat memberikan perspektif informasi, data, pengalaman, serta masukan yang beragam sehingga proses penulisan sejarah dapat disusun secara komprehensif dan mencerminkan keragaman sejarah, budaya, agama, adat istiadat, kehidupan masyarakat Kabupaten Kutai Timur,” pungkas Ilham.

Tiga buku yang sedang digarap terdiri atas “Kisah-Kisah Dari Kutai Timur: Budaya, Tradisi, dan Kehidupan”, “Menelusuri Jejak Islam di Bumi Kutai Timur”, serta “Sejarah Perkembangan Masyarakat Adat Dayak Kenyah Lepoq Jalan”.

“Kajian penulisan sejarah ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Kutai Timur melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk mendokumentasikan, menggali, melestarikan, dan memperkenalkan sejarah, budaya, tradisi, serta perkembangan kehidupan masyarakat di Kabupaten Kutai Timur,” urai Ilham dalam laporannya.

Menurut Ilham, hasil penulisan nantinya tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi pemerintah daerah, tetapi juga diharapkan menjadi rujukan bagi masyarakat dan sektor pendidikan dalam mempelajari perkembangan sejarah lokal.

“Ketiga karya tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari dokumentasi sejarah daerah sekaligus sumber informasi dan referensi bagi pemerintah daerah, masyarakat, dunia pendidikan tentu dan juga generasi mendatang,” terang Ilham.

Mulyono menambahkan, dokumentasi dalam bentuk buku penting agar berbagai kegiatan sejarah dan kebudayaan tidak hanya tersimpan sebagai poster maupun catatan sederhana. Buku-buku tersebut juga direncanakan menjadi bagian dari koleksi museum daerah.

“Saya memang sangat berharap semua kegiatan-kegiatan yang khususnya terkait dengan sejarah ataupun kegiatan yang bersifat event itu dibukukan menjadi sebuah buku. Bukan hanya sekedar poster atau sekedar catatan biasa. Harapan saya nantinya buku-buku ini akan menjadi koleksi museum,” ujar Mulyono.

Sejumlah kekayaan budaya yang dinilai perlu terdokumentasi secara sistematis antara lain Festival Sekerat Nusantara, Pesta Laut, hingga berbagai ritual adat di Wahau. Pendokumentasian tersebut diharapkan dapat menjaga kesinambungan informasi mengenai tradisi lokal sekaligus mencegah hilangnya pengetahuan sejarah antargenerasi.

Selain penyusunan buku sejarah, Disdikbud Kutim mengagendakan Pesta Budaya Erau yang puncaknya direncanakan bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kutim pada 12 Oktober 2026. Rangkaian kegiatan itu diharapkan memperkuat upaya pelestarian sekaligus pewarisan sejarah dan kebudayaan lokal kepada generasi mendatang. []

About admin04

Check Also

Dua Investor Beroperasi di KEK MBTK, Pemkab Kutim Pacu Hilirisasi

PDF 📄Dua perusahaan telah menjalankan kegiatan usaha di KEK MBTK, sementara Pemkab Kutim terus mendorong …

DPMPTSP Kutim Bidik Ekspo HUT Dongkrak Perputaran Ekonomi UMKM

PDF 📄DPMPTSP Kutim menyiapkan Ekspo HUT selama tujuh hari mulai 12 Oktober 2026 dengan UMKM …

Optimalkan Dana RT, Sangatta Utara Targetkan Gang Berstandar Semenisasi

PDF 📄Pemcam Sangatta Utara menargetkan seluruh gang di wilayah kelurahan memenuhi standar semenisasi dalam dua …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *