Tradisi Membatik Giriloyo Berubah Jadi Kekuatan Ekonomi Warga

BANTUL – Tradisi membatik di Wukirsari, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), tidak berhenti sebagai warisan keluarga. Keterampilan yang telah berlangsung lintas generasi itu berkembang menjadi kegiatan ekonomi sekaligus daya tarik wisata melalui sentra Batik Giriloyo.

Pengelola Paguyuban Batik Giriloyo, Khibtiyah, dalam wawancara pada 19 April 2026 menceritakan bahwa tradisi membatik telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Giriloyo selama beberapa generasi. Perkembangan tersebut berlangsung dari aktivitas produksi untuk kebutuhan lingkungan kerajaan hingga membentuk usaha masyarakat yang lebih mandiri.

Giriloyo berada di kawasan Imogiri yang memiliki keterkaitan dengan sejarah Mataram dan kompleks makam raja-raja Mataram. Berdasarkan cerita yang diwariskan masyarakat, tradisi membatik mulai berkembang sekitar awal abad ke-17 ketika kehidupan warga berkaitan erat dengan lingkungan kerajaan.

Pada masa itu, laki-laki masyarakat Giriloyo disebut menjadi abdi dalem atau penjaga makam, sedangkan keterampilan membatik berkembang di kalangan perempuan. Kemampuan tersebut kemudian diwariskan di dalam keluarga dan diajarkan kepada anak-anak perempuan sejak usia dini.

Tradisi tersebut secara perlahan menjadi bagian dari kehidupan ekonomi keluarga. Sebelum masyarakat memiliki usaha sendiri, banyak pembatik Giriloyo bekerja untuk juragan atau pengepul. Mereka mengerjakan proses produksi, sementara hasil batik dikumpulkan untuk dipasarkan ke Kota Yogyakarta.

Salah satu pembatik yang mengalami pola tersebut adalah Muko yang kini berusia 69 tahun. Ia mulai belajar membatik sekitar usia 10 tahun dengan mengikuti ibu dan neneknya yang juga berprofesi sebagai pembatik.

“Iya mas, saya jadi pewaris dari nenek-nenek saya ibu saya itu semuanya pembatik” ujar Ibu Muko dalam wawancara pada 19 April 2026.

Penghasilan dari membatik ketika itu turut menopang kebutuhan rumah tangga, termasuk membantu biaya pendidikan anak. Dengan demikian, keterampilan membatik tidak hanya dipertahankan sebagai tradisi, tetapi juga menjadi salah satu sumber pendapatan keluarga.

Perubahan besar terjadi setelah gempa bumi yang melanda Yogyakarta dan sekitarnya pada 27 Mei 2006. Dalam kondisi masyarakat yang masih menghadapi dampak bencana, sejumlah lembaga memberikan pendampingan untuk membantu mengembangkan kemampuan warga.

Pendampingan tidak hanya berkaitan dengan teknik membatik dan pewarnaan. Masyarakat juga mulai mendapatkan pengetahuan mengenai pengelolaan organisasi, perhitungan modal, serta Harga Pokok Produksi (HPP).

Momentum tersebut mendorong pembatik mengembangkan usaha secara lebih mandiri. Setahun setelah gempa, tepatnya 27 Mei 2007, masyarakat membuat selendang batik sepanjang 1.200 meter. Kegiatan itu mendapat perhatian pemerintah dan penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), berdasarkan keterangan Khibtiyah.

Penguatan kelembagaan kemudian dilakukan pada Juni 2008 dengan pembentukan Batik Giriloyo sebagai merek bersama yang melibatkan masyarakat, pemerintah desa, dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) IRE.

Kehadiran wadah bersama tersebut memberikan ruang bagi masyarakat untuk lebih leluasa mengembangkan produk, menentukan harga, serta melakukan pemasaran secara mandiri.

Perkembangan berikutnya membawa Batik Giriloyo keluar dari ruang produksi menuju sektor pariwisata. Masyarakat mulai membuka kesempatan bagi wisatawan untuk melihat sekaligus mempelajari proses membatik melalui kegiatan edukasi dan pameran.

Wukirsari Expo menjadi salah satu kegiatan yang turut memperkenalkan potensi batik Giriloyo kepada khalayak lebih luas. Seiring berkembangnya kunjungan, manfaat ekonomi pun tidak hanya dirasakan oleh pembatik.

Warga mulai terlibat sebagai pemandu wisata, penyedia makanan dan suvenir, hingga pengelola homestay. Dengan pola tersebut, kegiatan wisata berbasis batik menciptakan ruang ekonomi bagi masyarakat di luar produksi kain.

Sebelum pandemi Covid-19, jumlah kunjungan pada 2019 disebut mencapai sekitar 29.000 wisatawan dengan omzet sekitar Rp2 miliar dalam setahun.

Perkembangan tersebut berlanjut melalui sejumlah penghargaan. Giriloyo memperoleh penghargaan sebagai desa wisata berkelanjutan pada 2022, kemudian meraih penghargaan Anugerah Desa Wisata Indonesia pada 2023.

Pada 2024, Giriloyo juga masuk dalam daftar Best Tourism Villages dari UN Tourism. Jumlah kunjungan pada tahun yang sama disebut meningkat menjadi sekitar 45.000 wisatawan dengan omzet lebih dari Rp3 miliar.

Rangkaian perkembangan itu menunjukkan bahwa keberlangsungan Batik Giriloyo bertumpu pada kemampuan masyarakat mempertahankan tradisi sekaligus menyesuaikannya dengan kebutuhan ekonomi dan pariwisata. Batik tetap menjadi identitas utama, sementara aktivitas desa wisata menjadi sarana untuk mengenalkan keterampilan dan budaya tersebut kepada wisatawan dari berbagai daerah hingga mancanegara, sebagaimana diberitakan Tribun Jogja, Senin, (14/09/2026). []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Samijah Menanti Bedah Rumah Setelah Puluhan Tahun Hidup Serba Terbatas

PDF đź“„BLORA – Harapan memiliki rumah yang lebih layak masih menjadi penantian Samijah, 71, warga …

Amfiteater 1.000 Penonton Dibangun di Kawasan Museum Kediri

PDF đź“„KEDIRI – Kawasan museum daerah di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, tidak hanya disiapkan sebagai …

Desa Bunar Panen Buah, Warga Raup Penghasilan Tambahan

PDF đź“„BOGOR – Musim panen buah lokal membuka sumber penghasilan tambahan bagi warga Desa Bunar, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *