BEKASI – Jalan rusak bertahun-tahun di Perumahan Puri Cendana, Desa Sumberjaya, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, akhirnya masuk dalam program perbaikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2026 setelah inisiatif swadaya anak muda setempat mendorong perhatian pemerintah daerah.
Perbaikan jalan tersebut direncanakan dengan anggaran sebesar Rp3.259.800.000 berdasarkan data Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SiRUP), dengan target pengerjaan seluas sekitar 4.500 meter persegi dan diperkirakan terealisasi pada akhir 2026.
Sebelumnya, kondisi jalan di kawasan tersebut kerap dikeluhkan warga karena dipenuhi lubang dan lumpur, terutama saat hujan yang membuat akses menjadi licin dan berisiko bagi pengguna jalan, termasuk anak-anak dan ibu hamil.
Perwakilan komunitas muda-mudi Puri Cendana, Fiky Rio Utama, menyebut bahwa masuknya proyek tersebut ke dalam perencanaan anggaran daerah merupakan hasil dari dorongan kolektif warga. “Alhamdulillah sudah masuk pagu ya, sudah ada di websitenya juga. Dan kemarin pun sudah sempat direspons sama Bupati untuk cepat terealisasi,” ujarnya, sebagaimana dilansir Kompas, Rabu, (06/05/2026).
Sebelum adanya intervensi pemerintah, perbaikan jalan dilakukan secara mandiri oleh komunitas muda-mudi yang beranggotakan sekitar 200 orang dari tujuh Rukun Warga (RW). Mereka berhasil menggalang dana ratusan juta rupiah melalui pendekatan partisipatif tanpa paksaan kepada warga.
“Tergeraknya karena resah ya, tapi enggak pernah ada solusi. Dan kami ingin jadi anak muda yang bermanfaat dan menebarkan energi positif buat warga sendiri,” kata Fiky.
Perbaikan dilakukan secara bertahap, dimulai pada November 2025 dengan pengecoran sepanjang 100 meter menggunakan dana sekitar Rp180 juta. Tahap kedua berlangsung pada Mei 2026 dengan tambahan dana Rp330.953.000 untuk pengerjaan sepanjang 150 meter.
Selain memperbaiki jalan, komunitas tersebut juga berperan sebagai penghubung antara warga dan pengurus Rukun Tetangga (RT) serta RW dalam menyusun strategi pembangunan lingkungan secara berkelanjutan.
Menurut Fiky, gerakan ini tidak hanya bertujuan memperbaiki infrastruktur, tetapi juga menghidupkan kembali semangat gotong royong di lingkungan perkotaan yang mulai berkurang.
“Ini bukan cuma soal jalan. Ke depan kami juga ingin menyelesaikan masalah lain seperti sampah, pedagang kaki lima, dan drainase,” ujarnya.
Keberhasilan gerakan ini menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat dapat menjadi katalisator percepatan pembangunan, sekaligus mendorong pemerintah daerah untuk merespons kebutuhan riil warga secara lebih cepat dan tepat sasaran. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara