KLATEN – Inovasi pengelolaan limbah rumah tangga berbasis pertanian berkelanjutan mulai dikembangkan di Desa Menden, Kecamatan Kebonarum, Kabupaten Klaten melalui program mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), yang mengolah kulit bawang merah menjadi pupuk organik cair sebagai solusi ramah lingkungan dan bernilai ekonomi.
Program tersebut digagas melalui kegiatan Pembelajaran Luar Kampus (PLK) oleh mahasiswa UNY yang turun langsung ke masyarakat untuk memperkenalkan teknologi sederhana berbasis bahan organik lokal. Inisiatif ini sekaligus menjadi upaya edukasi pengurangan limbah dapur yang selama ini belum termanfaatkan secara optimal di tingkat rumah tangga desa.
Ketua PLK Desa Menden, Fauzan Nurul Huda, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang tidak hanya sebagai inovasi produk, tetapi juga sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat agar lebih sadar terhadap potensi limbah organik. Ia menyebut pendekatan ini diharapkan dapat menciptakan perubahan perilaku dalam pengelolaan sampah rumah tangga.
“Dengan cara sederhana ini, limbah yang sebelumnya tidak bernilai bisa diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bahkan berpotensi menghemat biaya pertanian,” katanya melalui keterangan tertulis yang disampaikan kepada Tribun Jogja sebagaimana dilansir Tribun Jogja, Rabu (06/05/2026).
Fauzan menambahkan, tim PLK yang terdiri dari 10 mahasiswa lintas program studi tersebut juga mengedepankan kolaborasi multidisiplin dalam mengembangkan solusi berbasis kebutuhan masyarakat desa. Pendekatan ini dinilai mampu memperkuat efektivitas program pemberdayaan yang dilakukan di lapangan.
Sementara itu, anggota tim PLK Desa Menden, Adita Ananta Putri, menjelaskan bahwa kulit bawang merah memiliki kandungan senyawa yang berpotensi mendukung pertumbuhan tanaman. Ia menyebut pemanfaatan limbah tersebut merupakan langkah konkret dalam mendorong pertanian yang lebih ramah lingkungan.
“Kulit bawang merah mengandung zat-zat yang mampu merangsang pertumbuhan akar, menyuburkan tanaman, serta membantu mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia,” terangnya.
Proses pembuatan pupuk organik cair ini dilakukan dengan metode sederhana menggunakan bahan utama kulit bawang merah, air cucian beras pertama, dan gula jawa. Seluruh bahan kemudian difermentasi selama kurang lebih tujuh hari hingga menghasilkan cairan pupuk alami yang dapat digunakan untuk tanaman.
Program ini diharapkan dapat menjadi model pengelolaan limbah berbasis masyarakat yang mudah diterapkan di wilayah pedesaan lainnya, sekaligus memperkuat kesadaran akan pentingnya pertanian berkelanjutan dan ekonomi sirkular di tingkat lokal. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara