SIKKA – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tanah Bunga Sejahtera di Desa Wolomotong, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), memperkuat strategi ekonomi desa berbasis hortikultura melalui penanaman 7.000 bibit cabai yang ditargetkan mampu menghasilkan hingga 10 ton panen dan menjadi penggerak pendapatan masyarakat lokal.
Program budidaya cabai yang dilakukan di wilayah Aiwuat, Dusun Legar, tersebut menjadi langkah serius desa dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus membangun model usaha desa yang berorientasi pasar. Komoditas cabai dipilih karena memiliki nilai jual tinggi dan stabil di pasar, sehingga dinilai mampu menopang ekonomi desa secara berkelanjutan.
Pendamping Lokal Desa, Agustinus Sevman Piki, menjelaskan bahwa penanaman dilakukan pada Rabu (15/4/2026) dengan jenis cabai merah keriting F1 dan cabai servo F1 yang dikenal memiliki produktivitas tinggi. “Kami telah melakukan penanaman ini Rabu (15/4/2026). Penanaman ini merupakan bagian dari program ketahanan pangan hortikultura. Kegiatan ini juga melibatkan berbagai pihak agar hasilnya optimal,” ujarnya, Sabtu (18/4/2026) sebagaimana dilansir PanenNews, Minggu, (19/04/2026).
Ia menambahkan, keterlibatan lintas unsur mulai dari pemerintah desa, pengurus dan pengawas BUMDes, kelompok kerja, penyuluh pertanian, hingga aparat keamanan menjadi faktor penting dalam memastikan keberhasilan program. Pola kolaborasi ini dinilai memperkuat ekosistem pertanian desa yang lebih terstruktur dan produktif.
Direktur BUMDes Tanah Bunga Sejahtera, Hendrikus Nong Dadin, menyebut pihaknya menargetkan produksi minimal 10 ton cabai dari 7.000 tanaman dengan estimasi hasil 1,5 kilogram per tanaman. “Kami optimistis bisa mencapai target tersebut. Harapannya, saat panen nanti harga cabai juga mendukung,” kata Hendrikus.
Ia menegaskan bahwa pengembangan cabai tidak hanya berorientasi pada hasil panen, tetapi juga sebagai upaya membangun kemandirian ekonomi desa yang berkelanjutan melalui penguatan unit usaha BUMDes.
Kepala Desa Wolomotong, Sergius Sareng, mengapresiasi inisiatif tersebut dan menilai keterlibatan generasi muda dalam pengelolaan BUMDes menjadi modal penting bagi masa depan desa. “Potensi dari 7.000 anakan ini sangat besar. Karena itu, perlu dukungan semua pihak serta transparansi dalam pengelolaannya agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Program ini diharapkan menjadi model penguatan ekonomi desa berbasis pertanian hortikultura yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan lokal di wilayah Sikka. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara