PELALAWAN – Ketiadaan hujan di kawasan Desa Sokoi, Kecamatan Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan menjadi tantangan utama dalam upaya penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Meski api telah padam, tim Manggala Agni masih melakukan pendinginan hingga Rabu (3/6/2026) untuk memastikan tidak ada bara yang kembali memicu kebakaran.
Proses pendinginan dilakukan secara intensif karena titik kebakaran berada di lahan gambut yang memiliki karakteristik mudah menyimpan panas di bawah permukaan tanah. Kondisi tersebut diperparah oleh cuaca kering yang menyebabkan area terdampak belum mendapatkan pasokan air alami dari hujan.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pelalawan (Pelalawan), Zulfan, mengatakan petugas masih menemukan sisa asap dari area yang sebelumnya terbakar.
“Hari ini masih tetap pendinginan, api sudah padam total. Api masih ada sedikit asap dari tunggul kayu dan lahan bekas terbakar,” ujar Zulfan kepada Tribun Pekanbaru, sebagaimana diberitakan Tribun Pekanbaru, Rabu (03/06/2026).
Menurutnya, tim darat Manggala Agni tetap berada di lokasi guna mengantisipasi munculnya api dari bara yang masih tersimpan di dalam lapisan gambut. Kedalaman gambut di area Karhutla tersebut diperkirakan mencapai dua hingga empat meter sehingga membutuhkan penyiraman maksimal sebelum lokasi dinyatakan aman.
Sebelumnya, operasi pemadaman darat dilakukan sejak Sabtu (30/5/2026) oleh personel Manggala Agni. Upaya tersebut turut didukung tim udara dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Riau yang mengerahkan helikopter Water Bombing (WB) setelah titik panas (firespot) terdeteksi pada Kamis (28/5/2026).
“Hujan nihil di sana. Kemarin sudah sempat mendung, tapi tak jadi turun hujannya,” papar Zulfan.
Karhutla itu membakar area semak belukar dan kebun kelapa sawit milik warga. Hingga kini, luas lahan terdampak masih menunggu hasil pengukuran dari tim Manggala Agni yang bertugas di lapangan.
Pendinginan akan terus dilakukan sampai seluruh sumber asap dan potensi bara api benar-benar hilang. Langkah tersebut diharapkan mampu mencegah kebakaran berulang sekaligus menjaga wilayah Kuala Kampar dari ancaman penyebaran Karhutla yang lebih luas. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara