Jalan Huntap Lewotobi Dikejar Rampung September, Upah Sopir Jadi Sorotan

FLORES TIMUR Pembayaran upah pekerja menjadi sorotan dalam proyek pembangunan jalan menuju Hunian Tetap (Huntap) Lewotobi di Kabupaten Flores Timur (Flotim), Nusa Tenggara Timur (NTT). Penjabat Pembuat Komitmen (PPK) 4.5 Balai Pelaksana Jalan Nasional NTT meminta kontraktor segera melunasi hak para sopir agar pekerjaan proyek strategis tersebut tidak mengalami keterlambatan.

Permintaan itu disampaikan setelah puluhan sopir kendaraan pengangkut material menghentikan aktivitas kerja karena upah dan biaya sewa kendaraan mereka belum dibayarkan oleh pihak kontraktor. Aksi tersebut berdampak langsung terhadap distribusi material yang dibutuhkan dalam pembangunan akses jalan menuju Huntap Lewotobi.

PPK 4.5 Balai Pelaksana Jalan Nasional NTT, Viktor Nalle, menegaskan pihak kontraktor harus segera menyelesaikan kewajibannya kepada para pekerja lapangan.

“Saya sudah sampaikan (ke pihak PT Dewi Graha Indah), korwas lapangan sudah telepon. Jadi saya sudah suruh untuk bayar hari ini, atau paling lambat besok,” ungkap Viktor, sebagaimana dilansir Ekorantt, Kamis, (04/06/2026).

Menurut Viktor, penghentian operasional kendaraan pengangkut material berpotensi mengganggu target penyelesaian proyek yang saat ini telah mencapai sekitar 40 persen. Kelancaran suplai material seperti agregat A, agregat B, dan urpil menjadi faktor penting untuk menjaga progres pekerjaan.

“Kalau mogok, ya pasti terhambat progres sulpai material. Agregat sekarang sudah sepanjang lima kilometer,” tutur Viktor.

Ia juga meminta para sopir tetap mendukung pelaksanaan proyek karena pembangunan jalan tersebut ditargetkan selesai pada September 2026.

Permasalahan muncul setelah 26 armada dump truck yang melayani pengangkutan material pasir dan batu dari Desa Dulipali, Kecamatan Ile Bura, menghentikan operasionalnya pada Kamis (4/6/2026). Para sopir menuntut pembayaran upah dan biaya sewa kendaraan yang nilainya mencapai Rp416 juta untuk periode Mei 2026.

Setiap kendaraan diketahui dikontrak senilai Rp16 juta per bulan dan ditargetkan mengangkut material hingga 15 rit per hari. Dengan total 26 armada, distribusi material menjadi tulang punggung kelancaran pembangunan jalan menuju kawasan relokasi warga terdampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki.

Salah seorang sopir mengaku kecewa karena pembayaran yang dijanjikan belum juga direalisasikan meski mereka telah bekerja tanpa jeda selama sebulan.

“Bulan ini belum bayar. Kami sudah sampailan kepada pak mereka (pihak PT Dewi Graha Indah), mereka hanya minta kami bersabar dan bersabar lagi,” kata salah seorang sopir yang meminta tak menyebutkan namanya.

Para pekerja menyatakan siap kembali beroperasi setelah hak mereka dibayarkan. Mereka berharap penyedia jasa segera memenuhi kewajiban agar proyek yang didanai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) senilai Rp41,5 miliar tersebut dapat berjalan lancar sekaligus menjamin kesejahteraan para pekerja lapangan. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Dua Desa Jadi Pelopor, 20 Desa Banjar Bakal Menyusul

PDF đź“„BANJAR – Program Desa Anti Maladministrasi di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, tidak hanya diarahkan …

12 Botol Arak Bali Disita Polisi dari Toko Kelontong Malang

PDF đź“„MALANG – Patroli keamanan di wilayah Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, berujung pada …

KDMP Berdiri di Lahan Pertanian, Polda Jateng Angkat Bicara

PDF đź“„SEMARANG – Kepolisian Daerah Jawa Tengah (Polda Jateng) menempatkan koordinasi dengan pemerintah daerah sebagai …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *