Rangkaian Harlah Desa Pakel dan Desa Budaya 2026 menghadirkan ritual Ponco Tuk yang menyatukan lima sumber mata air sebagai simbol doa, pelestarian lingkungan, dan penghormatan terhadap warisan leluhur.
JOMBANG – Tradisi adat Arak Tumpeng Ponco Tuk di Desa Pakel, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, menjadi pengingat pentingnya menjaga sumber mata air di tengah ancaman kekeringan. Pesan pelestarian lingkungan itu mengemuka dalam rangkaian peringatan Hari Lahir (Harlah) Desa Pakel dan penyambutan kunjungan Desa Budaya 2026 yang berlangsung pada 5 dan 8 November 2026.
Bupati Jombang, Warsubi, menegaskan bahwa ritual yang diwariskan turun-temurun tersebut bukan sekadar perayaan budaya, melainkan juga mengandung pesan tentang hubungan manusia dengan alam. Tradisi itu menyatukan lima sumber mata air dari masing-masing dusun sebagai bentuk doa agar hujan segera turun dan warga dapat kembali bercocok tanam.
“Tradisi adat Arak Tumpeng Ponco Tuk adalah ritual budaya yang menyatukan lima sumber mata air dari masing-masing dusun, sebagai bentuk doa dan permohonan agar hujan segera turun, sehingga masyarakat dapat kembali bercocok tanam dan terhindar dari kekeringan berkepanjangan, serta senantiasa mendapat keberkahan,” ujar Warsubi di hadapan sesepuh, tokoh agama, Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Bareng, Sekretaris Daerah Kabupaten (Sekdakab) Jombang Agus Purnomo, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jombang, serta dosen dan mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
Warsubi menjelaskan, tradisi yang disebut telah diwariskan sejak era Majapahit itu mengajarkan masyarakat untuk menghormati dan merawat patirtan atau sumber mata air. Menurut dia, air merupakan kebutuhan mendasar yang harus dijaga, terlebih dampak musim kemarau panjang telah dirasakan di sejumlah wilayah.
“Hal yang menarik dari tradisi ini adalah adanya kearifan lokal yang mengajarkan kita untuk senantiasa menghormati dan menjaga alam. Air merupakan sumber kehidupan yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Terlebih, kita sudah merasakan dampak musim kemarau panjang yang mengakibatkan kekeringan di sejumlah wilayah,” ungkapnya.
Ia mengajak masyarakat Desa Pakel menjadikan kegiatan adat tersebut sebagai pengingat tanggung jawab bersama dalam menjaga lingkungan untuk generasi mendatang. Selain itu, tradisi diharapkan mempererat hubungan sosial agar warga tetap hidup rukun dan menjaga kebersamaan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan prosesi Boyong Krajan di Balai Desa Pakel pada Kamis (5/11/2026) malam. Dengan mengenakan pakaian adat Jawa, peserta mengikuti prosesi yang dimaknai sebagai kembalinya Kendi Amerta Nagari ke Pendopo Jenggolo. Kendi tersebut menjadi simbol air kehidupan, kesuburan, dan berkah bagi bumi Pakel.
Salah satu bagian utama prosesi malam itu adalah Upacara Sesucen Agung Putri Among Beksan. Sebanyak 25 Ibu Bumi terlibat dalam ritual tersebut, terdiri atas sembilan orang pembasuh wajah menggunakan air suci dan 16 orang penabur wewangian. Mereka membasuh para penari Air Suci Kembang Setaman dan Amerta Dewanggono dengan iringan gamelan.
Kegiatan malam ditutup dengan pembacaan “Dungo Ibu Bumi” oleh seorang kiai. Doa tersebut berisi harapan agar manusia dapat hidup selaras dengan alam dan bumi Pakel senantiasa berada dalam keadaan rahayu, tentrem, dan mulyo.
Dua hari kemudian, Minggu (8/11/2026) pagi, warga menggelar Arak Tumpeng Ponco Tuk di Lapangan Sasono Jemparing Manggilingan, Desa Pakel. Pemerintah Desa Pakel menyebut kegiatan itu sebagai upaya menjaga sumber daya air sekaligus melestarikan warisan budaya leluhur. Tradisi tersebut juga sejalan dengan slogan desa, yakni “Pakel Digdaya Damai Indah Gemmah dan Berbudaya”.
Sejumlah kesenian tradisional turut ditampilkan dalam kegiatan tersebut. Di antaranya Tari Bedoyo Amerto Nagari, tarian sakral yang berasal dari Desa Pakel dan dimaknai sebagai doa keselamatan desa. Nama amerto berarti abadi, sedangkan nagari berarti desa atau negeri.
Selain itu, ditampilkan Tari Bedoyo Amerto Dewanggono, kesenian klasik leluhur yang dihidupkan kembali melalui kolaborasi pemerintah desa dengan ISI Surakarta. Ada pula Tari Kabariyah yang bermakna kabar gembira dan diangkat dari sejarah boneka kuno Kabariah di Desa Pakel, serta Tari Ciprak Jemparingan yang menggambarkan ketangkasan dalam seni panahan tradisional.
Melalui rangkaian ritual dan pertunjukan tersebut, masyarakat Pakel berupaya menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat kesadaran terhadap pentingnya sumber mata air. Pelestarian tradisi diharapkan berjalan seiring dengan kepedulian lingkungan, sehingga nilai-nilai leluhur tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. []
Redaksi 01
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara