Kolo Kabe kembali digelar masyarakat Kampung Munde, Desa Komba, Manggarai Timur, setelah enam tahun tidak dilaksanakan, sekaligus menjadi momentum warga bergotong royong menyambut musim tanam baru.
MANGGARAI TIMUR – Masyarakat Kampung Munde, Desa Komba, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali melaksanakan tradisi Kolo Kabe pada 2026 setelah kegiatan adat tersebut terakhir digelar pada 2020. Kembalinya tradisi itu menjadi bagian dari persiapan masyarakat menyambut pergantian musim pertanian.
Kolo Kabe merupakan ritual tahunan masyarakat Suku Nggai yang dilaksanakan ketika memasuki musim tanam. Tradisi tersebut berlangsung di pelataran Watu Naga Natar Munde dan melibatkan masyarakat dalam berbagai tahapan persiapannya.
Salah satu warga Suku Nggai, Damianus Jondo, mengatakan tradisi tersebut kembali dilaksanakan setelah enam tahun terhenti. Pernyataan itu disampaikannya sebagaimana diberitakan Kompas, Kamis, (24/09/2026).
“Pelaksanaan tradisi Kolo Kabe ini kembali dibuat setelah absen selama enam tahun. Terakhir kali tradisi ini dilaksanakan pada tahun 2020 dan baru kembali dibuat pada tahun 2026,” ujar Damianus kepada Kompas.com, Rabu (23/9/2026).
Menurut Damianus, secara adat Kolo Kabe merupakan ritual tahunan yang dilaksanakan saat masyarakat memasuki pergantian kalender musim pertanian, biasanya pada September. Pelaksanaannya menjadi bagian dari tahapan masyarakat sebelum memulai musim tanam di wilayah tanah ulayat Suku Nggai.
Dalam persiapan ritual, masyarakat menyediakan sejumlah bahan, seperti telur ayam kampung, beras, bambu, dan ayam. Kaum perempuan mengambil bagian dalam menyiapkan kebutuhan ritual dan makanan, sedangkan kaum laki-laki melakukan tapa kolo, yakni memasak nasi di dalam ruas bambu dengan cara dibakar.
Tokoh Suku Nggai di Kampung Munde, Aloisius Mbiru, mengatakan Kolo Kabe merupakan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari permulaan musim tanam di ladang wilayah ulayat Suku Nggai.
“Tradisi ini melibatkan seluruh masyarakat kampung,” kata Mbiru.
Keterlibatan warga terlihat sejak tahap persiapan. Bahan-bahan dikumpulkan secara swadaya, anggaran disiapkan bersama, sementara pekerjaan selama ritual dilakukan secara gotong royong. Ada warga yang membawa beras, menyiapkan bambu, ayam, dan telur, sementara warga lainnya menyiapkan tempat serta membantu proses memasak dan pelaksanaan ritual.
Sebelum ritual dimulai, tua adat Suku Nggai memegang sebutir telur ayam kampung untuk dipersembahkan kepada Sang Pencipta, leluhur, dan alam semesta di Watu Naga. Tahapan tersebut menjadi bagian dari doa masyarakat sebelum memasuki musim tanam baru.
Pelaksanaan Kolo Kabe juga memiliki ketentuan adat. Jika menjelang ritual terdapat peristiwa duka, seperti kematian anggota masyarakat, pelaksanaan Kolo Kabe dapat ditunda hingga tahun berikutnya.
Bagi masyarakat Munde, tradisi tersebut bukan hanya rangkaian kegiatan menjelang musim tanam, tetapi juga ruang berkumpul dan menjaga hubungan antarmasyarakat. Setiap warga memiliki peran dalam persiapan maupun pelaksanaan sehingga ritual menjadi kegiatan bersama di tingkat kampung.
Guru sekaligus tokoh muda Kampung Munde, Ilan Nase, menilai Kolo Kabe masih relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini karena mengandung nilai kebersamaan dan hubungan manusia dengan lingkungan tempat mereka hidup.
“Tradisi Kolo Kabe menjaga kedekatan tiga unsur penting, yaitu Sang Pencipta alam semesta, alam semesta itu sendiri, dan manusia sebagai bagian dari alam semesta,” katanya.
Ilan mengatakan Kolo Kabe juga menjadi momentum bagi masyarakat untuk mensyukuri musim pertanian yang telah dilewati sekaligus menyampaikan harapan untuk musim tanam berikutnya.
“Tidak jauh berbeda dengan perayaan Tahun Baru. Kalau Tahun Baru kita rayakan dengan mensyukuri segala hal di tahun yang lama sekaligus doa, permohonan, harapan, serta resolusi di tahun yang baru, maka dalam tradisi Kolo Kabe kita juga merayakan syukuran untuk musim tanam sebelumnya sekaligus doa, permohonan, dan harapan untuk musim tanam yang baru,” ujarnya.
Kembalinya Kolo Kabe pada 2026 setelah enam tahun tidak dilaksanakan menjadi momentum bagi masyarakat Kampung Munde untuk kembali menjalankan tradisi secara bersama-sama. Persiapan yang melibatkan warga dan pembagian peran dalam ritual menunjukkan bahwa keberlangsungan tradisi tersebut bertumpu pada keterlibatan masyarakat kampung, sekaligus menjadi bagian dari penyambutan musim pertanian baru. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara