Sedikitnya 50 warga Desa Tolengas, Sumedang, terlibat dalam panen lebih dari 10 ton bawang merah di tengah kemarau panjang, menunjukkan peran kerja bersama dalam menjaga aktivitas pertanian desa.
SUMEDANG – Sedikitnya 50 warga Desa Tolengas, Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang, turun bersama membantu panen bawang merah di tengah kemarau panjang pada Rabu (23/9/2026). Keterlibatan warga dari berbagai kalangan tersebut menjadi bagian penting dalam proses pencabutan dan pengumpulan hasil panen yang mencapai lebih dari 10 ton.
Panen berlangsung di lahan bawang merah milik Ocoh, 62, yang selama sekitar 60 hari masa tanam harus memastikan tanaman tetap memperoleh pasokan air. Penyiraman dilakukan setiap hari secara manual bersama sejumlah pekerja harian karena bawang merah membutuhkan pasokan air untuk bertahan di tengah kondisi kemarau.
Ocoh mengatakan keberadaan sumber air di sekitar lahan menjadi salah satu faktor yang memungkinkan tanaman tetap terawat selama masa tanam.
“Kuncinya tiap hari harus disiram. Alhamdulillah, ada sumber air di sini yang bisa diandalkan,” ungkap Ocoh kepada Tim Jelajah Ketahanan Pangan Bisnis Indonesia Perwakilan Jawa Barat, Rabu (23/9/2026).
Sebagaimana diberitakan Bisnis, Kamis, (24/09/2026), kegiatan panen tersebut kemudian melibatkan warga Desa Tolengas. Ibu-ibu dan bapak-bapak ikut mencabut serta mengumpulkan bawang merah dari lahan yang berada di kawasan Jalan Raya Tomo.
Keterlibatan puluhan warga membuat proses panen tidak hanya menjadi aktivitas pertanian pemilik lahan, tetapi juga menjadi kegiatan bersama masyarakat desa. Gotong royong terlihat saat warga membantu pekerjaan di tengah kondisi cuaca yang masih diwarnai kemarau panjang.
“Alhamdulillah, lebih dari 10 ton ini. Dibantu sama bapak-bapak juga, jadi panennya tidak cuma ibu-ibu,” ujarnya penuh syukur.
Hasil panen bawang merah tersebut diperkirakan mencapai sekitar 10 ton dengan harga jual di tingkat petani sekitar Rp15.000 per kilogram. Komoditas itu menjadi salah satu sumber pendapatan yang dapat diandalkan Ocoh untuk menopang kebutuhan hidup sehari-hari, meskipun harga di pasaran dapat berubah bergantung pada pembeli.
Bagi aktivitas pertanian di Desa Tolengas, keberhasilan panen tersebut juga menunjukkan bahwa produktivitas lahan tetap dapat dipertahankan ketika petani berupaya memenuhi kebutuhan air selama masa tanam. Upaya tersebut dilakukan melalui penyiraman setiap hari dan dukungan tenaga kerja saat perawatan hingga panen.
Kemarau panjang menjadi tantangan bagi petani hortikultura karena keterbatasan pasokan air dapat membuat tanaman bawang merah rentan mengalami gangguan sebelum masa panen. Namun, lahan Ocoh tetap menghasilkan lebih dari 10 ton bawang merah setelah dirawat selama sekitar dua bulan.
Panen yang melibatkan puluhan warga itu sekaligus memperlihatkan bahwa kegiatan pertanian di desa tidak hanya bergantung pada hasil lahan, tetapi juga pada keterlibatan tenaga masyarakat dalam menyelesaikan pekerjaan secara bersama-sama.
Bagi Ocoh, hasil panen tersebut menjadi balasan atas upaya menjaga tanaman selama kemarau. Sementara bagi warga yang terlibat, kegiatan panen menjadi bagian dari kerja bersama di lingkungan Desa Tolengas dalam mendukung aktivitas pertanian masyarakat. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara