Sekitar 230 warga pelaku usaha tambak di Desa Jagara, Kuningan, menjadi bagian dari sasaran penguatan akses keuangan setelah OJK Cirebon menemukan sebagian pelaku usaha masih terkendala modal.
KUNINGAN – Akses permodalan menjadi salah satu tantangan yang perlu diperkuat di Desa Jagara, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, seiring upaya mengembangkan potensi ekonomi masyarakat di sektor perikanan, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta pariwisata. Dari sekitar 230 warga pelaku usaha tambak, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon menyebut sebagian masih menghadapi kendala modal untuk mengembangkan usahanya.
Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan ekosistem keuangan inklusif di Desa Jagara. Selain pembiayaan, penguatan akses layanan keuangan juga diarahkan melalui perluasan layanan perbankan, digitalisasi transaksi, serta pengenalan produk simpanan bagi masyarakat desa.
Kepala OJK Cirebon Agus Muntholib mengatakan potensi ekonomi Jagara cukup besar karena aktivitas masyarakat tidak hanya bertumpu pada satu sektor. Potensi tersebut mencakup UMKM dan perikanan yang dapat dikembangkan lebih lanjut.
“Kami melihat ini potensi yang luar biasa. Kultur masyarakat di sini tidak hanya dari sektor UMKM, tetapi juga ada perikanan,” kata Agus kepada wartawan, sebagaimana diberitakan Pojoksatu, Kamis, (24/09/2026).
Menurut Agus, persoalan modal menjadi salah satu hal yang membatasi pengembangan usaha perikanan di Jagara. Dari sekitar 230 warga pelaku usaha tambak, hanya sebagian yang dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan secara maksimal.
“Di sektor perikanannya banyak sekitar 230 warga pelaku usaha tambak. Di antaranya sekitar 10 persen memiliki potensi yang bisa dikembangkan dan sisanya terkendala modal,” ujarnya.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, OJK Cirebon akan mendorong peningkatan akses pembiayaan bagi masyarakat dan pelaku UMKM di Jagara. Perbankan juga didorong menghadirkan lebih banyak agen layanan perbankan di desa agar masyarakat lebih mudah memperoleh layanan keuangan.
Selain pembiayaan, penguatan ekonomi masyarakat diarahkan pada penggunaan transaksi digital. OJK akan berkolaborasi dengan Bank Indonesia (BI) untuk mendorong pelaku UMKM menyediakan pembayaran melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).
“Kami berharap nanti melalui kolaborasi dengan Bank Indonesia, banyak pelaku UMKM menyediakan transaksi pembayaran melalui QRIS,” katanya.
Digitalisasi transaksi juga direncanakan menyentuh aktivitas yang berada di bawah koordinasi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Jagara. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas penggunaan layanan keuangan dalam aktivitas ekonomi desa.
Penguatan akses keuangan tidak hanya diarahkan pada pembiayaan usaha. OJK juga mendorong masyarakat membangun kebiasaan menabung melalui program Simpanan Pelajar (SimPel). Sekolah-sekolah di Jagara akan didata untuk kemudian didorong membuka rekening tabungan bagi para pelajar.
“Jadi tidak hanya dari akses pembiayaan, tetapi juga simpanan,” ucap Agus.
Potensi ekonomi Jagara juga mencakup pariwisata. Desa tersebut disebut memiliki potensi wisata dan pada Januari 2026 mendapat penghargaan dari Kementerian Desa. OJK Cirebon juga menyatakan akan membantu mempromosikan potensi wisata tersebut.
Di sisi lain, OJK membuka peluang kolaborasi dengan Pegadaian untuk mendorong masyarakat memiliki tabungan emas. Program tersebut dapat dikaitkan dengan pengelolaan sampah melalui bank sampah, dengan sampah yang telah dipilah dan dikumpulkan masyarakat nantinya dikonversi menjadi tabungan dalam bentuk emas.
Rangkaian program tersebut diarahkan untuk memperluas pilihan layanan keuangan bagi masyarakat Jagara, mulai dari pembiayaan usaha, transaksi digital, hingga simpanan. Penguatan akses tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan potensi ekonomi desa, termasuk perikanan, UMKM, dan pariwisata. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara