Karakteristik rawa dan gambut membuat sejumlah kawasan di Sangatta Utara berulang kali mengalami kebakaran, mendorong pemerintah kecamatan memetakan titik rawan dan memusatkan koordinasi penanganan melalui Posko Karhutla.
ADVERTORIALÂ – Kebakaran yang berulang di sejumlah kawasan rawa dan lahan gambut menjadi perhatian Pemerintah Kecamatan Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), selama musim kemarau. Kawasan Kenyamukan, Guru Besar, Bukit Pelangi, hingga belakang Masjid Al-Faruq termasuk lokasi yang dipetakan rawan karena api dapat kembali muncul meski sebelumnya telah dipadamkan.
Camat Sangatta Utara Hasdiah Dohi mengatakan karakteristik rawa dan gambut menjadi salah satu faktor yang membuat sejumlah lokasi berulang kali mengalami kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
“Lokasinya sih kami anggap di situ-situ saja, tapi sering menyala berkali-kali. Terus daerah Bukit Pelangi, karena kalau kita lihat, memang di situ rawa, gambut, jadi itu yang sering,” ujarnya.
Sejumlah kawasan yang masuk dalam pemetaan rawan Karhutla meliputi Guru Besar dan Kenyamukan, belakang Masjid Al-Faruq Sangatta dan Perseroan Terbatas (PT) Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN, Bukit Pelangi, serta perbatasan Swarga Bara dengan Kecamatan Rantau Pulung.
“Tapi yang paling sering itu daerah Menyamukan, Guru Besar, dan di belakang masjid,” katanya.
Selain kawasan tersebut, Karhutla juga dilaporkan terjadi di belakang Sekolah Menengah Atas (SMA) 2 di wilayah Singa Gembara serta kawasan perbatasan Swarga Bara dengan Rantau Pulung.
Untuk mempercepat respons terhadap potensi kebakaran yang berulang, Kecamatan Sangatta Utara mengoperasikan Posko Penanganan Karhutla yang dipusatkan di halaman Kantor Camat Sangatta Utara sejak 4 September 2026. Posko tersebut digunakan sebagai pusat koordinasi tim yang melakukan pemantauan dan penanganan kebakaran di lapangan.
“Kegiatan karhutla mulai dari tanggal 4 September kami membuka posko untuk Kecamatan Sangatta Utara, itu tujuannya adalah bagaimana koordinasi kami terhadap tim yang ada di lapangan itu bisa menyatu dan bisa terkoordinir dari posko itu sendiri,” ujar Hasdiah saat ditemui di Kantor Camat Sangatta Utara, Sabtu (19/09/2026).
Pemetaan kawasan rawan dan pemusatan koordinasi melalui Posko Karhutla diharapkan membuat respons petugas lebih cepat ketika api kembali muncul, terutama pada kawasan rawa dan gambut yang memiliki risiko kebakaran berulang. Langkah tersebut juga diarahkan untuk menekan potensi perluasan kebakaran selama musim kemarau di Sangatta Utara. []
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara