BANGKALAN – Kekeringan ekstrem di wilayah utara Kabupaten Bangkalan (Bangkalan), Jawa Timur (Jatim), memaksa sekitar 800 kepala keluarga (KK) di Dusun Barat Leke, Desa Gunilap, Kecamatan Sepulu, menempuh perjalanan hingga 2 kilometer untuk mendapatkan air dari sumber yang masih bertahan.
Kondisi tersebut terjadi ketika puncak kemarau berlangsung pada Agustus hingga September 2026. Penurunan curah hujan yang berlangsung sejak akhir Februari membuat sejumlah sumber air dan sumur warga di kawasan dataran tinggi Bangkalan Utara mulai mengering sejak pertengahan Mei.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga yang tidak mampu membeli air memilih mendatangi sumber mata air yang masih tersedia. Mereka membawa jeriken dan harus mengantre untuk mendapatkan air bersih.
“Memang dari dulu desa kami setiap kemarau kesusahan air karena sepertinya kemarau ini masih panjang. Bagi masyarakat yang mampu bisa membeli air, tapi warga umumnya mencari sumber mata air yang masih bertahan meski harus mengantre,” tutur Sudarto, warga Dusun Barat Leke, sebagaimana diberitakan Surya, Senin, (14/09/2026).
Situasi tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bangkalan dan sejumlah instansi menyalurkan bantuan air bersih secara bertahap sejak awal Juli 2026.
Bantuan itu menjadi penopang bagi masyarakat di wilayah yang sumber airnya mulai terbatas. Sudarto juga menyampaikan apresiasi atas distribusi air bersih gratis yang dilakukan jajaran Pemkab Bangkalan.
Di tengah persoalan air di bagian utara, kondisi sektor pangan di wilayah Bangkalan bagian selatan relatif berbeda. Ketersediaan air untuk kebutuhan pertanian dan konsumsi masih tergolong aman sehingga kekeringan belum memberikan gangguan signifikan terhadap produksi tanaman pangan.
Kepala Bidang Tanaman Pangan TPHTP Bangkalan Abu Said mengatakan sebagian besar lahan pertanian telah melewati Musim Tanam (MT) I dan II. Kondisi tersebut membuat produksi tanaman pangan tetap dapat dipertahankan meskipun kemarau berlangsung panjang.
Ketahanan produksi juga didukung optimalisasi Program Irigasi Perpompaan (IRPOM) dari Kementerian Pertanian (Kementan). Sistem pompanisasi membantu menjaga pasokan air untuk lahan pertanian yang masih membutuhkan pengairan.
Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Tanaman Perkebunan (TPHTP) Bangkalan mencatat produksi beras pada Januari hingga Juni 2026 mencapai 206.312 ton. Dengan konsumsi sebesar 56.504 ton, daerah tersebut masih mencatat surplus beras 149.808 ton.
Kondisi itu menunjukkan dampak kemarau tidak seragam di seluruh wilayah Bangkalan. Ketika masyarakat di kawasan dataran tinggi utara menghadapi keterbatasan air untuk kebutuhan harian, produksi pangan di bagian selatan masih mampu dipertahankan.
Dampak lain terlihat pada perdagangan bahan pokok. Analis Perdagangan Ahli Muda Siti Fitriyah mengatakan harga beras premium dan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Bulog masih terpantau stabil pada pertengahan September 2026.
Harga cabai memang sempat mengalami perubahan akibat pengaruh cuaca terhadap pasokan hasil panen. Namun, secara umum stok bahan pangan masih dinilai aman dan belum terjadi kelangkaan.
Perbedaan kondisi antara kebutuhan air rumah tangga dan ketahanan produksi pangan tersebut membuat penanganan kekeringan perlu dilakukan secara spesifik berdasarkan karakter wilayah. Distribusi air bersih tetap dibutuhkan bagi desa yang sumber airnya mengering, sementara pengelolaan irigasi menjadi bagian penting untuk menjaga produktivitas pertanian.
Dengan kemarau yang diperkirakan masih menjadi tantangan, bantuan air bersih dan pengelolaan sumber daya air perlu terus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Di sisi lain, keberhasilan mempertahankan surplus beras menjadi modal penting agar krisis air di sejumlah wilayah tidak berkembang menjadi gangguan ketahanan pangan secara lebih luas. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara