BOYOLALI – Pemanfaatan energi surya untuk menggerakkan pompa air membuat lahan pertanian di Desa Sobokerto, Boyolali, Jawa Tengah (Jateng), yang sebelumnya terbatas ditanami saat kemarau, kini dapat dimanfaatkan jauh lebih luas. Perubahan tersebut terjadi melalui pendampingan Pertamina bersama Kelompok Tani (Poktan) Ngudi Makmur dalam program Desa Energi Berdikari (DEB).
Program yang berjalan sejak akhir 2024 itu dikembangkan melalui PT Pertamina Patra Niaga Aviation Fuel Terminal (AFT) Adi Soemarmo. Dukungan yang diberikan mencakup pembangunan dua sumur air, penyediaan sarana dan prasarana pertanian, serta pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) untuk mengoperasikan pompa air.
Sebelum memperoleh dukungan tersebut, Khairul Huda dan para petani Poktan Ngudi Makmur menghadapi keterbatasan air untuk menggarap lahan sekitar 4 hektare (ha). Kondisi itu membuat sebagian besar lahan tidak produktif ketika musim kemarau. “Saat musim kemarau, kami hanya mampu menanami sekitar 20 persen lahan. Selama enam bulan berikutnya kami mengalami kerugian karena tidak bisa bercocok tanam,” kata Khairul dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas, Rabu, (19/08/2026).
Kehadiran sarana pengairan dan energi tersebut kemudian meningkatkan pemanfaatan lahan secara bertahap. Pada tahun pertama pendampingan, lahan yang dapat ditanami ketika kemarau meningkat dari sekitar 20 persen menjadi 60 persen. Memasuki tahun kedua, pemanfaatannya mencapai sekitar 90 persen.
Pengembangan program tidak berhenti pada sektor pertanian. Poktan Ngudi Makmur juga mendapat pendampingan untuk mengembangkan peternakan secara berkelompok. Para petani memanfaatkan gulma yang tumbuh di Waduk Cengklik sebagai pakan alternatif ternak sehingga material yang sebelumnya mengganggu lingkungan dapat memberikan nilai ekonomi tambahan.
Penggunaan PLTS juga membuat kelompok tani memiliki sumber energi terbarukan untuk menjalankan pompa air. Selain mengurangi ketergantungan terhadap listrik konvensional, pemanfaatan energi tersebut turut mendukung upaya mengurangi emisi di lingkungan sekitar.
Khairul menilai perubahan tersebut memberikan dampak langsung terhadap kondisi ekonomi petani. “Dampaknya sangat besar terhadap perekonomian kami. Dulu kami sangat kesulitan sebagai petani. Sekarang, alhamdulillah kehidupan kami semakin sejahtera,” katanya.
Wakil Presiden Komunikasi Korporat Pertamina, Muhammad Baron, mengatakan program DEB menunjukkan bahwa kemandirian masyarakat dapat dibangun melalui pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT). Menurut dia, program tersebut diarahkan untuk mendorong masyarakat agar mampu mengembangkan potensi lokal secara berkelanjutan.
“DEB tak sekadar menghadirkan akses energi yang lebih ramah lingkungan, tetapi juga membangun kemandirian desa melalui sektor pertanian, perikanan, pariwisata, hingga pengelolaan lingkungan,” tutur Baron.
Model pendampingan tersebut menunjukkan bahwa penyediaan energi dapat menjadi pengungkit bagi sektor produktif di desa. Dengan akses air yang lebih baik, energi terbarukan, serta pengembangan pertanian dan peternakan, masyarakat memiliki peluang memperluas kegiatan ekonomi sekaligus menjaga lingkungan secara berkelanjutan. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara