JAKARTA – Media sosial tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga dimanfaatkan sejumlah kreator konten untuk mengedukasi masyarakat sekaligus mendorong perubahan nyata di bidang lingkungan, ekonomi perdesaan, serta pelestarian sejarah dan budaya. Gagasan itu terlihat dari aktivitas Jerhemy Owen, Hendri Alejandro, dan Elsa Novia Sena yang mengemas persoalan di lapangan menjadi konten yang lebih mudah dipahami publik.
Ketiganya menunjukkan pendekatan berbeda dalam menggunakan media sosial. Owen mengangkat isu pelestarian lingkungan, Hendri membantu pemasaran produk warga desa, sedangkan Elsa mengenalkan sejarah, warisan budaya, dan pariwisata Tangerang melalui konten digital.
Sebagaimana diberitakan Antara, Rabu (19/8/2026), ketiga kreator tersebut menggunakan pengalaman langsung sebagai bahan pembuatan konten. Cara itu dinilai membuat isu yang sebelumnya terasa rumit menjadi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Owen, misalnya, mulai tertarik mengedukasi publik mengenai lingkungan setelah menempuh pendidikan sarjana Ilmu Lingkungan di Belanda. Pengalamannya mempelajari emisi karbon dan jejak karbon atau carbon footprint membuatnya menyadari bahwa istilah lingkungan dapat terasa sulit bagi masyarakat yang belum mengenalnya.
Dari pengalaman tersebut, Owen kemudian memilih pendekatan komunikasi yang lebih sederhana. Aktivitasnya berkembang dari edukasi digital menjadi berbagai kegiatan nyata di lapangan.
Setelah menghadiri forum lingkungan global Konferensi Para Pihak ke-29 atau Conference of the Parties (COP) ke-29 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Azerbaijan, Owen terlibat dalam gerakan Wenanam di Aceh. Program tersebut memadukan penanaman pohon di wilayah yang terdampak banjir dan longsor dengan edukasi melalui media digital.
Tanaman yang dikembangkan tidak hanya ditujukan untuk pemulihan ekosistem. Jenis yang dipilih mencakup pohon pionir, tanaman pelindung habitat atau barrier alami bagi satwa liar, serta tanaman produktif melalui sistem agroforestry, seperti kopi dan durian, yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui pembangunan akses air bersih dan sekolah di sejumlah wilayah.
“Kami juga ada pembangunan akses air bersih, yaitu Wengalir, membangun akses air bersih di Nusa Tenggara Timur, juga membangun sekolah,” kata pemilik akun @jerhemynemoo itu.
Sementara itu, dampak media sosial terhadap ekonomi masyarakat desa terlihat dari aktivitas Hendri Alejandro. Pemuda asal Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, tersebut mulai mengembangkan konten setelah berinteraksi dengan pelanggan kedai kopi yang dikelolanya pada akhir 2021.
Dari percakapan dengan pelanggan, Hendri mengetahui banyak perajin konveksi pakaian bayi rumahan mengalami tekanan usaha akibat pandemi COVID-19. Ia bersama tim kemudian membangun toko digital melalui akun media sosial @Ibun_mall untuk membantu memasarkan produk konveksi lokal.
Promosi dilakukan melalui siaran langsung secara rutin. Konten yang menampilkan aktivitas warga dan proses usaha secara langsung kemudian menjadi sarana pemasaran sekaligus membantu para perajin mempertahankan usaha dan membuka peluang pekerjaan bagi masyarakat sekitar.
Pendekatan berbeda dilakukan Elsa Novia Sena. Ia awalnya membuat konten mengenai makanan rumahan sehat sesuai latar belakang pendidikannya. Namun, perhatian penonton meningkat ketika pada November 2022 ia mendokumentasikan prosesi peringatan satu tahun kematian neneknya dalam tradisi adat Tionghoa.
Video tersebut ditonton lebih dari satu juta kali. Pengalaman itu membuat Elsa melihat bahwa cerita yang memiliki kedekatan emosional dengan kehidupan masyarakat dapat menjadi pintu masuk untuk membahas sejarah dan budaya.
Elsa kemudian secara rutin memproduksi konten sejarah dan warisan budaya peranakan Tionghoa. Ia juga mengangkat persoalan perusakan atau vandalisme makam kapiten Tionghoa terakhir di Tangerang yang sempat mendapat perhatian publik.
Edukasi digital itu selanjutnya dikembangkan melalui kegiatan luring atau luar jaringan berupa tur jalan kaki Benteng Walking Tour di kawasan Pasar Lama Tangerang. Peserta diajak melihat langsung situs sejarah serta memahami nilai akulturasi budaya dan toleransi melalui keberadaan kelenteng dan masjid tua yang berdampingan.
Peserta tur tersebut tidak hanya berasal dari Tangerang. Kegiatan itu juga menarik perhatian wisatawan dari luar daerah hingga mancanegara.
“Bahkan pernah juga ada orang Malaysia, ada Belanda juga pernah, Jepang, sama kemarin juga dari China ada,” kata pemilik akun @elsa.novias itu mengenai peserta kegiatan tur yang dia adakan.
Pengalaman ketiga kreator tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan media sosial tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah penonton. Konten yang berangkat dari persoalan nyata di masyarakat dapat menjadi sarana edukasi sekaligus mendorong keterlibatan publik dalam berbagai isu.
Dari upaya menjaga lingkungan, membantu pemasaran produk warga desa, hingga memperkenalkan sejarah dan budaya, media sosial dapat mempertemukan informasi dengan tindakan nyata. Pendekatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kontribusi di era digital dapat dimulai dari persoalan yang ditemukan di lingkungan sekitar. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara