TEGAL – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Institut Pertanian Bogor (KKN-T IPB) mendorong siswa di Desa Sokatengah, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, untuk berani menetapkan cita-cita dan mempertimbangkan pendidikan tinggi sebagai bagian dari rencana masa depan. Pesan tersebut disampaikan melalui kegiatan motivasi pendidikan yang diikuti 162 siswa sekolah menengah pertama.
Kegiatan bertajuk “Mimpi Besar dari Anak Desa” berlangsung di aula SMP Negeri 4 Bumijawa pada Selasa (4/8/2026). Selama sekitar 120 menit, mahasiswa KKN-T IPB mengajak siswa kelas VII hingga IX berdiskusi mengenai cita-cita, pentingnya ketekunan belajar, serta peluang memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikan.
Sebagaimana diberitakan Good News From Indonesia, Selasa (18/8/2026), kegiatan tersebut berawal dari perhatian pihak sekolah terhadap keinginan agar siswa memiliki kesempatan lebih luas untuk melanjutkan pendidikan setelah menyelesaikan sekolah menengah. Kekhawatiran mengenai biaya dan latar belakang kehidupan di desa menjadi salah satu hal yang muncul dalam percakapan bersama mahasiswa.
“Bisa bantu kasih motivasi belajar buat anak-anak (siswa SMP) nggak ya, Mas, Mbak? *Saya ingin mereka bisa lanjut kuliah. Katanya sekarang ada kampus yang gratis,” ujar Dani, Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan Masyarakat (Humas) SMP Negeri 4 Bumijawa, Senin (27/7/2026).
Koordinator Desa KKN-T IPB di Sokatengah, Mochamad Azril Vadila, membuka kegiatan dengan meminta siswa membayangkan profesi yang ingin mereka jalani ketika dewasa. Jawaban siswa beragam, mulai dari pengusaha, profesor, atlet sepak bola hingga profesi lainnya.
Mahasiswa kemudian mengarahkan diskusi pada pentingnya membangun kebiasaan belajar dan ketekunan sejak sekolah. Siswa juga diperkenalkan dengan berbagai kemungkinan yang dapat membantu mereka melanjutkan pendidikan setelah lulus sekolah menengah.
“Tapi semua mimpi kalian nggak cukup cuma dari belajar saja. Harus ada tekad, karena kalau malas, sama saja mimpimu berhenti di situ,” ujar Azril.
Dalam diskusi mengenai pendidikan tinggi, sebagian siswa mengungkapkan keraguan yang berkaitan dengan latar belakang mereka. Amel, siswi kelas IX, mengatakan dirinya merasa kurang percaya diri karena berasal dari desa.
“Minder, Kak. Kami dari desa,” celetuknya.
Sementara itu, Adela, siswi kelas VII, menyampaikan keinginannya untuk melanjutkan pendidikan.
“Mau lanjut, Kak!” katanya.
Untuk menjawab kekhawatiran mengenai biaya, mahasiswa memperkenalkan beasiswa sebagai salah satu pilihan yang dapat dicari siswa ketika hendak melanjutkan pendidikan tinggi.
“Kalau kalian pintar, nggak perlu pusing mikir biaya kuliah. Banyak kampus yang buka beasiswa dan kalian bisa dapat uang saku dari beasiswanya,” jelas Azril.
Menjelang kegiatan berakhir, siswa diminta menuliskan cita-cita serta gambaran kehidupan yang ingin mereka capai. Lima siswa kemudian maju untuk membacakan tulisan tersebut di depan teman-temannya.
Salah satu siswa, Revani dari kelas VIII, menyampaikan keinginannya menjadi peneliti di Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA).
“Perkenalkan saya Revani. Di masa depan nanti ingin bekerja jadi peneliti di NASA dan punya gaji Rp300 juta per bulan,” ujarnya saat membacakan cita-citanya di hadapan teman-temannya.
Kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan untuk mengenalkan pilihan pendidikan, tetapi juga membangun keberanian siswa menyampaikan cita-cita di depan orang lain. Mahasiswa KKN-T IPB berharap pengalaman tersebut dapat mendorong siswa melihat pendidikan sebagai salah satu jalan untuk memperluas kesempatan di masa depan.
“Jadi, walaupun kalian dari desa, jangan minder, jangan putus sekolah. Terus belajar, mau di mana pun dan kapan pun,” tutur Azril saat menutup kegiatan.
Meskipun kegiatan motivasi berlangsung sehari, mahasiswa berharap semangat yang dibangun melalui diskusi dan penulisan cita-cita dapat diteruskan dalam kehidupan sehari-hari. Pesan utama yang dibawa dari Sokatengah ialah latar belakang desa tidak semestinya menjadi penghalang bagi siswa untuk merencanakan pendidikan dan mengejar cita-cita setinggi mungkin. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara