KAB. SEMARANG – Transformasi pertanian di Desa Kemetul, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, menjadi sorotan setelah sistem semi-organik yang diterapkan berhasil meningkatkan produktivitas padi sekaligus menekan biaya produksi petani melalui pemanfaatan limbah lokal sebagai pupuk alternatif.
Perubahan ini terjadi sejak petani desa tersebut mulai meninggalkan ketergantungan pupuk kimia secara bertahap dan beralih ke sistem ramah lingkungan berbasis pupuk organik cair dari limbah tahu serta mikroorganisme tanah.
Langkah ini tidak hanya berdampak pada hasil panen yang meningkat, tetapi juga mendorong munculnya model ekonomi sirkular di sektor pertanian desa yang dinilai lebih berkelanjutan dan menguntungkan petani.
Kepala Desa Kemetul, Agus Sudibyo, menyampaikan bahwa keberhasilan program ini tidak lepas dari perubahan pola pikir petani serta keterlibatan generasi muda dalam proses pertanian modern berbasis lingkungan.
“Karena jika menjalankan sistem pertanian semi-organik ataupun organik itu kuncinya ada di kedisplinan proses pemupukan dengan pupuk organik di lahan pertanian, dan petani-petani muda inilah yang kami andalkan untuk memulai pelaksanaan sistem pertanian semi-organik di desa kami, jadi kami ubah dulu pola pikir petani dengan melibatkan anak-anak muda ini,” terang Agus Sudibyo, sebagaimana diberitakan Lingkartv, Senin, (04/05/2026).
Ia menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar adalah kebiasaan petani yang selama ini bergantung pada pupuk kimia karena dianggap lebih cepat memberikan hasil, meski berdampak pada penurunan kualitas tanah dalam jangka panjang.
“Mereka terbiasa dengan semua serba instan dengan penggunaan pupuk kimia, tapi dampaknya ternyata tanah di lahan-lahan pertanian itu rusak. Sehingga dengan perubahan sistem pertanian di Desa Kemetul ini menjadi semi-organik tentu kami melakukan upaya sosialisasi ke petani-petani dan di gabungan kelompok tani dengan menggandeng petani-petani milenial,” paparnya.
Dalam implementasinya, Desa Kemetul mengurangi penggunaan pupuk kimia hingga 70 persen dan menggantinya dengan pupuk organik cair hasil olahan limbah rendaman tahu, serta tambahan mikroba tanah untuk memperbaiki struktur lahan pertanian yang telah mengalami degradasi.
Hasilnya, produktivitas padi tercatat meningkat sekitar 500 kilogram per hektare dibandingkan sistem konvensional, dengan rata-rata produksi mencapai 6,9 ton per hektare meski masih menghadapi tantangan hama dan cuaca ekstrem.
Selain peningkatan produksi, harga beras dari sistem semi-organik juga cenderung lebih tinggi di pasar karena dinilai lebih sehat, sehingga memberikan nilai tambah ekonomi bagi petani di desa tersebut.
Agus menambahkan bahwa ke depan, desa mendorong hilirisasi produk pertanian agar petani tidak hanya menjual gabah, melainkan beras kemasan bernilai jual lebih tinggi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat desa.
Program ini juga selaras dengan arah kebijakan Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan RI) dalam pengembangan Desa Pertanian Organik yang menargetkan peningkatan kualitas tanah dan daya saing hasil pertanian nasional.
Inovasi pertanian berbasis limbah ini memperlihatkan bagaimana desa mampu membangun model ekonomi hijau yang tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga keberlanjutan lingkungan dan kemandirian ekonomi petani. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara