BALIK tugas-tugas pemerintahan yang melekat pada dirinya sebagai Kepala Dusun Gunungtelu, Kecamatan Karangpucung, Kabupaten Cilacap, tersimpan bakat seni yang tak biasa. Ia adalah Darlam, seorang perangkat desa yang dikenal luas di kalangan seniman lokal sebagai pelukis wayang dan pengukir kaligrafi.
Bukan sekadar hobi, kesenian yang ditekuninya sejak era 1990-an itu telah menjadi napas kehidupan dan identitas budaya di tengah komunitas desa. Berawal dari kecintaannya pada dunia pewayangan, Darlam mulai memadukan seni lukis dan teknik ukir kayu untuk menghadirkan figur-figur tokoh seperti Gatotkaca, Werkudara, hingga Semar, dalam bentuk visual yang hidup dan sarat nilai filosofis.
Di tengah pesatnya modernisasi, sosok Darlam membuktikan bahwa desa bukan sekadar ruang tinggal, tetapi ruang berkarya. Dengan teknik ukir manual yang masih dijaga keasliannya, ia menciptakan kaligrafi Arab dalam bingkai ukiran klasik, menjadikan karyanya unik dan bernilai seni tinggi.
Tak sedikit karyanya kini menghiasi rumah-rumah warga, kantor pemerintahan, bahkan masjid dan madrasah di wilayah Cilacap bagian barat. Ia pun kerap diundang dalam pameran seni tradisional tingkat kabupaten maupun provinsi.
Yang istimewa dari Darlam bukan hanya kemahirannya, tetapi perannya dalam menginspirasi generasi muda desa. Ia membuka ruang belajar seni di rumahnya bagi anak-anak dan remaja. Ia percaya bahwa seni mampu meredam konflik, menyatukan keragaman, dan membangun karakter desa yang bermartabat.
Bagi Darlam, menjadi kepala dusun tidak menghalangi dirinya untuk berkesenian. Justru dari perannya sebagai pemimpin kampung kecil inilah, seni rakyat kembali hidup, tumbuh dari akar, dan lestari tanpa tergerus zaman.
Redaksi01-Alfian
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara