MAGELANG – Pengembangan 1.000 desa wisata di Jawa Tengah pada 2026–2027 diarahkan untuk membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat pedesaan. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) menyiapkan penguatan potensi wisata alam, budaya, kuliner, dan produk unggulan desa agar manfaat kunjungan wisatawan tidak hanya terkonsentrasi di destinasi utama.
Program tersebut juga akan menghubungkan sejumlah destinasi wisata sehingga wisatawan dapat menikmati beragam pengalaman sekaligus menggerakkan usaha masyarakat di kawasan sekitarnya.
Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ahmad Luthfi menyampaikan rencana tersebut saat berdialog dengan pelaku pariwisata di Desa Wisata Candirejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Kamis (05/11/2026). Ia menilai pengembangan desa wisata membutuhkan kerja sama pemerintah, pengelola destinasi, komunitas, pelaku usaha, dan masyarakat setempat.
Menurut Luthfi, arah pengembangan pariwisata Jateng pada 2027 mengutamakan konsep pariwisata berkelanjutan. Konektivitas antardestinasi menjadi salah satu strategi untuk memperluas jangkauan aktivitas wisata sekaligus meningkatkan keterlibatan pelaku ekonomi lokal.
“Kita sudah punya program untuk melakukan konektivitas desa wisata. Jadi dari makanannya dapat, kemudian dari budayanya dapat, dari hotelnya dapat,” ujarnya.
Konektivitas tersebut diharapkan membuka ruang bagi usaha kuliner, penginapan, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta komunitas wisata di desa untuk terlibat dalam rantai ekonomi pariwisata.
Salah satu kegiatan yang diharapkan memberi dampak terhadap perekonomian kawasan adalah Bank Jateng Borobudur Marathon 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 15 November 2026. Ajang yang memasuki satu dekade penyelenggaraan itu menargetkan partisipasi 12.500 pelari dari berbagai daerah dan negara.
Luthfi meminta penyelenggara memastikan kegiatan berskala internasional tersebut turut memberikan manfaat kepada masyarakat sekitar Borobudur. Keterlibatan UMKM dan pelaku usaha desa dinilai perlu diperkuat agar aktivitas wisata tidak hanya berpusat pada penyelenggaraan perlombaan.
Perwakilan penyelenggara Borobudur Marathon dari Kompas, Budi Sarwanto, mengatakan kegiatan tersebut juga diarahkan untuk mendukung pengembangan pariwisata dan pemberdayaan masyarakat setempat.
“Kita tidak hanya fokus menyelenggarakan event, khususnya lari saja. Tetapi bagaimana kita juga bisa berinteraksi, mengembangkan pariwisata, dan mengembangkan masyarakat,” katanya.
Menurut Budi, penyelenggara telah melibatkan berbagai pelaku usaha pariwisata, termasuk pengelola homestay, guest house, hotel, dan paguyuban andong. Pemberdayaan UMKM lokal juga dilakukan melalui program Bank Jateng Pawone.
Selain peluang ekonomi, pengembangan desa wisata membutuhkan dukungan infrastruktur yang memadai. Hal itu disampaikan Supri, pengelola Wisata Negeri Kahyangan di Desa Wonolelo, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, yang mengusulkan pelebaran jalan menuju kawasan wisata.
Ia menyebut destinasi yang dikelola masyarakat desa tersebut dikunjungi sekitar 20.000 hingga 40.000 orang setiap bulan. Namun, jalan sepanjang 2,7 kilometer menuju lokasi masih memiliki lebar sekitar tiga meter.
Supri berharap pemerintah mendukung pelebaran akses jalan menjadi lima meter agar perjalanan wisatawan menuju lokasi lebih nyaman dan lancar.
“Yang kami usulkan, jalan tersebut bisa dilebarkan. Kalau bisa menjadi lima meter, sehingga ketika wisatawan masuk ada rasa nyaman,” ungkapnya.
Pengaktifan desa wisata dan penguatan konektivitas antardestinasi diharapkan dapat memperluas keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pariwisata. Di sisi lain, usulan perbaikan akses dari pengelola destinasi menunjukkan bahwa pengembangan potensi wisata desa juga membutuhkan dukungan infrastruktur agar peluang ekonomi lokal dapat berkembang lebih optimal. []
Redaksi02
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara