Akses antara Desa Palengaan Daya dan Desa Palengaan Laok, Pamekasan, diperkuat warga melalui pembangunan jembatan swadaya sepanjang 26 meter yang dibutuhkan untuk aktivitas sekolah dan pertanian.
PAMEKASAN – Warga Desa Palengaan Daya dan Desa Palengaan Laok, Kecamatan Palengaan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, membangun jembatan secara swadaya untuk memperkuat akses antarwilayah desa, terutama bagi anak sekolah dan masyarakat yang beraktivitas di sektor pertanian.
Jembatan sepanjang 26 meter dengan lebar 2 meter itu dibangun setelah kondisi jembatan lama berbahan kayu semakin rusak. Warga mengumpulkan dana secara gotong royong dengan sumbangan mulai Rp50.000 hingga Rp500.000 dari masyarakat, termasuk perantau, serta menghimpun bantuan di jalan.
Pembangunan dilakukan dalam beberapa hari terakhir dan kini memasuki tahap pengecoran. Warga memilih memperkuat jembatan sebelum musim hujan karena kondisi jalur tersebut berpengaruh terhadap mobilitas masyarakat dari kedua desa.
Moh Wasil, salah satu warga, mengatakan jembatan tersebut merupakan jalur alternatif yang menghubungkan kedua desa. Akses itu digunakan anak-anak untuk menuju sekolah serta warga yang menjalankan aktivitas pertanian.
“Warga akhirnya sumbangan. Bukan hanya donatur warga dan perantau saja, warga juga meminta sumbangan di jalan,” ucapnya.
Menurut Wasil, kondisi jembatan menjadi persoalan penting bagi aktivitas pendidikan. Ketika hujan turun, anak sekolah harus berjalan kaki sekitar dua kilometer untuk mencapai sekolah. Bahkan, puluhan anak disebut tidak bersekolah saat hujan.
Kondisi tersebut mendorong warga mempercepat pembangunan dengan memaksimalkan dana yang terkumpul. Jembatan sebelumnya hanya terbuat dari kayu dan tidak memiliki pondasi beton, sehingga warga mengarahkan hasil sumbangan untuk membangun struktur yang lebih kuat.
Sebagaimana diberitakan Kompas, Rabu, (23/09/2026), upaya pembangunan secara swadaya dilakukan setelah warga sebelumnya menyampaikan pengajuan pembangunan jembatan melalui layanan Lapor Mas Wapres kepada Wakil Presiden (Wapres) pada 2025. Pengajuan tersebut juga disampaikan kepada pemerintah daerah, tetapi menurut Wasil belum menghasilkan perbaikan jembatan.
“Berkas sudah kami serahkan ke Jakarta langsung. Ada surat terimanya, tapi setelah itu tidak ada kabar lagi,” katanya.
Warga sebelumnya berharap pembangunan jembatan dapat menunjang aktivitas pendidikan dan pertanian yang berlangsung di kedua desa. Namun, setelah menunggu sekitar satu tahun, masyarakat akhirnya memilih menggalang dana sendiri untuk memperbaiki akses tersebut.
“Dari pemerintah daerah juga hanya janji berbulan-bulan tapi tidak ada perbaikan,” tuturnya.
Dalam pembangunan kali ini, dukungan juga datang dari Kepala Desa (Kades) setempat yang menyumbang secara pribadi sekitar 50 sak semen. Bantuan tersebut digunakan bersama dana yang dihimpun masyarakat untuk memperkuat jembatan.
“Kepala desa di sini juga menyumbang secara pribadi, sekitar 50 sak semen,” katanya.
Wasil mengatakan pembangunan jembatan dilakukan dengan melibatkan masyarakat karena akses tersebut dinilai perlu segera diperbaiki sebelum memasuki musim hujan. Selain menjadi penghubung antar-desa, jalur itu memiliki fungsi bagi aktivitas pendidikan dan pertanian warga.
Dengan pembangunan secara swadaya tersebut, warga berupaya menghadirkan akses yang lebih kuat di antara Desa Palengaan Daya dan Desa Palengaan Laok. Jembatan yang sedang dibangun diharapkan dapat kembali mendukung mobilitas anak sekolah dan masyarakat yang menjalankan kegiatan pertanian, terutama ketika musim hujan tiba. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara