Mahasiswa KKN Universitas Ma’soem mengubah fokus program setelah mendapati persoalan pertanian menjadi aspirasi utama warga Desa Cijambe, Sumedang.
SUMEDANG – Persoalan pertanian masyarakat menjadi fokus utama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Ma’soem di Desa Cijambe, Kabupaten Sumedang, setelah hasil pemetaan awal menunjukkan kebutuhan warga justru lebih banyak berkaitan dengan pertanian, pendidikan, dan ekonomi daripada teknologi.
Kondisi tersebut mendorong mahasiswa mengubah pendekatan program KKN yang semula banyak berangkat dari latar belakang keilmuan mereka. Alih-alih langsung menawarkan digitalisasi, mahasiswa memilih mendengarkan kebutuhan masyarakat dan menggelar seminar pertanian sebagai salah satu bentuk kontribusi yang dinilai lebih sesuai dengan kondisi desa.
KKN Universitas Ma’soem tahun ajaran 2026 di Desa Cijambe dimulai pada 8 Juli 2026. Pada awal kegiatan, mahasiswa telah menyiapkan sejumlah rancangan program berdasarkan bidang ilmu masing-masing, termasuk gagasan pemanfaatan teknologi oleh mahasiswa Sistem Informasi.
Namun, arah tersebut berubah setelah lokakarya pertama pada 13 Juli 2026. Dalam kegiatan itu, masyarakat menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi. Aspirasi paling banyak berkaitan dengan pertanian, kemudian pendidikan dan ekonomi, sedangkan kebutuhan di bidang teknologi relatif sedikit.
Sebagaimana diberitakan Kompasiana, Senin (21/09/2026), kondisi tersebut menjadi bahan evaluasi mahasiswa untuk menyesuaikan program dengan kebutuhan masyarakat Desa Cijambe.
Persoalan pertanian yang ditemukan mahasiswa tidak hanya berkaitan dengan proses produksi. Berdasarkan hasil diskusi dengan organisasi Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dan petani setempat, persoalan juga mencakup pemasaran, harga jual hasil panen, kondisi cuaca, regenerasi petani, hingga ketergantungan pengairan sawah terhadap curah hujan.
Kondisi tersebut turut berkaitan dengan rendahnya minat sebagian anak muda terhadap sektor pertanian. Waktu produksi yang panjang, risiko gagal panen akibat cuaca, serta harga hasil pertanian yang dinilai rendah ketika dijual kepada tengkulak menjadi sejumlah persoalan yang diperhatikan mahasiswa selama kegiatan KKN.
Mahasiswa kemudian melihat bahwa persoalan regenerasi petani tidak dapat dilepaskan dari kondisi ekonomi dan keberlanjutan sektor pertanian di Desa Cijambe. Karena itu, keterlibatan generasi muda tidak harus selalu diwujudkan dengan menjadi petani, tetapi dapat dilakukan melalui berbagai peran yang mendukung sektor tersebut.
Atas pertimbangan itu, mahasiswa menggelar seminar pertanian yang diikuti petani Desa Cijambe, anggota Gapoktan, dan Karang Taruna. Dosen Universitas Ma’soem turut dihadirkan sebagai narasumber untuk membuka pembahasan mengenai persoalan serta peluang pengembangan pertanian.
Salah satu materi yang dibahas adalah kemungkinan menambah jenis tanaman selain padi. Mahasiswa memperkenalkan gagasan budidaya sayuran yang memiliki masa tanam lebih pendek serta peluang pemasaran melalui kerja sama dengan toko atau supermarket.
Gagasan tersebut tidak diarahkan untuk menggantikan tanaman padi, tetapi menjadi alternatif yang dapat dipertimbangkan petani dalam mengembangkan kegiatan pertanian dan memperluas peluang pemasaran hasil produksi.
Pembahasan lainnya menyasar peran generasi muda dalam sektor pertanian. Mahasiswa melihat anak muda dapat berkontribusi melalui pembuatan konten, pemasaran produk pertanian, promosi potensi pertanian desa, maupun peningkatan kualitas hasil pertanian sesuai bidang keahlian masing-masing.
Bagi mahasiswa Sistem Informasi, teknologi tetap dinilai memiliki peluang untuk mendukung sektor pertanian, antara lain melalui pengelolaan data, pencatatan, pemasaran, dan kebutuhan lainnya. Namun, pengalaman selama KKN menunjukkan bahwa penerapan teknologi perlu disesuaikan dengan kebutuhan serta kesiapan masyarakat.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya mahasiswa untuk memberikan kontribusi dalam waktu KKN yang terbatas. Mereka menyadari persoalan pertanian di Desa Cijambe membutuhkan keterlibatan banyak pihak, sumber daya, kebijakan, pendanaan, dan keberlanjutan sehingga tidak dapat diselesaikan melalui satu program dalam waktu sekitar 30 hari.
Pengalaman tersebut juga mengubah cara mahasiswa memandang kegiatan pengabdian. Program KKN tidak hanya menjadi kesempatan untuk menerapkan ilmu yang dimiliki, tetapi juga proses memahami kebutuhan masyarakat sebelum menentukan bentuk kontribusi.
Seminar pertanian akhirnya menjadi ruang pertemuan antara petani, Gapoktan, generasi muda, dan akademisi untuk membahas persoalan serta peluang sektor pertanian Desa Cijambe. Upaya tersebut diharapkan dapat membuka gagasan baru tanpa mengabaikan pengalaman dan kebutuhan masyarakat yang telah lama bergelut dengan persoalan pertanian. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara