227 Desa di NTB Terdampak Kekeringan, 3 Kabupaten Tanggap Darurat

MATARAM – Kekeringan di Nusa Tenggara Barat (NTB) telah berdampak pada 263.310 jiwa yang tersebar di 227 desa dan kelurahan pada sembilan kabupaten/kota. Kondisi tersebut mendorong tiga kabupaten menaikkan status penanganan menjadi tanggap darurat, sementara enam wilayah lainnya berada dalam status siaga darurat.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB Sadimin mengatakan perluasan dampak kekeringan membuat pemerintah daerah meningkatkan langkah penanganan, terutama untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.

“ada sembilan kabupaten/kota telah menetapkan status siaga darurat kekeringan dan tiga kabupaten di antaranya telah meningkatkan status menjadi tanggap darurat,” ujarnya di Mataram, Minggu.

Berdasarkan pendataan BPBD NTB, kekeringan telah menyebar ke 66 kecamatan dengan jumlah warga terdampak mencapai 84.837 kepala keluarga (KK) atau 263.310 jiwa. Untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, distribusi air bersih yang telah dilakukan BPBD kabupaten/kota bersama BPBD NTB mencapai 3.382.300 liter.

Lombok Timur menjadi salah satu wilayah dengan dampak terbesar. Kekeringan di wilayah tersebut telah memengaruhi 92.999 jiwa yang tersebar di 41 desa, sedangkan air bersih yang telah disalurkan baru mencapai 40 ribu liter.

Tiga wilayah yang telah menetapkan status tanggap darurat adalah Sumbawa Barat, Sumbawa, dan Bima. Di Sumbawa Barat, dampak kekeringan mencakup tiga kecamatan dan delapan desa dengan 1.690 KK atau 5.795 jiwa. Distribusi air di wilayah tersebut telah mencapai 1,35 juta liter.

Di Sumbawa, kekeringan berdampak pada 13 kecamatan dan 26 desa dengan 10.703 KK atau 42.728 jiwa. Penyaluran air bersih telah mencapai 640 ribu liter.

Sementara itu, Kabupaten Bima mencatat dampak di 14 kecamatan dan 42 desa. Sebanyak 9.222 KK atau 28.894 jiwa terdampak dengan distribusi air mencapai 320 ribu liter.

Untuk wilayah yang masih berstatus siaga darurat, Kabupaten Lombok Tengah mencatat dampak pada sembilan kecamatan dan 48 desa. Sebanyak 11.232 KK atau 33.695 jiwa terdampak, dengan distribusi air mencapai 460 ribu liter.

Kabupaten Dompu mencatat 3.235 KK atau 8.940 jiwa terdampak di empat kecamatan dan 10 desa. Penyaluran air di wilayah itu mencapai 340 ribu liter.

Di Kabupaten Lombok Utara, kekeringan berdampak pada 5.315 KK atau 17.855 jiwa yang tersebar di lima kecamatan dan 18 desa. Distribusi air telah mencapai 200 ribu liter.

Kabupaten Lombok Barat mencatat 7.474 KK atau 27.090 jiwa terdampak di enam kecamatan dan 21 desa. Namun, volume air yang telah disalurkan baru 32.300 liter.

Sementara itu, Kota Bima mencatat 1.129 KK atau 3.287 jiwa terdampak di empat kecamatan dan 12 desa dengan wilayah yang masuk dalam penanganan kekeringan.

“Seluruh wilayah NTB saat ini telah memasuki periode musim kemarau yang dipicu oleh fenomena El Nino. Kondisi diperparah dengan Hari Tanpa Hujan (HTH) yang kian memanjang,” terang Sadimin.

Meluasnya wilayah terdampak juga terlihat dari pemetaan kondisi kekeringan. Sebagian besar wilayah Pulau Lombok dan kawasan Pulau Sumbawa bagian timur serta barat telah masuk zona merah dalam Rencana Aksi Kekeringan.

“Pada peta sebaran, hampir seluruh Lombok (kecuali sebagian kecil Lombok Tengah) dan sebagian besar Pulau Sumbawa bagian timur dan barat masuk dalam zona merah atau Rencana Aksi Kekeringan,” ungkapnya, sebagaimana diberitakan Antara, Minggu, (13/09/2026).

Di tengah meningkatnya kebutuhan, Sadimin meminta masyarakat menggunakan air bersih secara bijak. Imbauan tersebut ditujukan untuk menjaga ketersediaan air agar tidak semakin terbatas ketika musim kemarau masih berlangsung.

Kondisi kekeringan juga dipengaruhi fenomena iklim yang membuat curah hujan di NTB berada jauh di bawah kondisi normal. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya menyebut El Nino dengan kategori sangat kuat turut memicu minimnya hujan di wilayah tersebut.

“El Nino membuat musim kemarau yang biasanya kering menjadi semakin kering. Potensi hujan yang biasanya sekali turun di musim kemarau kini hampir tidak terjadi sama sekali,” kata Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB, Suci Agustiarini.

Besarnya jumlah penduduk terdampak dan meluasnya wilayah yang membutuhkan pasokan air menunjukkan kekeringan di NTB tidak lagi menjadi persoalan terbatas pada sejumlah titik. Penanganan air bersih perlu terus diperkuat seiring kondisi kemarau yang masih berlangsung, terutama di wilayah yang telah memasuki status tanggap darurat. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

58 Kopdes di Banyumas Masuk Kawasan Lahan Hijau

PDF 📄BANYUMAS – Persoalan penggunaan lahan hijau membayangi pembangunan 58 gerai Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah …

Kamboja Ungkap Temuan Zat Kimia, Thailand Sebelumnya Membantah

PDF 📄PHNOM PENH – Pengaduan Kamboja kepada Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) membuka kembali sorotan …

DPR Dorong Inpres Jalan Desa untuk Atasi Keterbatasan Anggaran

PDF 📄TEMANGGUNG – Keterbatasan kemampuan fiskal pemerintah daerah dan desa dinilai menjadi hambatan dalam memenuhi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *