Ratusan Warga Meriahkan HUT ke-62 Desa Tenrigangkae di Maros

MAROS – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Desa Tenrigangkae, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga dimanfaatkan untuk mengenalkan sejarah desa dan mendorong pengembangan potensi ekonomi masyarakat. Puncak kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 22 Agustus 2026, dihadiri ratusan warga dan pejabat dengan melibatkan puluhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Rangkaian perayaan berlangsung selama tiga hari, mulai Jumat (21/8/2026) hingga Minggu (23/8/2026), di lapangan Perumahan Permata Lion Residence. Warga turut memeriahkan kegiatan dengan mengenakan pakaian adat serta membawa beragam sajian makanan.

Selain menjadi ruang berkumpul bagi masyarakat, perayaan tersebut juga menjadi sarana untuk memperkenalkan kembali perjalanan Desa Tenrigangkae kepada generasi muda. Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tenrigangkae, Muh Sabir, menyampaikan kilas balik mengenai sejarah desa, termasuk asal-usul nama Tenrigangkae yang berasal dari bahasa Bugis.

Kata “Tenri” berarti tidak ada, sedangkan “Gangka” berarti batas. Gabungan kedua kata tersebut dimaknai sebagai “tidak ada batas” atau “tidak terbatas”.

Sejarah desa juga berkaitan dengan wilayah Kerajaan Tanralili. Pada masa awal pembentukannya, wilayah Tenrigangkae mencakup sejumlah perkampungan yang sebelumnya menjadi bagian dari wilayah kerajaan tersebut.

Seiring perkembangan pemerintahan dan pemekaran wilayah, sejumlah kawasan kemudian berkembang menjadi desa dan kelurahan tersendiri. Saat ini, Desa Tenrigangkae terdiri atas lima dusun, yakni Bombongi, Bugis, Padaelo, Tinggito, dan Makkaraeng.

Kepala Desa (Kades) Tenrigangkae Wahyu Febry mengatakan peringatan hari jadi memiliki makna lebih luas daripada kegiatan seremonial karena dapat menjadi sarana memperkenalkan sejarah dan potensi desa kepada generasi muda.

“Ini bukan hanya perayaan ulang tahun desa, tetapi bagaimana kita kembali mengingat sejarah Desa Tenrigangkae. Supaya generasi kita tahu dari mana kita berasal dan bagaimana perjalanan desa ini sampai sekarang,” kata Wahyu sebagaimana diberitakan Menit Indonesia, Sabtu (22/8/2026).

Menurut Wahyu, sejarah panjang Tenrigangkae berjalan beriringan dengan berbagai potensi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah desa pun mendorong penguatan sektor ekonomi melalui UMKM dan pengelolaan usaha milik desa.

“Kami ingin apa yang menjadi potensi desa ini bisa dikenal lebih luas. Bukan hanya di Tenrigangkae, tetapi kalau bisa keluar Maros, bahkan sampai ke luar Sulawesi Selatan,” ujarnya.

Keterlibatan pelaku UMKM menjadi salah satu bagian penting dalam perayaan HUT tahun ini. Puluhan pelaku usaha memanfaatkan kegiatan tersebut sebagai ruang promosi sekaligus memperluas kesempatan perputaran ekonomi masyarakat.

Wahyu menilai partisipasi warga juga diperlukan untuk menjaga kekompakan dan memperkuat rasa memiliki terhadap desa. Menurut dia, pembangunan tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah desa.

“Harapan kami masyarakat semakin kompak, semakin bersatu. Karena pembangunan desa tidak bisa dilakukan pemerintah desa saja. Kami membutuhkan dukungan seluruh masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Bupati Maros (Bupati Maros) Chaidir Syam tidak menghadiri kegiatan secara langsung karena berada di Tarakan, Kalimantan. Chaidir menyampaikan sambutan kepada masyarakat melalui sambungan Zoom.

“Pertama-tama saya dengan nama pribadi memohon maaf karena tidak dapat hadir langsung di Desa Tenrigangkae. Saya sekarang berada di Tarakan, di Kalimantan,” kata Chaidir.

Meski tidak hadir secara langsung, Chaidir menyampaikan apresiasi kepada pemerintah desa dan masyarakat Tenrigangkae yang dinilai terus menjaga kebersamaan sekaligus mencatat capaian pembangunan.

Ia berharap Tenrigangkae dapat berkembang menjadi desa yang semakin mandiri dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Insyaallah Desa Tenrigangkae menjadi desa yang mandiri, kemudian desa yang membawa kesejahteraan buat masyarakatnya dengan berbagai prestasi yang telah disampaikan,” ujarnya.

Chaidir juga mengapresiasi kepemimpinan Kades Wahyu Febry serta menekankan pentingnya kekompakan antara pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan warga dalam mendukung pembangunan.

“Yang paling utama adalah mari kita terus menjaga kekompakan antara seluruh masyarakat, seluruh tokoh masyarakat. Mari kita terus menjalin kekompakan untuk membangun Desa Tenrigangkae yang kita sangat sayangi,” katanya.

Ia kemudian mengajak masyarakat mempertahankan persatuan agar pembangunan desa dapat berjalan secara berkelanjutan.

“Mari kita terus bersatu untuk membangun desa yang kita cintai, Desa Tenrigangkae, menjadi desa yang mandiri dan sejahtera buat masyarakatnya,” sambungnya.

Peringatan HUT ke-62 tersebut pada akhirnya menjadi ruang untuk mempertemukan sejarah, budaya, aktivitas ekonomi, dan semangat pembangunan masyarakat. Pemerintah desa berharap momentum tersebut tidak berhenti sebagai perayaan tahunan, tetapi menjadi penguat gotong royong dan dorongan untuk mengembangkan potensi lokal demi mewujudkan Tenrigangkae yang semakin mandiri dan sejahtera. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Kekeringan Hantam 9 Desa di Parigi Moutong, 1.400 Hektare Sawah Terdampak

PDF đź“„PARIGI – Kekeringan yang berlangsung sejak pertengahan Juni 2026 mulai menekan kehidupan warga di …

15 Desa di Boltara Dilanda Kekeringan, Pemkab Gelar Shalat Istisqa

PDF đź“„BOLAANG MONGONDOW UTARA – Kekeringan yang berlangsung sejak awal Juli membuat sekitar 15 desa …

Kecelakaan Berulang, Warga Tanah Periuk Minta Jalan Dibangun Dua Jalur

PDF đź“„PASER – Keselamatan pengguna jalan menjadi perhatian warga Desa Tanah Periuk, Kabupaten Paser (Paser), …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *