Teknologi Jadi Kunci Pengembangan Potensi Desa di Program BRILian 5.0

PURWOKERTO – Pemanfaatan teknologi di desa mulai diarahkan tidak sekadar pada penggunaan perangkat digital, tetapi pada kemampuan masyarakat mengolah potensi lokal menjadi kekuatan ekonomi dan pelayanan publik. Arah tersebut menjadi fokus pelaksanaan Desa BRILian 2026 Batch 2 yang digagas Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) bersama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) melalui peluncuran Desa BRILian 5.0 pada Selasa (18/08/2026).

Program yang dilaksanakan secara daring itu menempatkan kesiapan sumber daya manusia (SDM), kepemimpinan, kelembagaan, akses permodalan, serta pemasaran sebagai bagian penting dalam pemanfaatan teknologi untuk pengembangan desa. Pendekatan tersebut diharapkan membuat inovasi yang diterapkan memiliki manfaat nyata dan dapat berkelanjutan.

Rektor Unsoed Akhmad Sodiq mengatakan, teknologi seharusnya menjadi alat untuk menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. “Teknologi yang canggih tidak akan memberikan dampak yang optimal apabila tidak diikuti dengan sumber daya manusia yang mampu menggunakannya, kepemimpinan yang mampu mengarahkannya, serta kelembagaan yang mampu memastikan manfaatnya dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya.

Sebagaimana diberitakan Suara Merdeka, Rabu (19/08/2026), pengembangan Desa BRILian 5.0 mengusung konsep Desa 5.0 yang menggabungkan pemanfaatan teknologi dengan penguatan kapasitas manusia dan kelembagaan. Model tersebut diarahkan untuk membuka peluang penguatan ekonomi lokal, memperluas akses pasar dan pembiayaan, meningkatkan pelayanan publik, serta mendorong pengelolaan sumber daya yang lebih berkelanjutan.

Akhmad menilai desa pada masa mendatang perlu memiliki kemampuan untuk mengintegrasikan teknologi dengan kebutuhan masyarakat. “Desa masa depan adalah desa yang mampu menggunakan teknologi untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya, memperkuat ekonomi lokal, membuka akses terhadap pasar dan pembiayaan, meningkatkan pelayanan publik, serta mengelola sumber daya secara berkelanjutan,” katanya.

Pelaksanaan Desa BRILian 2026 Batch 2 sekaligus menjadi tahap awal pendampingan bagi peserta untuk memetakan kebutuhan dan mengembangkan potensi masing-masing. Potensi tersebut dapat berasal dari sektor pertanian, perikanan, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), ekonomi kreatif, hingga pariwisata.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unsoed Elly Tugianti mengatakan, keterlibatan perguruan tinggi tidak berhenti pada pemberian pengetahuan kepada desa. Program tersebut juga membuka ruang agar persoalan yang muncul di masyarakat menjadi bahan pengembangan riset dan inovasi.

“Kami ingin mendorong agar pengetahuan dan hasil riset perguruan tinggi dapat semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat. Sebaliknya, berbagai persoalan yang ditemukan di desa juga dapat menjadi sumber inspirasi bagi lahirnya riset dan inovasi baru di perguruan tinggi,” ujarnya.

Menurut Elly, hubungan antara perguruan tinggi dan desa perlu dibangun secara dua arah sehingga masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat. “Hubungan perguruan tinggi dan desa bukan hubungan satu arah. Desa belajar dari perguruan tinggi, tetapi perguruan tinggi juga belajar dari desa,” katanya.

Program ini turut mempertemukan unsur pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut diharapkan membangun ekosistem pengembangan desa yang lebih kuat dengan pembagian peran dan pemanfaatan sumber daya dari setiap pihak.

Kegiatan peluncuran turut menghadirkan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia Yandri Susanto sebagai pembicara utama. Hadir pula Direktur Mikro BRI Akhmad Purwajaya serta Direktur Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Investasi Desa dan Daerah Tertinggal Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia Tabrani.

Dengan pendekatan Desa 5.0, Unsoed dan BRI menargetkan teknologi dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas masyarakat. Ukuran keberhasilannya bukan hanya lahirnya gagasan baru, tetapi sejauh mana inovasi dapat digunakan, memberikan manfaat bagi warga, dan bertahan dalam jangka panjang.

“Bukan sekadar inovasi yang terlihat baik di atas kertas, tetapi inovasi yang digunakan, dirasakan manfaatnya, dan mampu bertahan dalam jangka panjang,” tambah Elly. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Anggaran Antinarkoba Desa Agara Capai Rp5,7 Miliar, Diminta Diusut

PDF đź“„KUTACANE – Penggunaan Dana Desa untuk program pemberantasan narkoba di Kabupaten Aceh Tenggara (Agara) …

Panen Melon Desa Manyarsidorukun Diserbu Warga, Ketahanan Pangan Mulai Berbuah

PDF đź“„GRESIK – Program ketahanan pangan Desa Manyarsidorukun, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, mulai …

Panen 1 Ton Jagung di Beutong Perkuat Ketahanan Pangan Nagan Raya

PDF đź“„NAGAN RAYA – Pemanfaatan lahan pertanian seluas sekitar 0,5 hektare di Desa Krueng Isep, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *