GARUT – Dugaan pembakaran rumah milik kreator konten di Desa Talagasari, Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut, Jawa Barat (Jabar), memicu polemik setelah korban mengaitkan insiden tersebut dengan kritik yang kerap disampaikannya terhadap pembangunan desa. Namun, Pemerintah Desa (Pemdes) Talagasari membantah tudingan keterlibatan aparat desa, sementara polisi menyatakan belum menerima laporan resmi terkait kasus itu.
Kepala Desa (Kades) Talagasari, Asep Ridwanul Hakim, menegaskan tuduhan yang menyebut jajaran pemerintah desa terlibat dalam pembakaran rumah warga bernama Dikdik Saepulani tidak berdasar. Ia menyebut pihak desa justru beberapa kali membantu korban dalam berbagai persoalan pribadi maupun sosial.
“Sekarang statement dia katanya rumahnya dibakar jajaran pemerintah desa, kami tidak melakukan itu, punya niat saja pun tidak,” ujar Asep sebagaimana diberitakan Kompas, Senin (11/05/2026).
Menurut Asep, Pemdes Talagasari pernah membantu penyelesaian persoalan hukum yang melibatkan korban, termasuk membantu biaya pengobatan dalam kasus dugaan penganiayaan saat kegiatan keagamaan di lingkungan desa.
“Kalaupun pemerintah kesal, enggak akan saya bela dulu pas dia kasus. Tapi, saya tetap bela karena dia itu warga saya, selama dirinya punya niat berubah akan terus saya bela,” katanya.
Ia juga mengaku kecewa lantaran berbagai bantuan yang diberikan pemerintah desa justru dibalas dengan tudingan melalui konten media sosial.
“Saya kira dia akan ingat dengan kebaikan yang sudah kami lakukan. Tapi, tetap saja dibalas dengan konten-konten yang menyerang, mulai pembangunan jalan yang belum ada anggarannya sampai soal BLT,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasatreskrim) Kepolisian Resor (Polres) Garut, Joko Prihatin, mengatakan hingga Senin malam pihak kepolisian belum menerima laporan resmi terkait dugaan pembakaran rumah tersebut. Meski demikian, Kepolisian Sektor (Polsek) Banjarwangi disebut telah meninjau lokasi kejadian.
“Belum, belum ada laporan dari yang bersangkutan sampai sekarang,” ujarnya.
Insiden kebakaran itu sebelumnya viral di media sosial setelah video kondisi rumah korban diunggah melalui akun Facebook Kang Bahar. Rumah tersebut diketahui milik Dikdik Saepulani, warga Kampung Legokdage, Desa Talagasari.
Dikdik mengaku rumahnya terbakar pada Kamis (07/05/2026) sekitar pukul 08.30 WIB saat dirinya sedang menginap di rumah kerabat. Ia menduga kebakaran tersebut disengaja dan berkaitan dengan aktivitas kritik yang dilakukannya terhadap sejumlah kebijakan desa.
“Waktu itu, saya pulang menginap dari rumah bibi, pas pulang rumah saya sudah hangus, tinggal sisa abu dari barang-barang,” ujarnya.
Menurut Dikdik, kerusakan paling parah terjadi di lantai pertama rumah yang masih dalam tahap renovasi. Ia memperkirakan kerugian akibat kebakaran mencapai Rp15 juta.
“Saya menduga rumah saya ini dibakar orang tak dikenal karena saya sebelumnya sering mengkritik pembangunan dan kebijakan desa,” ungkapnya.
Ia juga mengaku sempat menerima ancaman melalui pesan pribadi di media sosial sebelum kejadian kebakaran berlangsung.
“Ada yang mengirim pesan inbox di FB. Intinya bilang, ‘Si Bahar sama anak istrinya itu tidak akan selamat’. Ada juga yang bilang, ‘Kasih tahu si Bahar jangan terlalu tenang’,” ucapnya.
Dikdik menyebut dirinya aktif membuat konten kritik terkait penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan pembangunan desa saat sedang tidak bekerja sebagai buruh bangunan.
“Dari ribuan warga Desa Talagasari hanya saya yang berani menyuarakan aspirasi masyarakat, saya ingin desa ini diaudit, semoga tercium oleh gubernur mumpung gubernurnya cepat tanggap,” jelasnya.
Ia menambahkan, sebelum kebakaran terjadi, istri dan anaknya telah dipulangkan ke Kalimantan karena merasa kondisi lingkungan mulai tidak aman.
“Sebelum kejadian istri dan anak saya sudah diamankan ke Kalimantan, istilahnya sedia payung sebelum hujan,” katanya. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara