SAMOSIR – Desa Tomok, di pesisir timur Pulau Samosir, terus menegaskan dirinya bukan sekadar destinasi wisata, melainkan pusat pelestarian budaya dan tradisi masyarakat Batak Toba. Selain menyambut wisatawan dengan pemandangan Danau Toba, desa ini menjadi arena di mana kehidupan sehari-hari, kerajinan, dan tradisi leluhur tetap dipertahankan.
Sejak menyeberang dari Parapat, kapal-kapal penumpang membawa wisatawan ke Tomok setiap hari. Namun, yang membuat desa ini unik bukan hanya keindahan alam, melainkan keberlangsungan budaya Batak Toba. Rumah-rumah adat dengan ukiran gorga merah, hitam, dan putih menandai identitas desa, sementara lorong-lorongnya dipenuhi kios ulos, kerajinan kayu, dan kuliner lokal yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sekitar Danau Toba.
Menurut pengelola pertunjukan Sigale-gale, boneka kayu yang menari mengikuti irama gondang Batak, pertunjukan ini “selalu menarik perhatian pengunjung, terutama wisatawan mancanegara,” sebagaimana dilansir Kompasiana, Selasa, (12/05/2026). Pertunjukan itu menjadi simbol bahwa budaya tradisional tetap hidup di tengah geliat pariwisata.
Nama “Tomok” diyakini berasal dari istilah tolmok atau mok-mok yang berarti gemuk atau subur, merujuk pada kondisi wilayah yang mendukung pertanian dan perikanan. Sebelum menjadi destinasi wisata, masyarakat Tomok hidup dari sawah, ladang, dan perdagangan antar kampung melalui Danau Toba. Selain itu, kompleks makam Raja Sidabutar menunjukkan bagaimana masyarakat Batak Toba menghormati leluhur dengan tradisi yang kuat dan terjaga hingga kini.
Seiring perkembangan pariwisata, banyak rumah penduduk bertransformasi menjadi penginapan, rumah makan, dan toko suvenir. Ekonomi masyarakat pun mengalami peningkatan seiring meningkatnya jumlah wisatawan yang datang setiap tahun. Meski demikian, desa ini tetap mempertahankan produksi ulos tradisional, musik gondang, dan rumah adat warisan keluarga sebagai penanda identitas budaya lokal.
Ke depan, keberhasilan Tomok dalam mempertahankan budaya di tengah arus wisata menjadi contoh bahwa desa-desa lain dapat memadukan pelestarian tradisi dengan pembangunan ekonomi. Desa ini membuktikan bahwa kemajuan pariwisata tidak selalu mengikis nilai budaya, melainkan bisa menjadi sarana memperkenalkan identitas lokal ke dunia. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara