Tanah Bergerak di Tiga Titik, Warga Sukamulya Diminta Waspada

BANDUNG – Hujan deras berintensitas tinggi memicu bencana tanah longsor di Desa Sukamulya, Kabupaten Bandung, yang berdampak pada sedikitnya 10 rumah warga dan memaksa dua keluarga direlokasi sementara demi keselamatan, Senin (4/5/2026).

Peristiwa longsor terjadi di tiga titik berbeda sekitar pukul 13.00 WIB, menyebabkan akses jalan utama penghubung Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat sempat lumpuh total. Material tanah dan bebatuan menutup badan jalan sehingga kendaraan roda empat tidak dapat melintas.

Kepala Desa (Kades) Sukamulya, Dadang Sulaeman, menjelaskan bahwa hujan deras yang berlangsung singkat menjadi pemicu utama pergerakan tanah.
“Hujannya sebenarnya tidak terlalu lama, mungkin sekitar setengah jam, tapi cukup deras. Saya sendiri baru pulang dari desa, sekitar 10 menit sampai rumah kondisinya sudah berbeda, air besar sekali terutama di RW 03,” ujar Dadang saat ditemui di lokasi kejadian, Selasa (5/5/2026), sebagaimana dilansir Kompas, Selasa (05/05/2026).

Ia menyebutkan, longsor terjadi di tiga lokasi dengan tingkat kerusakan berbeda. Dua titik dengan skala kecil telah dibersihkan secara manual, sementara satu titik utama masih memerlukan penanganan lanjutan menggunakan alat berat.

” Ada tiga titik longsor. Satu yang besar, dua lainnya tidak terlalu besar. Yang kecil sudah dibersihkan dan mobil sudah bisa lewat, tapi materialnya tetap harus dirapikan dengan alat berat. Mungkin butuh dua sampai tiga hari untuk benar-benar bersih,” ujarnya.

Upaya penanganan dilakukan melalui kerja bakti warga bersama unsur kewilayahan sejak Selasa pagi. Meski demikian, bantuan alat berat dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) tetap dibutuhkan untuk mempercepat proses pembersihan material longsor.

Berdasarkan pendataan sementara, bencana ini berdampak pada dua kedusunan yang tersebar di lima Rukun Warga (RW), yakni RW 04, RW 05, RW 06, RW 13, dan RW 14. Sekitar 15 kepala keluarga atau 30 hingga 40 jiwa terdampak langsung.

Selain merusak permukiman, longsor juga memicu banjir luapan yang merendam 5 hingga 6 rumah warga dengan ketinggian air mencapai 10 sentimeter akibat saluran air yang tidak mampu menampung debit hujan.

“Alhamdulillah tidak ada korban jiwa. Saat ini penanganan sementara menggunakan karung untuk menahan tanah,” kata Dadang.

Menurutnya, kejadian ini tergolong tidak biasa karena wilayah tersebut jarang mengalami longsor dibandingkan kawasan lain di Kabupaten Bandung.

“Yang membuat ini cukup heboh karena di Kabupaten Bandung jarang terjadi di wilayah ini. Biasanya di wilayah timur, tapi kali ini terjadi di sini akibat hujan lokal yang cukup ekstrem,” kata dia.

Dengan kondisi cuaca yang masih berpotensi ekstrem, warga diimbau tetap waspada terhadap kemungkinan longsor susulan, sementara proses pembersihan dan pemulihan akses jalan terus dilakukan secara bertahap. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Desa Menden Jadi Laboratorium Pupuk Organik Mahasiswa UNY

PDF 📄KLATEN – Inovasi pengelolaan limbah rumah tangga berbasis pertanian berkelanjutan mulai dikembangkan di Desa …

TMMD 128 Pati Tak Hanya Bangun Jalan, Tapi Juga Tugu Sejarah

PDF 📄PATI – Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-128 Kodim 0718/Pati di Desa …

Sepak Bola Desa Silirejo Jadi Magnet Ekonomi dan Hiburan Warga

PDF 📄KAJEN – Turnamen Sepak Bola Silirejo Cup 2026 di Desa Silirejo, Kecamatan Tirto, Kabupaten …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *