LANGKAT – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah pusat mulai menyentuh langsung masyarakat pedesaan di sejumlah kecamatan di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, dengan fokus tidak hanya pada pemenuhan gizi anak sekolah, tetapi juga penguatan ekonomi lokal melalui dapur layanan pangan.
Sosialisasi program yang digelar oleh Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dari Fraksi Partai Golkar daerah pemilihan Sumatera Utara III itu berlangsung di Kecamatan Besitang, Tanjung Pura, dan Padang Tualang. Kegiatan ini melibatkan Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai mitra kerja dalam implementasi program.
Program MBG yang diperkenalkan di Desa Pir ADB, Kelurahan Besitang, serta Desa Suka Ramai menjadi sorotan karena dinilai membawa dampak ganda: perbaikan gizi kelompok rentan sekaligus perputaran ekonomi di tingkat desa melalui pengelolaan dapur layanan.
Koordinator Regional BGN Sumatera Utara, Agung Kurniawan, dalam pemaparannya menegaskan bahwa program ini menyasar kelompok yang paling membutuhkan intervensi gizi, termasuk anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, serta balita non-pendidikan anak usia dini.
Ia juga menekankan keterbukaan pengawasan publik terhadap pelaksanaan dapur MBG.
“Siapa pun boleh mengecek dapur-dapur MBG untuk komplain atau memastikan standar higienitasnya” ujar Agung Kurniawan sebagaimana diwartakan Deteksi, Selasa, (05/05/2026).
Sementara itu, Delia Pratiwi Bru Sitepu menyoroti dampak sosial program terhadap konsentrasi belajar anak serta potensi ekonomi yang ikut bergerak.
“Bayangkan jika seorang anak berangkat dari rumah menuju sekolah tanpa sarapan. Tentu konsentrasinya akan terganggu, karena rasa lapar membuatnya tidak fokus dalam menerima pelajaran. Oleh karena itu, kita patut bersyukur atas hadirnya program MBG (Makan Bergizi Gratis). Program ini tidak hanya mendorong perputaran roda perekonomian, tetapi juga memastikan kebutuhan gizi anak-anak kita terpenuhi dengan baik. Alhamdulillah, perhatian ini telah diberikan oleh Bapak Presiden demi masa depan generasi penerus bangsa. Lalu, siapa saja yang menjadi penerima manfaat dari program MBG ini ? Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya, penerima manfaat mencakup anak-anak sekolah, balita, ibu hamil (bumil), serta ibu menyusui (busui). Dengan demikian, program ini menyasar kelompok yang memang sangat membutuhkan asupan gizi yang cukup dan berkualitas” terang Delia.
Ia juga mendorong inovasi dalam penyajian makanan agar program lebih diterima anak-anak di tingkat desa.
“Saya juga berharap khususnya di Kabupaten Langkat, dapur MBG dapat lebih kreatif dalam menyajikan makanan. Misalnya, nasi dapat dibentuk menjadi bintang, hati, atau bentuk menarik lainnya sehingga menambah selera makan anak-anak. Saya pernah berkunjung ke salah satu lokasi bersama anggota dewan lainnya. Di sana, saya melihat dapurnya sangat kreatif, begitu juga dengan anak-anaknya. Bahkan, anak-anak diberikan ruang untuk menyampaikan keinginan mereka melalui surat, seperti meminta menu spaghetti atau burger. Dan menariknya, keesokan harinya menu yang mereka inginkan benar-benar disajikan. Ini menunjukkan bahwa selain terpenuhi gizinya, anak-anak juga merasakan kebahagiaan.
Oleh karena itu, saya berharap hal serupa dapat diterapkan di Kabupaten Langkat. Dapur MBG tidak hanya harus kreatif, tetapi juga wajib menjaga kebersihan. Aspek higienitas ini sangat penting untuk memastikan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti keracunan makanan” harap Delia.
Dari sisi kepemudaan, Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Langkat, Bahrum, menilai program ini perlu mendapat dukungan berkelanjutan dari masyarakat agar manfaatnya benar-benar terasa.
“Apa yang telah dirintis dan dijalankan ini tidak hanya berhenti sebagai sebuah program, tetapi benar-benar dapat dirasakan dampaknya oleh masyarakat. Dengan manfaat yang dirasakan tersebut, diharapkan pula tumbuh dukungan yang kuat dari masyarakat terhadap kinerja Ibu Delia dan seluruh tim BGN.
Dukungan ini sangat penting, agar bersama-sama kita dapat mewujudkan program Makan Bergizi Gratis sebagai bagian dari komitmen pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat, khususnya generasi masa depan bangsa” tutur Bahrum.
Program MBG di Langkat kini dipandang bukan sekadar bantuan konsumsi harian, tetapi juga model intervensi gizi berbasis desa yang berpotensi memperkuat ketahanan pangan lokal sekaligus membuka ruang ekonomi baru di tingkat masyarakat bawah. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara