Di Balik Bendungan Lau Simeme, Ada Kisah Warga Kehilangan Rumah dan Ladang

Pembangunan Bendungan Lau Simeme mengubah permukiman dan lahan pertanian Kuala Dekah menjadi kawasan genangan, sementara warga yang menerima ganti rugi menata kembali tempat tinggal dan sumber penghidupan dengan pengalaman berbeda.

DELI SERDANG DESA NUSANTARA  – Tenggelamnya permukiman dan lahan pertanian akibat pembangunan Bendungan Lau Simeme mengubah kehidupan warga Desa Kuala Dekah, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut). Meski sebagian besar warga telah menerima ganti rugi dan berpindah ke wilayah yang lebih aman dari genangan, perbedaan penilaian mengenai kecukupan kompensasi masih menjadi bagian dari pengalaman masyarakat terdampak.

Kepala Desa Kuala Dekah, Komando Ginting, mengungkapkan bahwa pembangunan bendungan tidak hanya mengubah bentang alam, tetapi juga membuat warga meninggalkan rumah, lahan pertanian, dan sejumlah fasilitas pemerintahan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan desa.

“Jadi, setelah pemerintah melakukan ganti rugi, masyarakat yang ada di sana menyebar. Ada yang ke Dusun IV, ada yang ke Dusun I, dan ada yang ke Dusun II,” ujar Komando saat ditemui Mistar belum lama ini, sebagaimana diberitakan Mistar, Kamis (29/10/2026).

Perpindahan tersebut berlangsung seiring pembangunan bendungan yang direncanakan sejak dekade 1990-an. Konstruksi fisik proyek mulai dikerjakan pada 2017, sebelum Bendungan Lau Simeme diresmikan pada Oktober 2024.

Warga yang bermukim di kawasan terdampak kemudian berpindah ke sejumlah dusun yang tidak terendam, termasuk Dusun I, Dusun II, dan Dusun IV. Sebagian warga menggunakan uang ganti rugi untuk membeli rumah, kebun kelapa sawit, atau lahan pertanian di lokasi lain.

Namun, tidak semua warga menilai kompensasi yang diterima dengan cara yang sama. Komando menyebutkan, ada warga yang merasa uang ganti rugi sudah memadai, sementara sebagian lainnya menganggap jumlah tersebut belum cukup untuk memenuhi kebutuhan setelah kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupan.

“Ada yang merasa jumlah ganti ruginya terlalu sedikit. Ada yang merasa jumlahnya sudah lebih dari cukup, ada juga yang merasa masih jauh dari cukup. Setiap orang punya pandangan berbeda,” kata Komando.

Wilayah yang kini berada di bawah genangan bendungan mencakup permukiman di Desa Kuala Dekah dan kawasan Sari Laba. Menurut Komando, di Dusun III Kuala Dekah dahulu terdapat sekitar 17 rumah warga. Sementara itu, di Dusun I terdapat kantor desa, kantor kepala desa, dan empat rumah penduduk.

Selain bangunan tempat tinggal, lahan pertanian yang sebelumnya digunakan masyarakat untuk menanam jagung dan mengusahakan berbagai komoditas juga ikut terendam. Hilangnya lahan tersebut menandai perubahan besar bagi warga yang sebelumnya menggantungkan sebagian penghidupan pada kegiatan pertanian.

Kantor Desa Kuala Dekah yang lama juga menjadi bagian dari kawasan yang kini tergenang. Sebelum bangunan itu tenggelam, pemerintah desa bersama perangkat dan unsur terkait sempat mengadakan acara perpisahan.

Bagi masyarakat setempat, kantor desa tersebut bukan sekadar bangunan administrasi. Tempat itu pernah menjadi pusat pelayanan masyarakat sekaligus saksi berbagai peristiwa dalam perjalanan desa.

Untuk melanjutkan pelayanan pemerintahan, kantor desa baru dibangun di lokasi yang lebih tinggi, tepatnya di samping Koperasi Desa Merah Putih. Komando menyebutkan, pembangunan kantor baru tersebut telah mencapai sekitar 80 persen.

Setelah menerima ganti rugi, warga mengambil langkah berbeda untuk melanjutkan kehidupan. Sebagian membeli rumah atau lahan pertanian di tempat lain, sedangkan sebagian lainnya mengembangkan perkebunan kelapa sawit.

Menurut Komando, ada pula warga yang membeli lahan hingga ke Biru-Biru dan Provinsi Riau. Sementara itu, sebagian masyarakat tetap tinggal di kawasan sekitar Kuala Dekah yang tidak terdampak genangan.

Perbedaan pilihan tersebut memperlihatkan bahwa dampak pembebasan lahan tidak berhenti setelah pembayaran kompensasi. Warga juga harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, menentukan sumber penghasilan, serta membangun kembali kehidupan sosial di tempat tinggal masing-masing.

Di sisi lain, pembangunan Bendungan Lau Simeme diharapkan memberikan manfaat bagi masyarakat yang lebih luas. Infrastruktur tersebut dirancang untuk mendukung pengendalian banjir, penyediaan air baku, dan pemanfaatan sumber daya air.

Dengan fungsi tersebut, bendungan diharapkan membantu memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung pengelolaan air di wilayah sekitarnya. Namun, manfaat infrastruktur bagi masyarakat luas berjalan berdampingan dengan perubahan yang dialami warga di kawasan terdampak langsung.

Bagi warga Kuala Dekah, keberlanjutan kehidupan setelah relokasi menjadi bagian penting dari perjalanan pembangunan tersebut. Penyelesaian kantor desa baru, tersedianya tempat tinggal yang layak, serta kemampuan warga membangun kembali sumber penghidupan menjadi hal yang perlu mendapat perhatian.

Ke depan, pembangunan Bendungan Lau Simeme diharapkan tidak hanya memberikan manfaat dalam pengendalian banjir dan penyediaan air, tetapi juga diikuti perhatian berkelanjutan terhadap kondisi masyarakat yang kehilangan permukiman dan lahan akibat proyek tersebut. []

Redaksi 1

About redaksi01

Check Also

Bakti BCA Dukung Kemandirian Pangan untuk Cegah Stunting di Loteng

PDF đź“„LOMBOK TENGAH DESA NUSANTARA  – Kemandirian pangan keluarga menjadi salah satu strategi yang didorong …

Berhasil Tekan Risiko Stunting, Desa Kahala Bawa Pulang Penghargaan

PDF đź“„Desa Kahala di Kutai Kartanegara meraih Juara I Regional 2 penghargaan Kemendes PDT setelah …

Lada hingga Bandeng Dibidik Jadi Komoditas Ekspor Luwu Timur

PDF đź“„Sebanyak 47 pengurus BUMDes, BUMDesma, dan pelaku UMKM mengikuti pelatihan ekspor di Sorowako untuk …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *