UGANDA – Petani, pelaku usaha, dan komunitas budaya di Uganda Utara akan didorong membangun kerja sama yang lebih kuat melalui Festival Pertanian Uganda Utara yang dijadwalkan berlangsung pada 11–12 Desember 2026. Digagas untuk mempertemukan produsen dengan pembeli, investor, dan mitra pembangunan, festival ini diharapkan membantu mengatasi keterbatasan akses pasar serta meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian dan produk budaya setempat.
Festival perdana tersebut diluncurkan di Tegot Farmstead, sebuah lahan pertanian aktif di Distrik Gulu yang juga menjadi lokasi kegiatan pertanian komersial dan pelatihan. Mengusung tema “Kodi Pa Lyec – Benih Kejayaan”, kegiatan selama dua hari itu dirancang sebagai ruang pertemuan antara pertanian, budaya, kewirausahaan, dan investasi, sebagaimana diberitakan Nile Post.
Pendiri festival, Beatrice Mao, mengatakan Uganda Utara perlu menghubungkan berbagai potensi wilayah yang selama ini berjalan sendiri-sendiri. Menurutnya, hasil pertanian, kekayaan budaya, kreativitas masyarakat, dan peluang bisnis harus dikembangkan melalui kolaborasi agar memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar.
“Melalui pameran, pengalaman bertani, pertunjukan budaya, makanan, musik, diskusi, dan jejaring, kami juga ingin mengadakan pembicaraan yang jujur tentang kesenjangan yang kami hadapi,” katanya.
Mao juga mengangkat persoalan yang perlu dijawab bersama, mulai dari keterbatasan pengetahuan dan teknologi petani, akses pasar, peluang yang belum dijangkau generasi muda, hingga upaya meningkatkan nilai tambah produk lokal dan mengembangkan warisan budaya secara bertanggung jawab.
Menurut Mao, wilayah West Nile, Acholi, Lango, dan Karamoja memiliki lahan subur, beragam peluang pertanian, kekayaan budaya, penduduk muda yang semakin berjiwa wirausaha, serta potensi pariwisata. Namun, sebagian potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal atau belum terhubung dengan pasar, pengetahuan, investasi, dan kemitraan yang dibutuhkan untuk berkembang.
Kesenjangan itu terlihat ketika hasil pertanian, kerajinan, musik, cerita tradisional, dan bahan mentah dari kawasan tersebut dipasarkan tanpa nilai tambah yang memadai. Petani masih menghadapi tantangan untuk menjangkau pasar yang dapat diandalkan, sedangkan anak muda dengan gagasan usaha kerap membutuhkan modal, pendamping, dan pembeli.
Warisan budaya juga dinilai belum sepenuhnya dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi yang berkelanjutan. Pada saat yang sama, program pemerintah, perusahaan swasta, dan kelompok masyarakat dinilai masih perlu memperkuat koordinasi agar upaya pengembangan wilayah tidak berjalan terpisah.
“Ini adalah wadah untuk menyatukan Uganda Utara, merayakan apa yang kita miliki, memahami peluang yang tersedia, mengidentifikasi hambatan yang menahan kemajuan, dan membangun hubungan yang diperlukan agar kita dapat bergerak maju bersama,” kata Mao.
Ia berharap festival tersebut berkembang menjadi agenda tahunan yang menghubungkan sektor pertanian dengan kewirausahaan, budaya dengan peluang ekonomi, serta gagasan dengan investasi.
“Kami ingin festival ini menjadi titik pertemuan tahunan bagi Uganda Utara—tempat budaya bertemu pertanian, pertanian bertemu kewirausahaan, gagasan bertemu investasi, dan masyarakat bertemu peluang,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan yang direncanakan mencakup pameran, praktik pertanian langsung, sajian makanan khas daerah, pertunjukan budaya, musik, serta diskusi mengenai pasar, teknologi, usaha anak muda, dan peningkatan nilai tambah produk. Penyelenggara berharap kegiatan tersebut membuka ruang interaksi langsung antara petani, pembeli, seniman, investor, pemimpin lokal, dan masyarakat.
Dukungan juga datang dari sejumlah pemimpin setempat. Obol Justine Simpleman menyatakan dukungannya terhadap penyelenggaraan festival dengan harapan kegiatan itu menghasilkan perubahan nyata bagi kehidupan masyarakat.
“Kami telah menjanjikan dukungan penuh untuk gagasan ini. Festival ini harus mengubah kehidupan kami dan membuat kami menjadi lebih baik,” katanya.
Lembaga budaya Ker Kwaro Acholi, melalui Wakil Perdana Menteri Martin Okumu, turut mendukung inisiatif tersebut. Okumu menyerukan agar masyarakat di subwilayah Acholi bersatu mendukung pelaksanaannya. Ia menilai platform regional yang dikelola dengan baik dapat membantu meningkatkan pendapatan rumah tangga jika diperlakukan sebagai proyek bersama, bukan sekadar kegiatan yang berpusat di Gulu.
Tim Operation Wealth Creation yang dipimpin David Pulkol juga menyatakan dukungan. Pulkol menilai pemanfaatan lahan secara lebih optimal diperlukan untuk membantu masyarakat keluar dari pertanian subsisten. Ia menyatakan lembaganya akan mendukung festival tersebut “dengan kapasitas penuh” sebagai bagian dari upaya pemerintah mendorong pertanian komersial dan meningkatkan produktivitas petani kecil.
Pemilihan Desember dinilai strategis karena bertepatan dengan musim perayaan di banyak wilayah Uganda Utara. Pada periode itu, masyarakat biasanya bepergian untuk berkumpul bersama keluarga, kelompok budaya menggelar pertunjukan, dan makanan menjadi bagian penting dari kegiatan masyarakat. Penyelenggara berharap momentum tersebut menarik petani, wisatawan, pelaku kreatif, generasi muda, dan investor.
Meski demikian, dampak ekonomi festival akan bergantung pada tindak lanjut setelah peluncuran. Komitmen peserta pameran, keterlibatan koperasi, kehadiran investor, dan terbentuknya kemitraan yang berkelanjutan akan menentukan apakah kegiatan tersebut mampu memperluas akses pasar serta meningkatkan nilai tambah produk lokal.
Festival Pertanian Uganda Utara kini diarahkan menjadi lebih dari sekadar perayaan regional. Agenda pada 11–12 Desember 2026 akan menjadi kesempatan untuk menguji apakah kolaborasi antara petani, pelaku budaya, pemerintah, dan dunia usaha dapat membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat kawasan tersebut. []
Redaksi02
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara