Dosen Unesa mendampingi kader Posyandu ILP RW 15 Desa Mangliawan, Kabupaten Malang, menerapkan sistem digital berbasis keluarga yang dalam evaluasi awal dilaporkan mampu memangkas waktu rekapitulasi data hingga 70 persen.
MALANG DESA NUSANTARAÂ – Digitalisasi pencatatan kesehatan keluarga mulai diterapkan untuk membantu kader Posyandu mempercepat administrasi dan mengurangi risiko kesalahan pelaporan di Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Melalui pendampingan yang digelar dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa), kader Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) Rukun Warga (RW) 15 diperkenalkan dengan sistem pengelolaan data kesehatan berbasis keluarga yang diklaim mampu memangkas waktu rekapitulasi hingga 70 persen.
Program tersebut dilaksanakan di Balai RW 15 Desa Mangliawan pada Rabu (28/10/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari hibah Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Skema Pemberdayaan Masyarakat Pemula tahun 2026 dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat.
Fokus utama kegiatan ini adalah mengatasi persoalan administrasi yang selama ini dihadapi kader ketika melakukan pencatatan dan menyusun laporan pelayanan kesehatan rutin. Sistem yang diperkenalkan dirancang untuk menyatukan data kesehatan anggota keluarga dari berbagai kelompok usia, mulai dari balita, remaja, dewasa, hingga lanjut usia.
Sebagaimana diberitakan Harian Disway, Rabu (28/10/2026), pelaksanaan program mencakup empat tahapan, yakni analisis kebutuhan sistem, pengembangan dan pengenalan aplikasi, uji coba lapangan, serta evaluasi keberlanjutan. Pada tahap awal, tim dosen bersama mahasiswa memetakan kendala administrasi yang kerap muncul dalam kegiatan pelayanan Posyandu.
Ketua tim PkM, Monica Cinthya, kemudian memaparkan manfaat sekaligus mendemonstrasikan purwarupa aplikasi kepada para kader. Sistem tersebut dilengkapi fitur pencatatan data berdasarkan nomor induk kependudukan (NIK) serta otomatisasi penyusunan rekapitulasi laporan bulanan.
Dalam pelatihan teknis, kader mendapat kesempatan mengoperasikan aplikasi secara langsung menggunakan komputer. Pendampingan ini ditujukan agar mereka tidak hanya memahami fungsi sistem, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kegiatan administrasi sehari-hari.
Ketua ILP Mangliawan RW 15, Andjasmoro Hestuti, mengapresiasi penerapan aplikasi tersebut karena dinilai relevan dengan kebutuhan kader, terutama dalam menyusun laporan penimbangan bulanan.
“Aplikasi ini sesuai dan membantu pekerjaan kami yang berulang setiap bulan, terutama untuk pelaporan data timbang bulanan,” ujar Andjasmoro.
Berdasarkan evaluasi awal yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, penggunaan sistem digital mampu memangkas waktu rekapitulasi data hingga 70 persen sekaligus menekan risiko kesalahan pencatatan. Namun, capaian tersebut merupakan hasil evaluasi awal dan belum disertai rincian metode pengukuran maupun periode pembanding dalam informasi yang tersedia.
Monica menegaskan, pendampingan tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Tim pengabdi juga menyediakan bantuan teknis secara berkala untuk mendukung kader agar semakin terampil dan mandiri dalam menggunakan aplikasi.
Keberlanjutan program diharapkan dapat membantu meningkatkan ketertiban administrasi Posyandu, mempercepat penyusunan laporan, serta mendukung pengelolaan informasi kesehatan keluarga secara lebih terintegrasi. Dengan demikian, digitalisasi tidak hanya menjadi alat untuk menghemat waktu, tetapi juga diharapkan memperkuat kualitas pelayanan kesehatan masyarakat di tingkat desa. []
Redaksi 1
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara