Wisatawan Diajak Menelusuri Asal-usul Produk Khas Dieng

DJKI menguji jalur GI Tourism di Dieng dengan menghubungkan wisata, produk khas, pertanian, budaya, dan perlindungan indikasi geografis menjelang peluncuran pada Oktober 2026.

WONOSOBO – Produk khas Dieng seperti Carica Dieng, Purwaceng, dan Kopi Arabika Pegunungan Dieng mulai diarahkan menjadi bagian dari pengalaman wisata yang tidak hanya menawarkan pemandangan, tetapi juga mengenalkan asal-usul, proses produksi, hingga perlindungan kekayaan intelektual produk kepada wisatawan.

Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum menguji jalur Geographical Indication (GI) Tourism di Kawasan Dieng, Jawa Tengah, Senin (21/9/2026). Kegiatan tersebut melibatkan media, content creator, asosiasi perjalanan dan perhotelan, perwakilan Ekonomi Kreatif (Ekraf), pemerintah daerah, serta masyarakat perlindungan GI.

Uji jalur tersebut menjadi tahapan menuju soft launching GI Tourism Kawasan Dieng yang dijadwalkan pada Oktober 2026. Konsep itu dirancang agar wisatawan dapat mengenali produk yang memiliki indikasi geografis sekaligus memahami cerita dan lingkungan yang membentuk karakter produk tersebut.

Direktur Merek dan Indikasi Geografis DJKI Kementerian Hukum Fajar Sulaeman Taman mengatakan konsep GI Tourism memberikan pengalaman wisata yang menghubungkan produk khas daerah dengan edukasi mengenai asal-usulnya.

“GI Tourism adalah suatu paket bagaimana masyarakat khususnya wisatawan melihat bahwa sudah ada GI Tourism yang ada produk-produk wilayah wisatanya sudah ada tapi belum mengenal,” kata Fajar, sebagaimana diberitakan Antara, Senin (21/09/2026).

Selama ini, wisatawan disebut lebih banyak mengenal produk pertanian Dieng sebagai oleh-oleh. Melalui GI Tourism, pengunjung diajak mengetahui sejarah, proses produksi, serta karakter geografis yang membuat produk tersebut memiliki kekhasan.

“Melalui GI Tourism mereka bisa belajar, ada edukasi dan sosialisasi, wisata diajak belajar. Jadi bedanya wisata ada edukasi dan edukasinya,” ujarnya.

Menurut Fajar, konsep tersebut mencakup kuliner, pelaku usaha, hingga ekowisata dari hulu sampai hilir. Dengan demikian, aktivitas wisata dapat melibatkan masyarakat setempat sekaligus membuka ruang pemanfaatan produk yang telah memiliki perlindungan indikasi geografis.

“Inilah alasan kenapa Dieng dipilih sebagai pilot project GI Tourism,” kata Fajar menerangkan.

Tiga produk yang telah memiliki indikasi geografis di kawasan tersebut adalah Carica Dieng, Purwaceng, dan Kopi Arabika Pegunungan Dieng.

“Tiga produk ini yang kami kembangkan dan manfaatkan sebagai bukti nyata indikasi geografisnya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat setempat,” ujar Fajar.

Dalam uji jalur tersebut, peserta mengunjungi sejumlah lokasi yang memperlihatkan keterkaitan antara produk lokal, budaya, pertanian, dan wisata. Perjalanan diawali dari Kampung Gagot, Kabupaten Banjarnegara, dengan sajian makanan khas serta pertunjukan Tari Lengger.

Rangkaian kunjungan kemudian berlanjut ke sentra pengolahan Carica Dieng di Usaha Dagang (UD) Podang Mas yang telah berdiri sejak 1980. Peserta memperoleh penjelasan mengenai sejarah Carica Dieng yang disebut dibawa Belanda untuk ditanam di kawasan Dieng.

“Carica ini masih satu famili dengan pepaya. Jika ditanam di atas ketinggian 1.900 mdpl itu jadi caricates, tapi di bawah itu yang tumbuh pepaya,” ujar Rumi Wikaningtyas, pemilik generasi kedua UD Podang Mas.

Peserta juga mengunjungi kebun Carica di lereng Gunung Pakuwaja, Desa Parigesit, Wonosobo. Di lokasi tersebut, pemilik kebun Subiyati memperkenalkan pola pertanian tumpang sari dengan menanam umbi jakon dan daun bawang di sela-sela tanaman Carica.

“Umbi jakon ini seperti bengkuang, bisa langsung dimakan, walau kami menyebutnya ini umbi, tapi ini buah yang bisa langsung dimakan,” katanya.

Selain produk pertanian, jalur wisata tersebut memasukkan unsur sejarah dan konservasi lingkungan melalui kunjungan ke situs cagar budaya Tuk Bimo Lukar. Situs yang berada di dekat kompleks percandian Dieng itu merupakan petirtaan yang dibangun pada abad VIII Masehi dan menjadi hulu Sungai Serayu.

“Situs Tuk Bimo Lukar, bukti masyarakat Diang sudah menerapkan konservasi sumber daya air sejak dahulu kala,” kata pemandu.

Rangkaian perjalanan kemudian dilanjutkan ke perkebunan Purwaceng di Bukit Sekunir pada ketinggian sekitar 2.500 meter di atas permukaan laut (mdpl). Peserta dikenalkan dengan tanaman herbal tersebut sekaligus mencicipi seduhan Purwaceng.

DJKI menjadikan Dieng sebagai proyek percontohan GI Tourism dengan menggabungkan perlindungan kekayaan intelektual dan pengalaman wisata. Indikasi geografis sendiri merupakan tanda yang menunjukkan asal suatu barang atau produk yang karakteristiknya dipengaruhi faktor geografis, baik faktor alam, manusia, maupun kombinasi keduanya.

Pengembangan konsep tersebut diharapkan membuat wisatawan tidak sekadar datang menikmati kawasan Dieng, tetapi juga mengenal produk, budaya, sejarah, dan aktivitas masyarakat yang menjadi bagian dari identitas kawasan. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Api Lahap Warung Tembakau di Wonosari, Barang Dagangan Ikut Ludes

PDF 📄Kebakaran menghanguskan warung tembakau di Desa Sumber Kalong, Bondowoso, tanpa korban jiwa, sementara kerugian …

Krisis Air Bersih di Barsel, Tangki dan Sumur Bor Disiapkan

PDF 📄Pemkab Barsel menyiapkan pendataan terpadu, distribusi air bersih, pembangunan sumur bor, serta tambahan anggaran …

Beda Kebutuhan, Beda Penggunaan Dana Rp3,2 Juta per RT di Jombok

PDF 📄Dana Rp3,2 juta per RT melalui program Desa Mantra di Desa Jombok dimanfaatkan sesuai …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *