Minat Remaja Menurun, Tradisi Braen di Purbalingga Terancam Pudar

PURBALINGGA – Kesenian Braen di Desa Rajawana, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga kini menghadapi tantangan regenerasi akibat menurunnya minat generasi muda terhadap budaya lokal. Tradisi vokal bernuansa spiritual yang diwariskan sejak abad ke-15 itu perlahan mulai kehilangan penerus di tengah kuatnya pengaruh budaya global.

Braen merupakan kesenian tradisional yang dimainkan oleh perempuan dengan iringan rebana atau terbang serta lantunan syair doa dan pujian. Kesenian tersebut biasa dipentaskan saat perayaan Idulfitri, Iduladha, hajatan, hingga tradisi peringatan hari ke-1.000 kematian dan acara empat maupun tujuh bulanan kehamilan.

Tradisi itu bermula pada masa kepemimpinan Syeikh Mahdum Husen yang disebut mengalami konflik dengan Kerajaan Pajajaran. Dalam situasi tersebut, ibu dari Syeikh Mahdum Husen bernama Rubiyah Bekti mengajak para perempuan di Rajawana untuk memanjatkan doa keselamatan bersama. Sejak saat itu, Braen dipimpin oleh sosok perempuan yang menyandang gelar Rubiyah.

Rubiyah Sri Hutami selaku generasi ke-14 pemimpin Braen di Rajawana menegaskan kesenian tersebut merupakan warisan leluhur yang harus dijaga keberlangsungannya. Namun, ia mengakui minat remaja untuk belajar maupun menghadiri pertunjukan Braen semakin berkurang.

“Saya mohon jangan melihat musiknya, tapi lihat makna syairnya dan manfaatnya. Mari hadiri dan belajar bersama-sama,” pesan Rubiyah Sri Hutami kepada para generasi, sebagaimana dilansir Kumparan, Jumat (15/05/2026).

Saat ini, kelompok Braen di Rajawana memiliki sekitar 20 anggota yang mayoritas berasal dari kelompok usia dewasa hingga lanjut usia. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan kesenian tradisional tersebut apabila tidak ada regenerasi dalam waktu dekat.

Selain menjadi media spiritual, Braen juga dinilai memiliki fungsi sosial karena mampu mempererat hubungan antarmasyarakat melalui kegiatan berkumpul dan interaksi bersama saat pertunjukan berlangsung.

Berdasarkan hasil penelitian Dewi dan kawan-kawan pada 2024, minat remaja terhadap budaya luar masih lebih tinggi dibanding budaya lokal. Dari 33 responden yang diteliti, sebanyak 60,6 persen mengaku lebih menyukai budaya luar, sementara 39,4 persen memilih budaya lokal. Faktor modernitas, tren, hingga anggapan musik luar lebih menarik menjadi alasan dominan.

Melihat kondisi tersebut, pelestarian Braen dinilai perlu dilakukan melalui berbagai cara kreatif, seperti pemanfaatan media sosial, pengemasan pertunjukan yang lebih modern, hingga penyelenggaraan festival budaya yang dekat dengan kalangan muda. Pendidikan dan lingkungan keluarga juga dinilai penting dalam menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal sejak dini. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Pengajian Akbar hingga Wayang Kulit Meriahkan Ruwat Dusun Sumberjo

PDF 📄BANYUWANGI – Tradisi budaya dan kegiatan religi akan mewarnai Dusun Sumberjo, Desa Kepundungan, Kecamatan …

Warga Aelipo Rela Kehilangan Kebun Demi Jalan Baru TMMD

PDF 📄ENDE – Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 di Kabupaten Ende (Ende), Nusa …

Pekarangan Warga di Majene Disulap Jadi Lahan Hortikultura Produktif

PDF 📄MAJENE – Pemanfaatan lahan pekarangan warga di Desa Adolang Dhua, Kecamatan Pamboang, Kabupaten Majene, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *