BATANG – Sejumlah desa di Kabupaten Batang mulai menunjukkan keberhasilan dalam pengelolaan sampah mandiri melalui operasional Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R). Namun di tengah capaian tersebut, para pengelola sampah desa masih menantikan realisasi insentif atau reward finansial yang sebelumnya dijanjikan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang.
Keberhasilan pengelolaan sampah mandiri itu terlihat di Desa Kalipucang Wetan, Kecamatan Batang, serta beberapa wilayah di Kecamatan Reban, Limpung, dan Banyuputih. Desa-desa tersebut dinilai mampu mengurangi ketergantungan terhadap Tempat Pembuangan Akhir (TPA) melalui pengolahan sampah berbasis masyarakat.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Batang, Rusmanto, mengungkapkan rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah rumah tangga masih menjadi tantangan utama pengelolaan limbah di daerah tersebut.
“Kelemahan kita di Batang ini, kesadaran masyarakat untuk melakukan pilah sampah masih rendah,” ungkap Rusmanto saat ditemui di kantornya, Kamis (07/05/2026), sebagaimana dilansir Desa Merdeka, Jumat, (08/05/2026).
Berdasarkan data DLH Batang, sekitar 60 persen sampah yang masuk ke TPA merupakan limbah organik yang sebenarnya dapat diolah langsung di tingkat desa apabila sistem pemilahan berjalan optimal.
Meski demikian, sejumlah desa dinilai berhasil menjadi percontohan pengelolaan sampah mandiri melalui TPS3R. Program tersebut dianggap mampu menciptakan lingkungan yang lebih bersih sekaligus membuka peluang ekonomi berbasis pengolahan sampah.
Rusmanto berharap rencana pemberian reward dari Bupati Batang dapat segera direalisasikan untuk memotivasi desa lain mengembangkan sistem pengelolaan sampah secara mandiri dan berkelanjutan.
“Mudah-mudahan nanti dengan adanya reward dari Pak Bupati ini bisa memicu teman-teman dari desa untuk bisa melakukan pengelolaan sampah secara mandiri,” pungkas Rusmanto.
Pemkab Batang dinilai perlu memperkuat dukungan kebijakan dan bantuan finansial agar program pengelolaan sampah berbasis desa dapat berkembang lebih luas. Jika konsisten dijalankan, sistem tersebut berpotensi menekan volume sampah sekaligus menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat desa. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara